Bripda Taufiq, Polisi Termiskin Tinggal di Kandang Sapi

Bripda Taufiq, Polisi Termiskin Tinggal di Kandang Sapi

Bripda M Taufik Hidayat, pemuda kelahiran 20 Maret 1995 yang kini menjalani karir di Direktorat Sabhara Polda DIY tengah menjadi buah bibir masyarakat. Dibalik seragam yang dikenakannya, ternyata tidak semua anggota polisi hidup berkecukupan. Hal tersebut dialami sendiri oleh Bripda Taufiq.
Banyak orang tidak menyangka bagaimana mirisnya kehidupan anggota polri yang masuk tahun 2014 itu. Karena faktor kemiskinan, Bripda Taufiq bersama keluarganya harus tinggal di bangunan bekas kandang sapi.
Pahit getir hidup yang dialami Bripda Taufiq bermula ketika dirinya harus menerima kenyataan pahit saat duduk di bangku SMP. Saat itu kedua orangtuanya bercerai. Rumah satu-satunya pun dijual oleh sang ibu.
Alahasil, Bripda Taufiq bersama ayah dan ketiga adiknya harus pindah rumah. Lantaran uang tidak mencukupi untuk membeli rumah, Triyanto selaku ayah memutuskan untuk mengontrak bekas kandang sapi di Dusun Jongke Tengah. Bekas kandang sapi tersebut kemudian dialihfungsikan sebagai tempat tinggal.
Ketika lulus dari sekolah menengah kejuruan (SMK), anak pertama dari empat bersaudara ini pun harus menahan cita-citanya mendaftar menjadi anggota kepolisian. Kebutuhan ekonomi memaksanya untuk bekerja di bekas sekolahnya, SMK 1 Seyegan, sebagai pembina Pramuka merangkap asisten perpustakaan.
Pada awal Desember 2014 lalu, Taufik memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaan di SMK 1 Seyegan. Ia membulatkan tekadnya untuk mendaftar sebagai calon anggota polisi di Mapolda DIY. Berkat kerja keras dan doa sang ayah, pada akhir Desember 2014 Taufik lulus dari tes Calon Anggota Polisi dan mengikuti pendidikan di Sekolah Polisi Negara Selopamioro, Imogiri, Bantul.
Setelah lulus dengan pangkat Bripda, Taufiq menjalani karier pertamanya di Direktorat Sabhara Polda DIY. Namun, lagi-lagi karena tidak punya biaya dan kendaraan, setiap pagi saat berangkat dinas, Bripda M Taufik Hidayat harus rela berjalan kaki sekitar 7 kilometer dari rumahnya di Dusun Jongke Tengah RT 04 RW 23 Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, menuju Mapolda DIY.
Diakuinya, meski telah bangun subuh, tetapi dirinya sering terlambat masuk dinas. Keterlambatan itulah yang menuai kecurigaan dari atasannya. Setelah memberikan penjelasan dan mengecek kebenaran itu, atasan Bripda Taufik lantas meminjamkan motor pribadinya.
Melihat keadaan itu, di gaji pertamanya menjadi anggota kepolisian, Taufiq berencana akan menggunakannya untuk mengontrak rumah yang lebih layak. Ini dilakukan demi ayah dan ketiga adiknya yang masih kecil-kecil.
“Nanti kalau gajian pertama, saya ingin gunakan untuk mengontrak rumah. Kasihan bapak dan adik-adik kalau tetap tinggal di sana,” tuturnya.
Kini nama Taufiq menjadi perbincangan setelah kisah perjuangan hidupnya untuk menjadi anggota kepolisian gencar dilansir media. Berbagai kalanganpun turut memperbincangkan namanya, tidak tanggung-tanggung Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) juga termasuk salah satu diantaranya.
Seperti yang diberitakan berbagai media, Ahok dilaporkan mengaku turut prihatin dengan kehidupan yang dialami Bripda Taufik. Atas keprihatinan tersebut, Ahok juga  berniat menelepon Taufiq.
“Saya lihat berita online dan akhirnya minta nomor teleponnya Bripda Taufiq. Kan kasihan banget tinggal di kandang sapi begitu,” kata kepada wartawan.
Ahok juga berniat membelikan sepeda motor kepada Bripda Taufiq yang setiap hari berjalan kaki ke markas Sabhara Polda DIY yang berjarak tujuh kilometer dari rumahnya tersebut.