Raymond Sapoen Keturunan Jawa Capres Suriname

Raymond Sapoen Keturunan Jawa Capres Suriname
Nama Raymond Sapoen, dalam beberapa hari terakhir tengah menjadi pembicaraan hangat di sosial media. Pasalnya, seorang capres (calon presiden) negara Suriname yang terdapat di Benua Amerika tersebut masih memiliki darah keturunan Jawa, tepatnya Bayumas, Jawa Tengah.

Pada awalnya, informasi terkait Raymond Sapoen yang asal-usulnya disebut berasal dari Bayumas dilontarkan oleh seorang warga keturunan Belanda yang saat ini bermukim di Desa Karangbanjar, Purbalingga yang bernama Arie Grobbee. 

Seperti yang dikutip dari blog kluban.net,  Arie menuturkan, kakek buyut Raymond diduga berasal dari Desa Kading di Bayumas, Jawa Tengah.

Dugaan Arie bukan tanpa alasan, menurutnya hal tersebut dapat dia ketahui setelah menghubungi seorang temannya di Belanda yang bernama August de Man. Arie tertarik bertanya kepada August lantaran pada nama Raymond ada kata Sapoen beberapa waktu silam.

“Teman saya memberikan data mengenai siapa jati diri Sapoen beserta fotonya. Saya kaget, sebab dari data arsip yang dimiliki Pemerintah Belanda tersebut, Sapoen berasal dari Desa Kading, Bayumas. Data tersebut menyebutkan bahwa Sapoen berangkat dari Batavia pada tahun ke 1928 ke Suriname. Waktu itu, tempat yang dituju adalah Paramaribo” jelas Arie.


Melalui data di situs Arsip Nasional Belanda tersebut, ditemukan nama Sapoen dalam daftar warga Hindia Belanda yang dikirim pemerintah kolonial Belanda ke Suriname. Dalam daftar itu disebutkan, Sapoen yang merupakan kakek buyut dari Raymond Sapoen diberangkatkan ke Paramaribo pada 30 Juni 1928 menggunakan kapal bernama Merauke II. Begitu pula, asal Sapoen dari Desa Kanding, Bayumas, juga disebutkan di situs Arsip Nasional Belanda.

Setelah mendapatkan data tersebut, Arie kemudian melakukan penelusuran langsung ke Desa Kading, Kecamatan Bayumas. Disana dia menemui beberapa warga dan termasuk kepada desa bernama Awal Nurhandoko, sekaligus melakukan wawancara langsung terkait dugaan Raymond Sapoen yang berasal dari desa tersebut.

Menurut kepala desa Kading, data yang dibawa Arie memang menguatkan cerita bahwa kakek-kakek mereka dari desa Kading pernah ada beberapa orang yang pergi merantau. Kemungkinan salah satunya adalah Sapoen, meski demikian pada awalnya dia tidak mau langsung memastikan bahwa Sapoen adalah warga desa Kading. Sebab, di Desa Kading, tidak hanya satu Sapoen yang pernah merantau tanpa pernah kembali, tapi masih ada nama Sapoen lainnya.

“Data tersebut memang menguatkan cerita kakek-kakek kami di sini bahwa banyak warga Kanding yang pergi merantau. Kemungkinan salah satunya adalah Sapoen,” jelas Kepala Desa Kanding, Awal Nurhandoko.

Meski demikian, Awal Nurhandoko juga mengakui, bahwa setelah mendapatkan informasi mengenai nama Sapoen, dia juga melakukan pencarian di desa itu.

“Setelah ada informasi mengenai Sapoen, saya juga melakukan pencarian di desa ini. Ternyata ada nama Sapoen lainnya. Tetapi, itu sangat sulit dicari, sebab kerabatnya sudah tidak ada semuanya,” katanya.

Bila yang menjadi patokan merupakan kemiripan wajah Raymond Sapoen dengan kerabat Sapoen yang ada di desa Kading, maka ditemukan salah satu keluarga, yakni keluarga bernama Radam yang memiliki kemiripan dengan calon presiden Suriname tersebut. Keluarga Radam yang dimaksud adalah Parsono yang nyaris sangat mirip dengan Rymond Sapoen.

“Lihat saja Parsono. Wajahnya sangat mirip dengan Raymond Sapoen. Dia juga masih kerabat dari Sapoen yang pergi merantau tersebut,” ungkapnya.

Ketika Parsono yang saat ini telah berusia 43 tahun ditanyakan terkait Raymond Sapoen, dia mengaku tidak terlalu mengetahui tentang silsilah keluarganya. Hanya saja menurutnya, kakeknya dan orang tuanya memang pernah bercerita mengenai Sapoen.

“Saya memang tidak terlalu mengetahui silsilah keluarga, meski demikian kakek dan ayah saya pernah bercerita, tetapi waktu itu tidak terlalu saya perhatikan,” katanya.

Saat diminta komentarnya mengenai foto Raymond Sapoen, Parsono tersenyum. Dia juga merasa kaget, ketika memiliki wajah yang mirip dengan seorang calon presiden Suriname.

“Kok bisa ya mirip dengan wajah saya? Saya juga heran. Bahkan, kaget, ketika mengetahui beliau sekarang jadi capres di Suriname. Itu yang kian membuat terkejut. Barulah setelah ada informasi ini, saya mengingat-ingat cerita yang pernah disampaikan kakek dan bapak saya,” ujarnya.

Namun demikian, Parsono tak ingin terlau gegabah mengklaim kalau Raymond Sapoen merupakan kerabatnya. Meski demikian, dia dengan tulus mendoakan Raymond menjadi presiden di Suriname.

“Saya tidak inginlah mengaku-aku. Makanya, saya tidak terlalu banyak bicara sebetulnya. Kalau wajah mirip, sih iya. Namun, saya tidak ingin langsung menyatakan kalau Raymond Sapoen kerabat saya. Malu lah kalau memang tidak benar. Tetapi, secara tulus, entah itu kerabat saya atau bukan, saya juga mendoakan supaya Pak Raymond Sapoen jadi presiden. Siapa tahu benar, kakeknya dia asli dari Kanding,” katanya

Sementara itu, calon presiden Suriname Raymond Sapoen ketika di wawancarai BBC juga mengaku bahwa dirinya memang benar berdarah Bayumas, dan merupakan keturunan generasi ketiga di Paramaribo, Suriname.

“Saya adalah generasi ketiga. Saya punya catatan tentang leluhur saya, namun yang pasti adalah mereka berasal dari Banyumas,” ujar Raymond seperti yang dikutip Sipayo.com dari BBC, Sabtu (7/2/2015).

Meski demikian, Raymond tidak terlalu tahu persis apakah dia masih memiliki saudara di Bayumas, dengan demikian katanya, dirinya akan melalukan riset lagi, agar data tentang keluarganya di Bayumas dikemudian hari dapat diketahui dengan jelas.

“Saya tidak tahu persis apakah masih ada saudara, saya tidak punya kontak, saya perlu riset lagi,” tambah Raymond dalam campuran bahasa Jawa dan Inggris.

Terkait pencalonan dirinya sebagai presiden Suriname, Raymond juga telah memastikan kebenaran informasi pencalonan dirinya tersebut untuk menuju kursi orang nomor 1 di Suriname, negara di belahan selatan Benua Amerika yang dulu dikenal dengan nama Guyana Belanda.

“Anak saya tiga, saya mencalonkan diri jadi presiden dari Partai Pertjaja Luhur,” kata Raymond.

Meski sudah berada di Suriname selama tiga generasi, Raymond mengaku tetap menggunakan bahasa Jawa dengan orang tua dan juga dengan anak-anaknya.

“Kami tidak menggunakan bahasa Indonesia, namun bahasa Jawa. Orang tua saya bicara bahasa Jawa. Anak-anak saya dalam pendidikannya menggunakan bahasa Belanda, namun di rumah kami berbahasa Jawa. Hal ini kami lakukan, sebab ini merupakan budaya, kebiasaan kami, dan kami harus merangkulnya karena bagian identitas kami” katanya.

Seperti diketahui, pencalonan Raymond Sapoen menjadi capres di Suriname bukan saja menghebohkan di ranah media sosial, namun kabar ini juga kini tengah heboh di Kecamatan Bayumas, khususnya di Kading. Kehebohan ini semakin ramai, ketika berita tentang Raymond semakin mengemuka di media massa.

Warga Kading juga berharap berharap, bahwa kakek Raymond memang benar-benar berasal dari desa mereka.  Harapan lainnya adalah, agar Raymond memang benar-benar menjadi presiden Suriname. Karena jika benar, tentunya hal tersebut sangat membanggakan keturunan dari Kanding, Banyumas menjadi seorang presiden di Suriname.