Gebyar Karo Festival, dari Jong Labar hingga Aura Kasih

Gebyar Karo Festival, dari Jong Labar hingga Aura Kasih
Oleh: Averiana br Barus
Jika kita bertanya, event besar apa yang pernah diadakan orang Karo, jawabannya banyak. Mulai dari acara MASMAT dari Yayasan Bengkel Seni beberapa tahun lalu yang mendatangkan presiden ketika itu SBY, hingga natal GBKP yang diadakan meriah di JCC dan beberapa acara lainnya. Namun itu diadakan di Ibu Kota yang notabene tidak semua orang Karo sanggup melihatnya.

Jika kita bertanya, selebrasi besar apa yang pernah dilangsungkan orang Karo di Sumatera Utara ini, maka jawabannya adalah Karo Festival 2015. Itu tal terdustakan. Digelar di Lapangan Merdeka, yang merupakan titik 0, kota Medan. Selain jantung kota medan, lapangan ini juga lapangan yang bersejarah dan menjadi ikon Medan.

Ribuan orang, (tidak hanya orang karo) berkumpul teratur di lapangan merdeka. Harus digarisbawahi, tidak ada keributan sedikitpun di kalangan hadirin. Itu prestasi luar biasa. Disuruh duduk, penonton duduk, geser penonton geser. Sekalipun sound Aura Kasih betul-betul kacau, entah salah dimana, penonton tenang saja. Gak ada yang teriak turun, apalagi lempar sendal dan botol. Ini membanggakan. Paling tidak, orang karo bisa menghargai.

Dari atas panggung, penonton tampak teratur, walau sebagian nontil, motret, itu hanya bunga-bunga cantik dari pertunjukan Karo Banget ini.

Artis yang ditampilkan melalui proses latihan yang ketat bersama Anton Sitepu. Musisi-musisi muda seperti Yanto Djast Junior Tarigan, Alex Ginting, John Tarigan, Jimmy Andrico Sebayang, Maharani br Tarigan, bang Fauzi Ginting, rela tiap latihan dan gladi resik bangun lebih pagi selama acara Karo Festival. Bermain di panggung sebesar itu, beradaptasi dengan perubahan-perubahan rundown, berdamai dengan situasi di lapangan yang tidak selalu mengenakkan, mereka jagonya.

Musik yang kalian dengar selama tiga hari itu mereka suguhkan dengan sukacita dari tradisional sampai lagu pop mengiringi musisi-musisi papan atas seperti bik Tiofanta Pinem, bik Santa Hoki Ginting, bik Juliana Tarigan, mama Luther Tarigan. Enak didengar, enak digoyang, enak dilandekken.

Lagu jenis apa yang tidak dimainkan, tradisional, kontemporer, kolaborasi, dangdut, jazz, semua ada, dan lebih berwarna karena andil teman-teman etnomusikologi USU, Simalem Art, Siroga, penampilan sahabat-sahabat dari Lingga, dengan gendang dan tarinya, ndikkar-nya, tari Tungkat-nya, sampai Gundala-gundala-nya. Semua ditampilkan. Apa lagi yang kurang?

Di bawah panggung, Karo kurang Karo apa? Semua yang berkenaan dengan Karo ditampilkan, makanan khas Karo dari jong labar, cimpa, cimpa tuang, lau pola, gula tualah, nurung kerah, cipera, sayur mayur dan buah-buahan, jus segala jus, bisa anda cicipi seluruhnya hanya dalam satu tempat. Kade-kadenta dari Pasar Induk Lau Cih sudah repot-repot mempersiapkannya seperti IndRa Spy, Siska Laura, Vemina Ginting, dan lainnya.

Ada juga uis Karo dan kerajinan Karo juga alat musik Karo yang disuguhkan dari berbagai perajin dan penggiat industri kreatif Karo seperti karang taruna Kabanjahe, Uwish Details, Amsal Christy Sitepu, Elias Pranata Poerba. Sampai-sampai, Bank Sumut membawa serta penenun Beka Buluh untuk disaksikan langsung bertenun, mau main catur Karo, kawan-kawan dari Percaka seperti Alexander Firdaust Meliala dan kawan-kawan menyediakan papan caturnya untuk hadirin, serta masih banyak suguhan lainnya. Jadi semacam One Stop Karo. Hanya di Karo Festival, Anda semua bisa menjadi saksi, betapa kayanya Kalak Karo.

Belum lagi betapa cantik-cantiknya aron dengan tudung dan kebayanya, mehamat landekna, sikap peruisna, sada endekna menjadi pemandangan yang indah dan menjadi magnet tersediri bagi pengunjung Lapangan Merdeka. Sikap pengende-endei perkolong-perkolongta Anita Sembiring, dan juga pak Astron.

Panggungnya sempurna (lanai lit man pandangen) kalau kata kak Lenny Yunita Manalu yang sangat cinta budaya, panggung Karo festival 2015 JUARA. Atapnya dengan ayo-ayo rumah Si Waluh Jabu dan warna yang keren, backdrop-nya Beka Buluh, lightingnya sexy membuat siapapun ingin berfoto di depannya. Bagaimanapun ini kerja keras panitia dan Nusantara enterprise Marco Bangun beserta timnya termasuk ribetnya mengatur rundown acara dan menyesuaikan spontanitas-spontanitas yang terjadi saat acara berlangsung selama tiga hari.

Kemasannya semakin megah dengan kehadiran orang-orang penting republik ini seperti mentri kabinet Kerja Jokowi, Yasona Laoly, MenkumHam, Walikota Medan, Wakil Ketua DPRD SU, dan pejabat lainnya.

Moment merinding, ketika art perform refleksi 5 tahun sinabung. Surdam memenuhi atmosfer membuat desauan angin di sekitar lapangan merdeka lebih dingin, tarian yang sungguh menakjubkan dan paduan musik tradisional yang indah menujuk jantung.

Lalu, ada Aura Kasih dan 3 kucing. Di sini mungkin Anda bertanya kenapa. Kenapa harus mereka, bukan ini atau itu? Ini hanya pemikiran saya, yang mungkin belum tentu benar. Namun jika Anda setuju, boleh dibagi. Tadinya yang dijadwalkan hadir adalah Syahrini, namun entah karena apa, yang datang Aura Kasih. Dari kalangan penonton banyak yang bersungut-sungut, kenapa sih harus mereka? Gak nyambung. Gak asik, bagah ndai je man tontonen, dan segala macam umpatan. Apalagi, Aura Kasih yang penampilannya tidak maksimal dan kebanyakan bicara daripada nyanyi di panggung.

Saya mau analogikan kehadiran kedua biduan nasional itu dengan musik. Kita pasti setuju, jika gendang lima sendalanen itu indah bunyinya, komposisinya, dan memiliki nilai budaya tersendiri bagi kita Kalak Karo. Lalu apakah orang yang bukan Karo menganggapnya demikian?

Atas asumsi itu, kita mulai mengkolaborasi musik tradisional Karo dengan gitar, keyboard, bahkan saxophone, dengan harapan musik karo lebih indah didengar dan lebih berterima bagi banyak orang, tidak hanya orang Karo. Maka jadilah lagu Piso Surit dengan aransemen yang baru yang bisa kita dengar diberbagai pelosok nusantara. Kawan-kawan Endakustik seperti Junianto Meliala, Untung Purba, dan pak Ramona Purba menyuguhkan musik akustik yang indah, ada juga musisi muda seperti Pujand Plato Benhard Ginting dan Fitra Chord Barus yang sudah mencobanya. Tidakkah pendengar musik mereka lebih luas?

Sekali lagi ini hanya asumsi saya. Teman-teman sekalian boleh tidak setuju.

Lalu 3 kucing dan Aura kasih, sekalian memberi warna pesta musik Karo, membawa event besar kita ini menjadi selevel dengan event nasional dengan kehadiran artis ibukota ini yang secara tidak langsung juga mengundang orang yang bukan Karo, wartawan, buzzer, dan pelaku media sosial lainnya hadir membuat berita.

Ini berkaitan erat dengan tempat diadakannya Karo Festival ini. Bukankah tujuan kita untuk menyatakan diri kepada dunia bahwa karo itu besar dan eksis? Melalui apa, acara besar dan diberitakan media, termasuk diberitakan oleh hadirin melalui selfie dan foto-foto di wall Facebook, Twitter, dan lainnya.

Apa yang saya lihat di Karo Festival 27-29 Agustus lalu adalah satu sinergi kuat untuk membuat Karo lebih kuat dan besar dari berbagai lini. Atas koreksi dan kritik, sangat wajar, mengingat ini event pertama yang bisa diperbaiki melalui event-event serupa setelahnya.

Dari banyak kritik, lebih banyak yang berharap event ini menjadi event tahunan dan digelar lebih meriah.

Di atas segalanya, salut untuk panitia pelaksana Setia Pandia dan timnya, dan HMKI yang sudah bekerja keras membuat panggung Karo festival jadi bernyawa. Melalui tangan dingin mereka mengumpulkan dana, panggung bisa berdiri megah, lampu bisa menyala, dan sound puluhan ribu watt mendentum menghantam jantung hadirin, suara-suara indah mengalun.

Hitung-hitungan sederhana saja, pesta itu membutuhkan dana ratusan juta rupiah. Setiap kita mungkin pernah bergabung dalam kepanitiaan kecil hingga besar. Kita bisa rasakan betapa repotnya mengumpulkan dana sampai kadang emosi tak terkendali, pertikaian, hingga la sianggkan sering terjadi.

Itu tak tampak sama sekali, kita penonton, hanya melihat pesta besar dan Karo yang besar.

Untuk siapapun yang rudah repot dan capek demi menyuguhkan pesta seni besar yang dinamai Karo Festival 2015 itu, saya sebagai kalak Karo mengucapkan TERIMAKASIH, Bujur melala. Sehat-sehat kam, cawir kam metua, simpar rezekindu, ras dahinndu e mbelin gunana man rayat Karo sirulo.