Cerpen: Gendang Guro-guro Aron

Cerpen: Gendang Guro-guro Aron
Oleh: Haravikana Ansita Kaban

“Ziva…! Itu datang kawanndu, buka dulu pintunya,” terdengar suara Ibunya dari dapur memanggil Ziva.

Ziva yang saat itu tengah asyik bermain laptop di kamar pun segera membukakan pintu bagi teman-temannya.

“Oh iya, ngapain kalian kesini Nak? Ada perlu?” Tanya Ziva kepada teman-temannya.

“Cuma mau menginformasikan kalo mulai besok kita latihan nari untuk gendang guro-guro aron yang diadakan dua minggu lagi Va, jangan lupa kam datang ya? Berhubung kam di sini, jadi bisa kam ikut ambil bagian,” jawab teman-teman Ziva.

Ziva terdiam sejenak dan kembali berkata “Hmm..ga tau aku tariannya lah nak. Lagian kalian kan tahu kalo aku ga pernah ikut acara gitu-gituan karena aku tinggal jauh,” katanya.


Teman-temannya pun sedikit kesal mendengar perkataan Ziva. Namun dengan sabar mereka berkata “Makanya kita latihan Ziva! Bukan cuma kam aja yang ga tau tariannya, banyak kok yang ga tau! Tapi mereka mau berusaha! Jadi,besok kam harus ikut latihannya Okey! Kalo gitu kami pulang ya! Soalnya masih ada urusan lain,” temannya pun segera meninggalkan Ziva.

Ziva adalah seorang gadis yang sangat pintar, ia mendapat beasiswa ke Australia. Sudah tiga tahun lamanya ia disana menjalani studinya. Kehidupan Ziva bisa dikatakan lumayan mewah. Ayah Ziva adalah kepala desa di salah satu desa di Kabupaten Karo dan ibunya adalah seorang PNS.

Ziva gadis yang sangat ramah, namun demikian dia tidak pernah ikut dalam acara yang diadakan di Desanya karena kesibukan studinya. Oleh karena itu, hingga sekarang ia tidak pernah merasakan bagaimana indahnya ikut mengambil bagian dalam gendang guro-guro aron (salah satu acara yang kerap diadakan oleh muda-mudi di Taneh Karo).


*** 
Hari ini mereka mulai latihan menari di Jambur. Sejak pukul 9 pagi, Ziva dan teman-temannya telah berkumpul disana. Mereka membentuk fomasi dan mulai menari. Namun, Ziva hanya terdiam karena bingung dengan tarian Karo yang dibuat temannya.

Tiba-tiba salah seorang temannya menegur Ziva “Kok diam aja kam Va? Teman-teman yang lain kan udah nari, jadi kam nari jugalah. Ikuti saja dulu gerakan kami, nanti juga kam akan jadi tau kok,” ujarnya.

“Bingung aku dengan gerakan yang kelian buat nak. susah kali pun tariannya. Tapi ya sudah deh, ku ikuti aja kalian pelan-pelan, nanti juga bisa kok aku,” jawab Ziva dengan nada lesu.

Akhirnya Ziva pun mulai mengikuti teman-temannya menari. Sementara dari sudut Jambur, Revin tampak memperhatikan Ziva, sebab ia heran mengapa Ziva tidak tahu menari.

Revin selama ini juga tinggal di Jakarta. Namun, ia selalu ikut dalam setiap acara Karo yang diadakan di sana, jadi dengan demikian ia tetap mengerti tata cara menari tarian Karo. Revin juga tidak begitu kenal dengan Ziva, sebab Ziva sendiri jarang keluar rumah selama berada di desa.

Setelah selesai latihan, dengan ramah Revin bertanya kepada Ziva “Dek,kok kaku kam narinya? Apa sebelumnya ga pernah nari?”

“Memang ga tau aku nari bang, sebab baru pertama ini aku ikut. Lagian kan di tempatku kuliah tak ada belajar tarian Karo. Ini aja karna di paksa teman-teman kita itulah makanya aku mau ikut latihan,” jawab Ziva dengan malu.

“Ooooo… Kalo gitu jangan malas kam latihan ya dek. Malu lo kalo gadis Karo ga tau nari. Kita harus bisa mempertahankan budaya kita,” tutur Revin.

“Iya bang.. Kalo gitu Ziva pulang duluan ya bang. Lagian udah jam 3 sore. Nanti malam kalian singgahi aku buat latihan lagi ya,” jawab Ziva sambil berlalu meninggalkan Revin di Jambur.

Sesampainya di rumah, Ziva langsung mandi dan setelah makan malam ia bertanya kepada Ibunya “Ma, apa kin kegunaan gendang guro-guro aron itu? kok muda-mudi disini ikut semua nari buat acara gitu? Bahkan aku pun dipaksa ikut nari.” Tanya Ziva.

Ibunya tersenyum dan menjelaskan kepada Ziva bahwa gendang guro-guro aron itu adalah sebuah acara yang diadakan oleh masyarakat Karo. Acara tersebut merupakan salah satu budaya Karo yang harus tetap dijaga dan dilestarikan.

“Muda-mudi ikut menari agar mereka tidak lupa akan budaya mereka. Selain itu acara ini juga diadakan hanya sekali dalam setahun, jadi sayang dong kalo tidak ikut ambil bagian. Makanya kam juga harus ikut ambil bagian, agar kam juga tidak lupa dengan budaya sendiri,” ujar ibunya menjalaskan kepada Ziva.

Ziva pun hanya terdiam mendengar penjelasan ibunya. Dengan perasaan malu Ziva berkata “Iya ma, Ziva ikut kok ambil bagian tahun ini, lagipula Ziva kan sebulan lagi baru pulang ke Australia, jadi masih sempat ikut acara itu ma,” ujarnya.

***

Malam harinya, saat Ziva juga tengah sedang asik berbincang dengan ibunya, teman-temannya datang kerumah dan mengajak Ziva untuk kembali latihan di Jambur. Ziva pun dengan senang hati bergabung dengan temannya dan berpamitan kepada Ibunya.

Sampai di Jambur mereka berlatih dengan sungguh-sungguh dan Ziva berpasangan dengan Revin. Ziva sedikit malu melihat Revin, namun Revin hanya tersenyum-senyum melihat tingkah Ziva.

Latihan pertama selesai dan mereka beristirahat sejenak. Saat beristirahat, Revin mengajak Ziva untuk berkenalan karena tadi siang belum sempat. Revin mengulurkan tangannya, “kenalin dek, nama abang Revin Tarigan! Oh ya, siapa nama ndu dek? Teman-teman kita itu kok manggil kam Va? Beru apa kam?” Tanyanya.

Mendengar hal itu Ziva menjadi salah tingkah, dengan malu-malu ia menjawab “Ziva namaku bang, orang itu memang suka manggil aku Va. Aku beru Karo bang,” jawabnya.

Melihat keduanya sedang asyik berkenalan, salah seorang temannya tertawa dan akhirnya keduanya jadi salah tingkah. Ziva pun langsung mengalihkan pembicaraan dan mengajak teman-temannya kembali latihan menari.

Saat latihan, Ziva sangat sungguh-sungguh dan hanya fokus pada menari. Di sisi lain tanpa Ziva ketahui, Revin memperhatikan keseriusannya dalam menari.

Berhubung latihan malam ini telah selesai, mereka pulang ke rumah masing-masing, karena kebetulan rumah mereka dekat dengan Jambur, jadi tidak perlu memakai kendaraan.

Saat dalam perjalanan pulang ke rumah, Ziva bertanya kepada teman-temannya apa saja kegiatan besok. Berhubung Revin adalah ketua muda-mudi, dengan cepat ia langsung menjawab “Besok kita latihan sebentar di Jambur dek, siangnya kita kebersihan Jambur dan malamnya kita kembali latihan. Ada yang mau ditanyakan lagi? Biar abang jawab?” Kata Revin sambil tertawa.

Ziva hanya mengangguk sambil tersenyum-senyum dan berjalan menuju rumah.

***

Keesokan harinya, mereka kembali latihan sebentar dan siangnya mereka membersihkan Jambur. Karena Jambur sudah bersih, mereka kembali ke rumah untuk bersiap-siap agar nanti malam kembali latihan.

Malam ini Ziva tidak dapat latihan karena kecapean. Ia beristirahat di rumah dan hanya teman-temannya yg latihan. Berhubung Ziva tidak latihan, Revin juga hanya memperhatikan temannya sebab ia tidak memiliki pasangan menari.

Acara gendang guro-guro aron pun tinggal dua hari lagi. Berhubung Ziva telah pulih akhirnya ia kembali gabung untuk latihan dengan temannya. Di akhir latihan, mereka menyempatkan diri untuk menghias Jambur agar terlihat indah saat acara tiba nantinya.

***

Hari ini acara gendang guro-guro aron pun tiba. Mereka semua telah berpakaian rapi. Perempuan mengenakan tudung, uis nipes, kebaya, juga mengenakan sarung. Tak lupa semua aron perempuan juga sudah terlihat berhias dengan cantik, sementara aron pria tampak juga mengenakan bulang-bulang, kain beka buluh, dan juga sarung.

Saat acara, mereka menampilkan yang terbaik di depan masyarakat yang menontong di Jambur. Selain guro-guro aron, ada juga penyanyi Karo dan perkolong-kolong yang turut memeriahkan acara ini.

Ziva tidak pernah menyangka bahwa ia akan turut serta mengambil bagian dalam acara seperti ini. Ia berjanji kepada Ibu dan teman-temannya bahwa tahun depan ia akan ikut lagi dalam acara guro-guro aron. Selain itu ia juga berterima kasih kepada teman-temannya yang dengan sabar telah mengajarinya menari Karo.

Bagi Ziva, ini adalah pengalaman yang tidak pernah bisa ia lupakan. Bukan cuma itu saja, pada saat acara gendang guro-guro aron, Ziva juga telah mulai menjalin hubungan dengan Revin dan hubungan itu akan tetap mereka jaga meski jarak akan memisahkan.

Selesai acara gendang, mereka semua berkumpul untuk mengadakan temu pisah. Ziva pun sekalian berpamitan kepada temannya untuk kembali melanjutkan studi ke Australia.

Dengan hati yang tidak rela, temannya mengikhlaskan Ziva kembali ke Autralia. Karena mereka tahu bahwa tahun depan akan bertemu kembali dengan gadis cantik anak kepada desa itu.

Pesan: Nah,tentu seru bukan ikut ambil bagian dalam acara gendang guro-guro aron? Tentunya, menjadi kebanggaan bisa di tonton orang banyak. Begitupula janganlah pernah lupakan budaya kita sendiri, meski sejauh apa pun kita pergi dan dimana pun kita berada. Sebab sebagai generasi muda Karo, kita patut malu ketika tidak mengerti budaya Karo itu sendiri.