Pastor Leo Joosten Ginting Raih Penghargaan Sastra Rancage

Pastor Leo Joosten Ginting Raih Penghargaan Sastra Rancage
Laporan: Betlehem Ketaren, Berastagi 

Tahun ini nampaknya menjadi tahun bersejarah bagi masyarakat Sumatera Utara, karena sejak berdiri 27 tahun yang lalu, yayasan tersebut, telah 27 kali memberikan penghargaan kepada satrawan Sunda, 22 kali kepada sastrawan Jawa, 19 kali kepada satrawan Bali, dan baru kali ini menganugerahkan piagam penghargaan kepada sastrawan atau orang yang berjasa mengembangkan sastera kepada orang Sumatera Utara.

Orang yang beruntung mendapatkan penghargaan tersebut adalah Leonardus Egidius Joosten, yang juga dikenal sebagai RP. Leo Joosten Ginting OFMCap, merupakan salah satu dari sembilan penerima penghargaan dari Yayasan Kebudayaan Rancage pada tahun 2015 ini.

RP. Leo Joosten Ginting, OFMCap merupakan seorang pastor kelahiran Nederwetten, Belanda, 9 September 1942 yang telah berkewarganegaran Indonesia dan oleh masyarakat Karo di desa Suka, Tanah Karo, pada tahun 1999, secara adat telah ditabalkan bermarga Ginting Suka bere-bere Sitepu. Beliau merupakan ketua Lembaga Pusaka Karo, pendiri Museum Pusaka Karo.

Penganugerahan hadiah ini dilaksanakan pada, Sabtu (22/8/2015) di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut Nomor 2, Kota Bandung. Namun karena keesokan harinya, tepatnya pada hari Minggu (23/8/2015), dimana Pastor Leo Joosten berangkat cuti ke Belanda, sementara untuk mengambil hadiah itu juga harus menempuh perjalanan panjang, maka penerimaan hadiah tersebut dengan pembicaraan bersama, diwakilkannya kepada  RP. Moses Elias Situmorang OFMCap.

Untuk acara syukuran atas penghargaan sastra rancage yang diperoleh Pastor Leo Joosten dilaksanakan pada, Minggu (23/8/2015) malam, bertempat di pastoran St. Fransiskus Asisi Berastagi. Dalam acara itu berkumpul seratusan perwakilan-perwakilan umat katolik se Taneh Karo, juga dihadiri RP. Ignasius Simbolon, OFMCap. (Vikep St. Yakobus Rasul Kabanjahe), RD. Sesarius Mau, RD. Joddy Morison Turnip dan RD. Silvester Asa Marlin dari paroki St. Petrus-Paulus Kabanjahe, RP. Antonius Siregar, OFMCap dari paroki St. Fransiskus Asisi Tigabinanga, RP. Liberius Sihombing, OFMCap dan RP. Ramses Nainggolan, OFMCap dari Kuasiparoki St. Monika Tiganderket, keempatnya pastor dari Biara Kapusin Sapo Malem, suster-suster SFD Kabanjahe, suster-suster FSE Samadi Maranatha Berastagi, anggota-anggota DPPH dan para porhanger se-paroki St. Fransikus Berastagi serta tamu undangan lainnya.

“Penghargaan ini adalah penghargaan tingkat nasional. Pada penganugerahan piagam kemarin, hadir Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Yuddy Chrisnandi, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Walikota Bandung Ridwan Kamil, Ery Riyana Hardjapamekas, dan Ajip Rosidi selaku penggagas Hadiah Sastera Rancage. Dan hadiah Sastra Rancage ini adalah penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap telah berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah di Indonesia, dan pastor Leo Joosten Ginting masuk dalam orang yang berjasa mengembangkan dan melestarikan kebudayaan”, papar RP. Moses Elias Situmorang, OFM Cap, di awal acara
penyampaian piagam penghargaan yang disampaikan secara simbolis oleh para pastor lain kepada pastor Leo Joosten.

“Kita semua merasa senang dengan penerimaan piagam penghargaan yang diterima pastor Leo. Dan ini juga sebagai bukti bahwa Tuhan Maha Tahu. Saya sangat yakin seyakin-yakinnya pastor Leo mengabdikan dirinya juga untuk budaya dengan hati setulusnya. Dia tidak mempromosikan dirinya untuk mendapat hadiah, namun Tuhanlah yang menunjukkan kepada Yayasan Kebudayaan Rancage bahwa karya karyanya-karya memang patut diapresiasi dengan penghargaan”, papar RP. Ignasius Simbolon, OFMCap saat menyampaikan piagam penghargaan itu mewakili pastor-pastor lainnya.

David Usaha Tarigan, mewakili umat mengungkapkan rasa sukacitanya terhadap apa-apa yang dilakukan pastor Leo di seputaran Taneh Karo.

“Gereja Inkulturatif Karo yang pembangunannya diprakarsai pastor Leo mendapat pengakuan sebagai 1 dari 100 rumah ibadat terbaik di Indonesia merupakan kebanggan kita serta kebanggaan banyak orang. Demikian juga Museum Pusaka Karo yang telah dikunjungi lebih 8.000 orang. Maka patutlah beliau mendapat penghargaan. Saya sangat mengharapkan kiranya pastor yang kita cintai kiranya mendidik pemuda-pemuda sebagai cucunya untuk ikut terlibat mengembangkan serta melestarikan budaya kita”, kata Tarigan mergana itu dalam sambutannya.

Pastor Leo Joosten dengan kerendahan hatinya menerima piagam itu. “Sesungguhnya hati saya berkata, piagam penghargaan lebih baik dan lebih tepat diberikan kepada orang-orang yang berceceran peluh dan air mata memberikan pengabdiannya kepada orang banyak, misalnya kepada petugas kebersihan yang bekerja sampai pagi ketika kota ini kotor oleh orang-orang yang tidak peduli. Kalau memang yang ini diberikan kepada saya, saya tidak ada alasan juga menolaknya. Walaupun demikian, ini adalah hadiah untuk kita semua. Saya selalu didukung oleh banyak orang, termasuk di Museum Pusaka Karo itu, semua barang-barang adalah barang titipan stasi-stasi. Pun ketika saya menyusun kamus baik kamus Toba-Indonesia maupun kamus Karo-Indonesia serta buku-buku lain saya juga banyak dibantu kawan-kawan sekalian. Maka sekali lagi, penghargaan ini adalah untuk kita semua!”, kata RP. Leo Joosten, OFMCap dalam sambutannya, disamput tepuk tangan meriah.

Kepada RP. Leo Joosten OFM Cap, oleh DPPH St. Fransiskus Asisi juga diberikan sehelai Uis Beka Buluh.  “Seiring dengan Beka Buluh yang kami berikan sebagai lambang pengembanan pengabdian kepada pastor, doa dan harapan kami semoga pastor itu tetap sehat-sehat, cawir metua dan tetap semangat menjalankan tugas mengembangkan serta melestarikan budaya suku-suku yang ada di Sumatera Utara ini,” kata Tangsi Barus mewakili segenap pengurus DPPH paroki St. Fransiskus Asisi Berastagi.