Cerpen: Pesan Terakhir untuk Seorang Kekasih Tersayang

Cerpen: Pesan Terakhir untuk Seorang Kekasih Tersayang
Oleh: Haravikana Ansita Kaban
Ica adalah seorang gadis yang begitu cantik dan ramah. Hampir semua cowok di sekolahnya suka kepadanya. Selain itu dia juga anak yang berprestasi dan mendapatkan beasiswa. 
Ica merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Ia mempunya seorang abang yang saat ini bekerja di perpajakan. Kedua orang tua Ica bekerja sebagai wiraswasta di salah satu perusahaan di Medan. Memiliki putri seperti Ica tentunya telah menjadi suatu kebanggaan bagi mereka.

Setiap hari Ica sangat sibuk dengan sekolahnya, bahkan terkadang lupa untuk makan. Di rumah Ica kerap pula diejek sebagai kutu buku oleh orangtuanya. Namun demikian, Ica tidak pernah marah apalagi sampai cuek kepada kedua orangtuanya.

Tahun ini bisa dikatakan adalah tahun terakhir bagi Ica duduk di bangku SMA. Wajar saja ia semakin rajin belajar karna Ica bercita-cita ingin kuliah di Universitas Indonesia, dan tentu saja untuk masuk kesana bukanlah mudah, sehingga butuh usaha yang besar.

Ketika Ica sedang belajar, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ia bingung karna nomor yang mengirim inbox kepadanya adalah nomor baru. Dengan ramah Ica membalas inbox dan menanyakan siapa pemilik nomor tersebut.

Pemilik nomor itu meminta berkenalan dan mengatakan bahwa nomor Ica diambil dari akun Facebook miliknya. Setelah beberapa saat saling berbalas SMS, mereka sama-sama tidak percaya bahwa mereka berdua ternyata masih mempunyai hubungan keluarga.

Hal itu tidak pernah di pikirkan oleh Ica sebelumnya. Meski tidak pernah bertemu dengan si pemilik nomor itu, namun Ica tetap bahagia bisa mengenal seseorang itu yang merupakan masih ada hubungan saudara dengannya.

Seseorang itu adalah seorang pria bernama Erik. Ia merupakan anak dari tante Ica. Erik saat ini bekerja di Kantor Koperasi di Kabanjahe dan menjabat sebagai direktur di kantor tersebut.

Setiap harinya Erik selalu pulang tengah malam karena ia mulai bekerja setiap pukul 15.00 WIB, jadi harus lembur. Setelah beberapa hari berkenalan, keduanya menjalin sebuah hubungan jarak jauh, ya meski pun belum pernah tatap muka antara satu sama lain sebelumnya. Namun mereka mempunyai tekad bahwa akan ada waktu dimana mereka akan dapat bertemu.

***

Setiap malam setelah belajar, Ica selalu setia menunggu telfon dari Erik, meskipun itu sudah larut malam. Kadang Erik meminta maaf karna gara-gara dirinya harus lembur, Ica juga harus turut ikut begadang. 

Mengingat ada rasa saling pengertian diantara mereka, jadinya hal itu tidak menjadi masalah bagi Ica. Selama dua bulan mereka telah menjalin hubungan tanpa satu masalah pun. Keduanya saling menutupi dan melengkapi.

Orangtua Ica memang tidak mengetahui hal itu, namun lain hal nya dengan orangtua Erik. Orangtua Erik mengetahui hal itu dan berpesan agar Erik tidak pernah menyakiti Ica karena meskipun tadinya mereka tidak berpacaran, mereka berdua adalah impal yang kapan pun tidak akan pernah bisa terlepas dari tali persaudaraan.

***

Selama tiga bulan mereka menjalin hubungan itu dan hari ini mereka mendapat masalah yang begitu besar. Erik minta putus hanya karna Ica saling berbalasan komentar dengan orang lain di Facebook, dimana dalam sebuah komentarnya, Ica sempat memanggil jelek kepada orang tersebut.

Hal itu sontak membuat Ica kaget dan berusaha untuk meyakinkan Erik bahwa orang tersebut hanya teman biasanya. Namun Erik tidak mau mendengarkan penjelasan Ica dan tetap memilih untuk putus.

Ica hanya bisa menangis mengingat perkataan Erik. Ia berharap agar dapat kembali menjalin hubungan dengan Erik. Tetapi Erik sama sekali tidak memperdulikannya. Ica tidak dapat merelakan kepergian Erik dan setiap hari dirinya selalu menanyakan keadaan Erik.

Setiap Ia menelpon Erik, yang ia dapat hanyalah kekecewaan. Erik selalu mengatakan bahwa ia sedang kerja, padahal sudah sebulan terakhir ini, ia tidak pernah lagi lembur. Ica justru mengetahui hal itu, namun mencoba untuk memaafkn Erik dan tetap memberi perhatian kepadanya.

Usaha Ica semuanya tetap sia-sia dan sekarang Erik justru telah mendapat pengganti dirinya. Mengetahui hal itu, Ica semakin kecewa dan terus menangis mengurung diri di Kamar dan hingga pada akhirnya ia lupa memperhatikan kesehatannya sendiri.

***

Pagi ini ada hal yang dirasakan oleh Ica, ia bingung karena seperti ada yang kurang. Ia mencoba memikirkannya dan hingga akhirnya, Ica ingat bahwa selama ini,setiap bangun tidur ia pasti mendapat inbox dari Erik, namun untuk hari ini dan seterusnya tidak akan lagi.

Ia hanya bisa menatap foto Erik dan mendengarkan rekaman suara Erik ketika dulu ia bernyanyi. Ketika hendak beranjak dari tempat tidur, tiba-tiba kepala dan perut Ica sakit. Ia ingat bahwa tadi malam dirinya tidak makan dan itulah penyebab perutnya kini menjadi sakit.

Dalam hatinya Ica berkata bahwa ini hanyalah sebuah hal biasa. Nanti juga pasti bakal sembuh, dengan demikian tak perlu harus minum obat. 

Karena jam sudah pukul 6, Ica segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ica berharap dengan bertemu dengan teman-temannya, dirinya dapat melupakan masalah walau hanya sesaat.

Setiba disekolah justru semua tidak sama seperti yang diharapkan Ica. Temannya malah menanyakan hubungannya dengan Erik. Dengan nada yang pelan sambil tersenyum, Ica mengatakan semuanya baik-baik saja.

Namun karena tidak kuat menahan air mata, Ica akhirnya permisi kepada temannya untuk pergi ke toilet. Di toilet Ica menangis karena bayangan Erik kembali ada di pikirannya. Dia berharap bayangan itu dapat hilang.

Bel sekolah berbunyi menandakan waktu istirahat telah usai. Ica membasuh wajahnya agar tidak ketahuan bahwa ia habis menangis. Ica masuk ke kelas, namun gurunya heran karena melihat wajah Ica pucat yang sebelumnya tidak pernah begitu. Mengingat keadaan Ica yang terlihat semakin memprihatinkan, Gurunya menyuruh Ica pulang dan segera isitirahat di rumah.

Sampai di rumah, sakit Ica semakin menjadi-jadi. Ia menangis karna tidak kuat menahan rasa sakitnya. Ica sengaja tidak memberitahukan hal itu kepada keluarganya karena ia tidak ingin seorang pun terbebani hanya karna dia.

Dengan rasa sakit, Ica pergi ke RS untuk berobat, dari hasil diagnosa pihak rumah sakit, Ica disarankan harus di operasi pengangkatan ginjal. Selama ini Ica tidak tahu bahwa ginjalnya bermasalah. Ica pulang ke rumah dan menyimpan hasil chek-up nya di lemari, berharap tidak seorang pun membaca.

Ica menulis semua keluhannya di buku curhatnya hingga akhirnya dia tertidur di meja belajar karna kecapean. Namun, sepandai-pandainya menyimpan sesuatu, pasti akan ketahuan juga. Orangtuanya tiba-tiba masuk ke kamar Ica dan membaca semua curhatan Ica. Mereka terkejut membaca semua itu. Mereka tidak percaya bahwa anaknya harus dioperasi.

Ketika selesai makan malam, Ica ditanya oleh kedua orangtuanya tentang penyakit Ica. Semula Ica ingin menghindar, namun ia akhirnya memberi tahu yang sebenarnya. Orangtuanya memeluk Ica dengan erat dan membujuk agar Ica mau di operasi pengangkatan ginjal. Ica menolak hal tersebut karena tidak ingin merepotkan orangtuanya. Dengan segala usaha orangtua, akhirnya Ica luluh.

Malam ini adalah malam sebelum Ica akan di operasi, ia menulis Sebuah kalimat di kertas yaitu “ERIK ALWAYS FOREVER IN MY LIFE”. Kertas itu kemudian dia disimpan di laci belajarnya.

***

Pukul 9 pagi Ica sudah berangkat ke RS untuk melakukan operasi. Ia sempat dirawat di Ruang ICU karena tiba-tiba keadaannya drop. Orangtuanya balik ke rumah untuk mengambil keperluan Ica. Tiba-tiba ia menemukan kertas dan membawanya ke RS. Orangtuanya menanyakan kepada teman-temannya siapakah Erik itu. Temannya menjelaskan bahwa Erik adalah pacar Ica.

Tiga Jam kemudia Ica sadar dan orangtuanya juga menanyakan kepadanya tentang Erik. Ica mengatakan Erik adalah masa lalu yang pernah ada dalam hidupnya. Ica mengatakan kepada orangtuanya bahwa sebelum operasi, ia ingin melihat Erik.

Orangtuanya mencoba menelfon Erik, namun tidak ada jawaban. Orangtuanya mengirim sebuah inbox kepada Erik, namun juga tidak ada balasan. Mengetahui hal itu, Ica menangis dan tiba-tiba tubuhnya bergetar dan nafasnya susah untuk ia hembuskan.

Dengan bantuan alat medis, dokter mencoba untuk menolong Ica. Namun takdir berkata lain, Ica menghembuskan nafas terakhirnya sambil mengucapkan nama “Erik”. Seketika itu, suasana RS jadi pecah dengan isak tangis orangtua Ica yang begitu histeris dan juga saudara laki-lakinya yang saat itu hadir karena mengetahui adiknya akan di operasi.

Teman-temannya segera memberitahu Erik. Erik terkejut dan segera menuju RS. Sesampainya disana dirinya memeluk Ica dan meminta maaf. Ia juga membaca kalimat tulisan terakhir Ica. Ia terus memegang tangan Ica dan mencoba untuk membangunkannya. Namun semuanya sia-sia karena nasi telah menjadi bubur.

Ica pergi di usia muda dan belum sempat mennyelesaikan dan menggapai cita-citanya. Erik berharap suatu saat bisa bertemu dengan Ica di alam yang berbeda dan ia juga menyesal telah salah paham kepada Ica.

Pesan: Kita boleh berprasangka terhadap seseorang. Namun harus dengan bukti yg kuat. Hargai sekecil apa pun perhatiannya karna kamu tidak tahu kapan kamu akan kehilangan dia. Menangis setelah kehilangan tidak ada gunanya. Intropeksi dirimu. Tanyakan dirimu. Apakah kamu sudah menghargai orang lain? Jika belum,mari mulai hal itu dari sekarang. Mejuah-juah!