Karo Jadi Daerah Penghasil Jagung Terbesar Indonesia

Karo Jadi Daerah Penghasil Jagung Terbesar Indonesia
Sipayo.com – Kabupaten Karo yang berada di Provinsi Sumatera Utara pantas disebut sebagai penghasil jagung terbesar di Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Kasubbag Program Dinas Pertanian Sumut Marino didampingi Stafnya Margiono kepada wartawan, Rabu (20/1/2016) kemarin.

Menurutnya, di Sumatera Utara penghasil jagung terbesar adalah Kabupaten Karo dengan produksi jagungnya mencapai 629.633 ton, disusul Kabupaten Simalungun 239.969 ton, dan Kabupaten Dairi 172.411 ton.

“Target produksi jagung selama  tahun 2015 sebesar 1.309.912 ton,namun dalam 10 bulan realisasinya/hasil produksinya  mencapai 1.351 259 ton dari hasil panen lahan seluas 221.337 hektar. Sedangkan tanaman jagung Nopember dan Desember 2015  produksinya  masuk ke realisasi 2016,” ujar Marino.

Menyinggung kebutuhan jagung di Sumut, Marino menyebut antara 1,2 juta ton hingga 1,3 juta ton. Angka ini berdasarkan survey tim dari Dinas Pertanian Pusat dan Sumut.

Sumut masih mengimpor jagung dari India dan Brasil, karena pakan ternak di provinsi ini  bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal,namun dipasarkan ke wilayah Sumatera antara lain Aceh, Riau dan Padang.

Menurutnya, jagung lokal Sumut kualitasnya baik dan rasanya manis. Untuk pakan ternak, komoditi ini  diolah dengan campuran ikan, tepung batu (canggang) dan 5 campuran lainnya dijadikan tepung.

“Menggunakan jagung lokal Sumut hasil pakan sangat baik.  Ukuran telur besar dan warnanya merah. Beda dengan jagung impor yang warnanya pucat dan hasil yang diproduksi pakan ternak tidak sebaik jagung lokal,” ujar Marino sambil menambahkan di Sumut ada  9 pabrik pakan ternak.

Sebagaimana diketahui, Menteri Pertanian Amran Sulaiman didampingi Direktur Jenderal Tanaman Pangan Hasil Sembiring telah berkunjung dan meninjau lahan jagung di Kabupaten Karo pada 22 Desember 2015 lalu. Saat itu, Mentan memuji hasil panen jagung petani dengan produktivitas lebih tinggi dari rata-rata nasional.

“Bagus ini, berapa luas lahan? satu hektar dapat berapa ton?” tanya Mentan ke petani jagung pemilik lahan di Kabupaten Karo, Selasa (22/12/2015).

“Empat hektar pak. Produktivitas 8 ton/hektar,” jawab Salomo Depari, petani jagung pemilik lahan berusia 58 tahun.

Mentan memuji hasil panen jagung petani dengan produktivitas lebih tinggi dari rata-rata nasional.

“Wah, 8 ton? bagus sekali. Harga berapa?,” Mentan kembali bertanya.

“Harga Rp 2.700/kg pak. Sudah bagus, panen sebelumnya pernah rendah Rp 2.200/kg,” jawab Salomo.

Mentan berpesan kepada petani agar mempertahankan harga jual jagungnya. Dengan harga yang tergolong bagus saat ini, menurut Mentan, petani bisa dapat untung dan kembali semangat menanam jagung.

“Jangan jual murah ya. Hasilnya kalau 8 ton dikali 4 hektar sudah 32 ton. Lalu dikali harga Rp 2.700/kg maka hasilnya 3 bulan jadi Rp 86 juta. Itu dibagi 3 bulan Rp 28 juta, lebih tinggi dari gaji menteri,” kata Mentan.