Mengelola Wisata Karo Dengan Pendekatan Kearifan Lokal

Mengelola Wisata Karo Dengan Pendekatan Kearifan Lokal

Oleh: Steven Amor Tarigan

Dataran tinggi Karo merupakan satu wilayah yang luas berada di wilayah administrasi Kabupaten Karo. Dataran tinggi Karo memiliki hawa yang sejuk sehingga banyak menarik minat wisatawan untuk berkunjung, tempat yang strategis dan tidak jauh dari pusat Kota Medan dibanding Danau Toba.
Namun dibalik keindahan alam dataran tinggi Karo, ada beberapa hal yang tidak mendukung atau bahkan mengabaikan estetika panorama alamnya. Karena tidak begitu sulit untuk menemukan sampah yang berserakan dimana-mana. Asal muasal sampah beragam, mulai dari warga setempat dan pengunjung yang datang kesana.
Sangat disayangkan memang, namun itulah wajah pariwisata Karo yang tanpa bentuk ciri khas budaya lokal. Jika orang asing atau luar daerah yang berkunjung langsung dapat menilai apakah begitu budaya lokal yang berlaku, tidak menjaga alamnya yang dimiliki.
Sejak lama berdirinya Kabupaten Karo, sentuhan khusus untuk pengembangan pariwisata bisa dikatakan tidak ada perkembangan yang signifikan. Dan bahkan lebih cenderung meninggalkan kearifan lokal yang ada, kebanyakan orang lebih menarik menurut seleranya dengan sentuhan modern.
Oleh karena itu jangan heran, jika saat ini alam indah dataran tinggi Karo kini lebih banyak berdiri hotel-hotel dan vila-vila mewah yang menawarkan kehidupan perkotaan. Kearifan lokal kian tergerus zaman, penduduk setempat lebih berorientasi kepada keuntungan sesaat dan tidak lagi peduli terhadap budaya warisan leluhur.
Dan jangan terlalu naif untuk membandingkan Pulau Dewata Bali yang menjadi tempat favorit kunjungan wisata dengan dataran tinggi Karo. Karena perbedaan yang sangat mencolok ialah Bali yang masih menjaga kearifan lokalnya dan bahkan terus mengembangkan budayanya dengan pengaruh dari luar.
Sementara di Kabupaten Karo, yang mayoritas bersuku Karo saat ini kurang menjaga kearifan lokalnya. Sebagai contoh, ketika memasuki wilayah dataran tinggi Karo kita akan melewati Penatapen Doulu. Disana berdiri bangunan permanen dengan musik keras disetiap kios-kios dan sampah serta limbah lainnya yang dibuang ketebing hutan.
Seharusnya pintu masuk menuju kawasan wisata harus memiliki nuansa kearifan lokal yang ada. Bukan dengan suguhan musik keras, bangunan tanpa estetika budaya setempat. Penikmat wisata akan langsung menilai, jika pintu masuknya saja sudah kotor bagaimana dengan tempat lainnya yang akan dikunjungi.
Tidak ada kata terlambat untuk berbenah diri, semua pihak harus bersuara dan peduli terhadap keberlangsungan potensi kunjungan wisata ke dataran tinggi Karo. Sudah saatnya segenap pemangku kepentingan untuk bertindak cepat, sebelum semuanya hancur lebur tanpa bekas. Cintailah budaya dan cintailah alam yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.