Refleksi 6 Tahun Erupsi Gunung Sinabung

Refleksi 6 Tahun Erupsi Gunung Sinabung
Oleh: Ir. Sukarman Keliat
Permasalahan yang diakibatkan oleh erupsi Gunung Sinabung yang tidak pernah berhenti lagi selama 6 tahun ini menimbulkan masalah yang sangat kompleks. 3 (tiga) desa yaitu Bekerah, Simacem dan Sukameriah sudah direlokasi ke desa Siosar. Tetapi disamping ketiga desa tersebut, ada beberapa desa seperti Berastepu, Kuta Tonggal, Gamber, Sibintun, Gurukinayan yang tidak dapat lagi dihuni dan akan direlokasi dalam tahap 2 dan 3.

Erupsi Gunung Sinabung ini yang tidak henti-hentinya selama hampir 6 tahun ini menimbulkan kerugian yang luar biasa, tidak hanya secara material tetapi juga menurunkan moral penduduk yang terkena bencana. Masyarakat disekitar Sinabung, selama 400 tahun, serta beberapa generasi sudah sangat menikmati dan akrab dengan gunung berapi tersebut. Namun kini, ledakan demi ledakan yang terjadi merubah secara total situasi dan kondisi di sekitar Sinabung. Tidak ada orang yang tahu, bahkan para akhli sekalipun yang dapat menjawab pertanyaan: ‘kapan letusan Gunung Sinabung akan berhenti?’.

Ancaman yang besar yang juga bisa datang sewaktu-waktu, yaitu debu vulkanik yang sudah keluar dari perut bumi masih tertahan di pinggiran kawah dan jumlahnya puluhan ribu ton. Tumpukan debu ini bisa mengakibat aliran lahar dingin yang mengancam desa-desa di sepanjang DAS Lau Borus saat hujan lebat turun di Puncak Gunung Sinabung. Pada bulan Mei 2016 ini menjadi kenyataan, 2 orang penduduk desa Kutambaru menjadi korban aliran lahar hujan ini.

Tetapi kenyataannya, letusan juga tidak pernah berhenti, sehingga penduduk dalam radius 10 km juga sulit melaksanakan aktifitas pertanian. Beberapa kali dialami oleh penduduk bahwa ketika tanaman hortikultura mereka seperti cabai dan tomat sudah hampir bisa dipanen, keseluruhannya rusak akibat debu vulkanik yang datang tiba-tiba. Hal seperti ini menimbulkan rasa frustrasi yang dalam terhadap penduduk.

Dampak dari erupsi ini sangat serius, tidak hanya bagi masyarakat di sekitar Sinabung, tetapi juga di daerah lain. Beberapa jenis sayur-mayur yang merupakan produk andalan Taneh Karo terkadang sangat sulit dijual karena konsumen menganggap bahwa sayur-mayur dari Karo sudah tercampur dengan debu vulkanik.

Tingkat hunian hotel juga menurun drastis, karena jumlah turis yang berkunjung ke Taneh Karo paska erupsi berkurang secara signifikan. Menurut Pemkab Karo, dampak erupsi Gunung Sinabung ini telah menurunkan pertumbuhan ekonomi Karo sebesar 45%. Tidak perlu terlalu dipersoalkan besaran angka ini, yang jelas dampaknya adalah penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat secara signifikan.

Pada awalnya, masih ada bantuan yang diberikan kepada masyarakat yang berada di sekitar Sinabung. Tapi karena masalah berketerusan akhirnya bantuan dari luarpun berhenti dengan sendirinya.

Situasi Ekonomi desa lingkaran sinabung,semakin memburuk, sebagian masyarakat yang mata pencahariannya bertani ,harus mengahadapi gagal panen, ketika erupsi terjadi. Hal ini mengakibatkan masyarakat tidak bisa membiayai kehidupan sehari-hari dan biaya pendidikan anak-anak mereka yang bisa berakibat terancam Putus Sekolah, karena ketiadaan biaya.

info dari masyarakat lingkaran sinabung sudah ada beberapa anak sekolah lingkaran Sinabung yang putus sekolah (data belum terkumpul). Dan inilah salah satu penyebab kenapa warga nekat memasuki zona bahaya, sebenarnya hanya untuk memanen kopi yang jumlahnya tak seberapa, sekilo atau dua kilo dilahan pertanian didesa mereka untuk mencukupi biaya kehidupan sehari-hari dan biaya anak sekolah dengan ‘mencuri-curi’ masuk melalui jalur tikus karena pintu gerbang desa mereka sudah ditutup oleh Danramil.

Sarana dan prasarana yang penting pada saat ini dan belum tersedia adalah sarana dan prasarana untuk evakuasi masyarakat. Jalur evakuasi dari Payung-Batukarang-Singgamanik sampai dengan saat ini masih sangat sempit dan sulit dilalui karena banyak bagiannya yang rusak. Disamping itu, peralatan ‘early warning’ masih belum optimal. Kedua hal ini seharusnya masuk dalam prioritas penanganan ‘penanggulangan dampak bencana Sinabung’ karena sampai saat ini belum ada yang meyakini bahwa erupsi Sinabung akan berhenti dan ada kemungkinan sewaktu-waktu meningkat status bahayanya menjadi ‘siaga’ atau ‘awas’ sehingga perlu mengevakuasi masyarakat dengan cepat.

Demikian juga dengan peralatan ‘early warning’ sangat diperlukan agar desa-desa di sepanjang DAS Lau Borus dapat mengetahui dengan cepat bahwa ada potensi bahaya yang akan datang, dan mereka masih punya waktu untuk melakukan proses penyelamatan diri dan harta benda yang masih ada.

Saat ini Pemda Karo sedang mempersiapkan huntap tahap 2 dan 3 yg diharapkan Presiden Jokowi bisa diselesaikan per Desember 2016 ini.

Desa yang Terkena Banjir Lahar hujan, yang solusinya belum jelas dari pemerintah adalah:

-Perbaji – masih diungsikan
-Mardinding- masih diungsikan
-suka tendel- tidak perlu mengungsi
-kuta mbaru- tidak perlu mengungsi

Saat ini terdapat 2 desa, yaitu Gurukinayan dan desa Berastepu (desanya hancur dan tidak bisa di tempati), masyarakatnya membuat hunian sementara di Simpang Desa Guru Kinayan, Simpang Berastepu.

Sampai kapan, mereka harus bertahan dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, sementara perhatian pemerintah terkesan lambat?

Akses jalan menuju desa-desa di kaki Gunung Sinabung ini sendiri dalam ANCAMAN LAHAR DINGIN Termasuk JEMBATAN KITE KAMBING, dimana jembatan ini merupakan satu-stunya akses jalan utama menuju Kota Kabupaten Kabanjahe atau Berastagi dan selanjutnya ke Medan.

Inilah saatnya untuk saudara-saudara para pakar ekonomi kreatif dan ekonomi kerakyatan dari kalangan Karo mengabdikan ilmunya buat saudara-saudara kita Korban Sinabung, yang umumnya mereka menganggur di pengungsian. Kalau ditraining mungkin mereka mampu untuk membuat:

– Raga dayang-dayang
– Keranjang tomat
– Dll

Yang bisa menambah penghasilan mereka dan membunuh kejenuhan mereka dan mencegah mereka masuk secara nekat ke Zona Merah Sinabung. Bujur ras mejuah-juah kita kerina.

* Penulis adalah Pegiat sosial media Karo yang tinggal di Kota Cirebon, Jawa Barat