Internet Sebagai Media Perubahan dan Peran Kontrol Pemerintah

Internet Sebagai Media Perubahan dan Peran Kontrol Pemerintah
Oleh: Alexander Firdaust Meliala
 
Sipayo.com – Sekitar bulan Juni 2003 adalah waktu pertama kali aku mengenal internet, diperkenalkan oleh seorang sahabat, Don Sisko Perangin-angin. Maksud awal hanya sekedar iseng, namun karena didorong rasa penasaran dan keingintahuan yang tinggi akhirnya membuatku menjadi seorang ‘pecandu internet’.

Masa-masa awal perkenalan dengan internet ketika itu, yang aku lakukan adalah chatting di IRC, serta bergabung di berbagai milis (grup diskusi di internet) untuk mendapatkan informasi-informasi apa saja, mulai dari budaya, berita-berita terkini, hingga informasi tentang politik.

Pada awalnya, aku hanya bergabung di milis-milis Karo. Disinilah awal perkenalan dengan beberapa orang Karo yang berada di luar negeri, seperti MU Ginting, dan Pa Canggah (Simson Ginting/Ayah aktor Tanta Ginting), serta masih banyak orang-orang Karo lainnya yang aku kenal melalui milis ini.

Seiring beberapa waktu, karena ada dorongan rasa haus akan informasi, akhirnya membuatku bergabung dibeberapa milis yang membahas tentang topik nasional. Beberapa milis yang masih aku ingat hingga saat ini, diantaranya Apakabar (versi Yahoogroups), Mediacare, Forum Pembaca Kompas (FPK), dan Superkoran. Sebenarnya masih banyak milis-milis lain yang aku ikuti, tapi sudah tidak bisa lagi aku ingat satu-persatu.

Khusus untuk milis Apakabar, versi Yahoogroups merupakan versi kedua, sebab sebelumnya ada pula milis Apakabar versi bulletin board yang dibuat oleh Dr John MacDougall, dimana milis versi pertama ini sudah ditutup pada tahun 2002, tapi masih tetap dapat diakses hingga awal-awal aku mengenal internet di tahun 2003 itu.

***

Membaca salah satu artikel di Kompasiana hari ini, Senin (24/4/2017) dengan judul “Senjata Pemusnah Massal dalam Perang Hybrid itu Media” menjadi menarik perhatianku.

Dalam artikel tersebut diperbandingkan antara masa pra digitalisasi dan era digital saat ini. Menurut penulis artikel Bayu Suntara, ada perubahan sikap masyarakat Indonesia yang semakin berani menyuarakan perasaan dan pemikirannya baik lewat tulisan, gambar dan media audio visual di ranah era digital, dimana hal tersebut tidak lazim pada masa pra digital.

Pada akhir artikelnya, Bayu Suntara berkesimpulan bahwa media memiliki kemampuan setara dengan senjata pemusnah massal bahkan dampaknya dapat lebih masif dan permanen.

Terkait benar atau tidaknya kesimpulan dalam tulisan Bayu Suntara. Namun paling tidak artikelnya itu telah mengingatkanku kembali ke masa saat-saat awal mengenal internet 14 tahun lalu. Di milis Apakabar saat itu, masih banyak sekali ditemukan tulisan-tulisan tentang andil media internet dalam mendorong tumbangnya pemerintahan Orde Baru.

Ketika aku mencoba mencari kembali tulisan-tulisan itu, sudah sangat sulit untuk menemukannya. Begitu pula ketika aku mencari informasi tentang faktor-faktor penyebab runtuhnya Orde Baru pada 21 Mei 1998 di Google, dari seluruh tulisan yang ada,  hampir tak ada satupun tulisan yang mengaitkan keruntuhan Orde Baru oleh faktor media internet.

Beruntung, akhirnya ditemukan juga satu artikel yang relevan membahas hal tersebut, yakni tulisan yang juga di Kompasiana berjudul “Internet dan Perubahan Sosial” yang ditulis oleh Wawan Setiawan.

Dalam tulisan ini, Wawan Setiawan kembali menyebut peranan milis Apakabar yang sangat efektif menjadi wahana (media) untuk melawan Orde Baru. Lebih lanjut Wawan menuliskan dalam artikelnya, bahwa masif-nya aksi mahasiswa menduduki gedung MPR, sehingga kemudian Presiden Soeharto mundur, tak terlepas dari propaganda yang bersumber dari milis Apakabar.

Wawan dalam artikelnya juga menyebutkan bahwa mundurnya Soeharto memang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari krisis ekonomi, politik tingkat atas, faktor politik luar negeri Amerika Serikat, dan faktor lainnya. Namun depertemen luar negeri Amerika Serikat pernah mempunya statemen bahwa milis Apakabar juga punya peran atas kejatuhan rezim Orde Baru.

Statemen departemen luar Negeri Amerika Serikat ini memang masuk akal. Sebab, ketika itu semua media masih berada dibawah kontrol pemerintah melalui Departemen Penerangan. Dengan demikian, ketika ingin mendapatkan informasi yang berbeda dengan versi pemerintah yang penuh dengan sensor, maka hanya bisa didapatkan di media online atau milis seperti Apakabar.

Internet memang media perubahan, khususnya dalam hal perubahan sosial masyarakat. Telah banyak perubahan-perubahan dunia terjadi karena faktor dorongan dari media internet. Ada perubahan kearah yang negatif sebagaimana yang disampaikan oleh Bayu Suntara, sementara disisi lain ada pula perubahan kearah positif sebagaimana reformasi Indonesia, dimana media internet juga turut ikut andil didalamnya.

Kemanakah arah perubahan yang kita inginkan? Tentu kembali kepada pribadi masing-masing pengguna internet. Namun demikian, peranan pemerintah dalam rangka mendorong internet positif juga sangat mutlak dibutuhkan. Peran pemerintah tak hanya cukup dalam soal kontrol situs-situs negatif (pornografi, dll). Dalam hal menjaga stabilitas negara, peran pemerintah harus lebih dari itu, tentunya kontrol yang demikian harus pula dibarengi dengan kebijakan yang arif dan bijaksana.