Makhluk Buas Takut Mati Cikal Bakal Demokrasi

Makhluk Buas Takut Mati Cikal Bakal Demokrasi

Oleh: Alexander Firdaust Meliala

Sipayo.com – Dalam pertarungan merebut daerah kekuasaan, ada kalanya seekor singa pejantan harus bertarung dengan singa pejantan lainya. Namun sebuas-buasnya seekor singa, kebanyakan akan menghindari perkelahian hingga luka parah apalagi bertarung hingga mati. Luka parah juga sama saja dengan mati, karena singa akan sulit mendapatkan makanan saat proses penyembuhan luka.

Dalam hal ini, singa yang buas juga sebenarnya takut mati. Dalam rangka menghindari kematian saat pertarungan merebut kekuasaan, maka ada kalanya singa juga berupaya untuk mengalah dan mencari tempat lain yang cenderung lebih mudah untuk dikuasai.

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling cerdas dibanding makhluk lainnya juga sebenarnya lebih buas dibandingkan dengan singa. Namun demikian, manusia juga sebenarnya takut mati. Karena alasan ini pulalah, manusia belajar negoisasi dalam mempertahankan hidup.

Negoisasi dalam mencari win-win solution antara sesama hingga kemudian dapat hidup berdampingan. Hal ini kemudian berkembang menjadi sebuah peraturan dan undang-undang yang mengikat kehidupan antara manusia yang satu dengan lainnya.

Agar peraturan dan undang-undang tidak berat sebelah yang dapat merugikan salah satu pihak, dimana hal tersebut dianggap berbahaya dan dapat berujung menyebabkan kematian pula, maka kemudian tahapan negoisasi memulai babak baru.

Disinilah kemudian muncul gagasan demokrasi, yakni kebebasan mengemukakan pendapat dalam rangka melakukan negoisasi agar peraturan dan undang-undang dapat tegak, sehingga penerapannya kemudian tidak merugikan individu-individu.