Perjuangan Mengisi Ilmu Pengetahuan dan Kecakapan Berpikir

Perjuangan Mengisi Ilmu Pengetahuan dan Kecakapan Berpikir
Oleh: Alexander Firdaust Meliala

Membaca diskusi tentang sosok Budiman Sudjatmiko di kolom komentar salah satu tulisan di Kompasiana hari ini telah menarik perhatianku. Seorang Kompasioner, Noval Adianto mengatakan bahwa Budiman adalah seorang sosok muda dengan ideologi kuat yang sarat dengan pengalaman pergerakan. Menurut Noval, sosok Budiman sebenarnya cocok menjadi pemimpin masa depan PDIP setelah Megawati pensiun.

Komentar tersebut kemudian dijawab oleh seorang Kompasioner lain, Yon Bayu yang juga merupakan seorang jurnalis dan selama ini tulisan-tulisannya tidak pernah aku lewatkan di Kompasiana.

Yon menuliskan, Budiman Sudjatmiko terlalu asik dengan pemikiran masa lalu, romantisme pertentangan dialektika modal dan buruh, petani dan tuan tanah. Dengan demikian menurut Yon, Budiman bukan figur pemimpin, tetapi lebih kepada sosok pemikir atau konseptor.

Soal pendapat Yon Bayu terkait Budiman Sudjatmiko, aku juga tak bisa memberi kesimpulan. Apakah yang dituliskannya di kolom komentar Kompasiana itu benar atau salah? Namun paling tidak diskusi dua orang Kompasioner ini kembali mengingatkanku saat diskusi beberapa hari yang lalu di Kantin Amik bersama sahabatku Donsisko Perangin-angin.

Dalam diskusi sore itu, Donsisko mengatakan bahwa perjuangan saat sekarang tidak lagi melulu terkait kelas sosial yang harus melibatkan banyak orang. Namun perjuangan sesungguhnya adalah tentang  mengisi logika atau ilmu pengetahuan dan kecakapan berpikir.

Lihatlah raksasa-raksasa teknologi dunia saat sekarang, mereka ini pada awalnya muncul dari kelompok-kelompok kecil yang tidak lebih dari hanya 5 orang. Namun pada kenyataanya, kini mereka telah berhasil mengendalikan hampir secara menyeluruh kehidupan sosial masyarakat dunia, kata sahabatku ini dalam diskusi kami kemarin itu.