Deleng Sibuaten, Menyatukan Wilayah Karo Gugung dan Baluren yang Terpisah

Deleng Sibuaten, Menyatukan Wilayah Karo Gugung dan Baluren yang Terpisah

Oleh: Benson Kaban

Ture-Ture Deleng Sibuaten; Kawasan Desa di Kaki Gunung Sibuatan Kabupaten Karo, Perjuangan Kecamatan “Deleng Sibuaten” menjadi kecamatan ke 18 di Kabupaten Karo.

Kita pasti tau Sungai Alas, sungai yang berhulu dari Gunung Sibuaten, terdiri dari Sungai Lau Bengap, sungai Lau Namo Karang dan Sungai Lau Renun bertemu di Kuala Tiga Binanga dan Sungai Lau Gunung di Kecamatan Taneh Pinem hingga dinamai Lau Renun dan Sungai Alas dan bermuara ke Samura Hindia.

Gunung Sibuaten (“Deleng” merupakan kata lain Gunung dalam bahasa daerah Karo.), hampir dilupakan sebagai nama bersejarah dari orang Karo, sampai saat ini populer disebut “Deleng Sibuatan” dan seolah-olah nama Sibuaten itu sudah asing bagi kita orang Karo pada umumnya. Padahal jelas banyak desa disekitar kaki Gunung yang bergantung dengan Gunung tersebut, misalnya sumber air bersih dan irigasi, udara sejuk dan pemandangan alam yang sangat mempesona.

Dahulu, ada istilah “Ture-Ture Deleng Sibuaten”, mengartikan kawasan “Kuta” desa yang berada dikaki Gunung Sibuaten yang kehidupannya tergantung dengan Gunung, Khususnya air.

Gunung Sibuaten juga merupakan “Batang Hari”, yaitu penentu turun atau tidak nya hujan. Cerita ini didapat dari penggembala kerbau, jika di Gunung Sibuaten Sudah gelap atau mendung, maka hujan akan segera turun di kawasan desa sekitar gunung.

Dahulukala daerah ini adalah daerah yang sangat makmur, ditandai degan hasil sawah yang berlimpah, lumbung padi yang banyak, ternak yang banyak. Saat ini kawasasan Sibuaten masih merupakan kawasanan “Lumbung Padi” di Kabupaten Karo.

Gunung Sibuaten menjadi garis batas antara kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi, walaupun sebagian besar masuk ke kawasan Kabupaten Karo. Gunung Sibuaten melingkupi 4 kecamatan di Kabupaten Karo, yakni ; Kecamatan Merek, Tiga Panah, Munte dan Juhar.

Sebagian besar kawasan Sibuaten adalah tergolong masuk kawasan Hutan Lindung, Ada belasan desa yang tergolong “Ture Deleng Sibuaten”, desa yang berada dipinggirnya atau sekelilingnya. Antara lain; di Kecamatan Munte (Kutambaru, Sarimunte, Gunung Saribu dan Kabantua), Kecamatan Juhar (Pernantin, Tiga Siempat, Sugihen, Buluh Pancor dan Lau Lingga), Kecamatan Tiga Panah (Suka Maju – Semangat baru dan Talin Kuta), Kecamatan Merek (Siosar – Suka Meriah, Bekerah, Simacem, dulunya kawasan ini desa Kacinambun Lama).

Jika dilihat dari letak kota kecamatan, sederetan nama desa ini menjadi kawasan pedalaman atau ujung, padahal ini jelas ada jalur jalan lama atau jalur transportasi lama, dulu menggunakan jalur transportasi kuda (tapak kuda). Bahkan jalur ini merupakan penghubung antara Etnis Karo, Pakpak, Simalungun dan Toba bahkan dengan Aceh, termasuk suku Gayo, Alas dan Singkil.

Namun belakangan ini Pembangunan jalur jalan raya tidak berkembang atau Pembangunan pun berkembang lambat. Bahakan pelayanan publik juga terbilang lambat, bahkan sebagian desa diatas masih termasuk kawasan desa tertinggal.

Sebagai sebuah solusi, Kawasan “Ture Deleng Sibuaten” ini perlu menjadi kecamatan ke 18 di Kabupaten Karo. Dan pengusulan jalur “tapak Kuda” menjadi jalan Alternatif Jalan Provinsi, yakni; dari Merek tembus Tiga Lingga melalui Kuta Mbaru. Rute nya sebagai berikut: Dari Merek masuk ke Pertibi Tembe – Siosar – Suka Maju – Kabantua – Kuta Mbaru – Pernantin – Buluh Pancor – Lau Lingga, tembus ke Tiga Lingga kabupaten Dairi. Dengan demikian Jalur tersebut otomatis menjadi jalur alternatif lintas provinsi. Dengan adanya kecamatan baru harapannya pelayanan publik akan semakin baik.

Adapun desa yang strategis menjadi ibu kota Kecamatan adalah Desa Kutambaru. Jalur penghubung antara desa juga bisa menjadi prioritas Pembangunan, pengembangan potensi pertanian dan pelestarian kawasan hutan serta pengembangan pariwisata dan industri kreatif.