Kisah Preman Medan yang Paling Disegani jadi Anggota MPRS

Kisah Preman Medan yang Paling Disegani jadi Anggota MPRS

Foto: Ilustrasi Preman

Sipayo.com – Mengingat kota Medan, maka kebanyakan orang akan langsung terbayang dengan masyarakat kota ini yang dikenal dengan karater tegas, keras, dan ceplas-ceplos. Meski tak semua orang Medan seperti itu, namun ciri khas yang demikian sudah tertanam kuat di benak kebanyakan masyarakat luar.

Image kota Medan yang demikian tampaknya memang masih akan sulit terhapuskan. Pasalnya ada sejarah panjang melatarbelakangi. Bahkan, kosa kata ‘preman’ yang merujuk kepada kegiatan sekelompok orang jahat (penodong, perampok, pemeras, dsb) juga disinyalir berasal dari kota ini.

Sebagaimana ulasan terdahulu di Sipayo.com (Baca: Ini Dia Sosok Preman Medan yang Paling Disegani pada Masanya), diketahui bahwa kata preman identik dengan kota Medan. Bahkan reputasi itu telah dimulai sejak zaman kolonial Belanda di awal abad ke-20.

Berbicara tentang sosok preman di kota Medan, tentu tak bisa terlepas dari nama satu sosok, yakni Effendi Nasution alias Pendi Keling. Dia dikenal sebagai salah satu preman legendaris sekaligus sosok pendiri organisasi Pemuda Pancasila (PP) pada awal tahun 1960-an.

Dengan kiprahnya sebagai pendiri PP, Pendi Keling semakin dikenal sebagai sosok berkarisma karena berhasil mempersatukan para preman di Medan pada masanya dalam naungan wadah organisasi kepemudaan yang didirikannya itu.

Tak hanya sampai disitu, upaya Pendi Keling menyatukan rekan-rekannya dalam satu kelompok organisasi, membuat mereka tak lagi disebut sebagai preman, dengan mengusung panji PP, mereka turut ikut membela negara dari rongrongan ideologi-ideologi yang tak sesuai dengan Pancasila.

Tindakan tersebut akhirnya berbuah manis. PP akhirnya menjelma menjadi organisasi kepemudaan besar di negeri ini. Di bawah kepemimpinan Pendi Keling, para preman yang umumnya mangkal di bioskop-bioskop, menjelma menjadi orang terpandang dan tak jarang punya peran di dunia politik.

Karena kiprahnya, Pendi Keling pun mendapat julukan Singa Sumatera. Dia juga sempat dipercaya menjadi anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) di Jakarta, selama dua tahun sejak 1968.

Pendi Keling meninggal dunia 26 Agustus 1997, pada usia 63 tahun. Jalan HMY Efendi Nasution kini telah ditabalkan di kota Medan, inilah sebagai upaya mengabadikan namanya yang melegenda di kota ini. Kisah seorang preman yang disegani, bahkan kemudian dapat duduk sebagai anggota MPRS di negeri Indonesia. (Baca: Kenapa Orang Karo Banyak Jadi Preman? Ternyata Ini Ilmu Kebalnya…)