Kota Karo, Sebuah Konsep dan Gagasan Pemerataan Pembangunan

Kota Karo, Sebuah Konsep dan Gagasan Pemerataan Pembangunan

Oleh: Benson Kaban

Suatu saat, kota Kabanjahe dan kota Berastagi akan bersatu tanpa jarak, ditambah dengan kecamatan Merdeka dan Dolat Rakyat. Bayangkan saja sepanjang perbatasan Penatapan Daulu hingga Lau Simomo dan Gunung Sibayak, hingga Lembah Kubu Colia hulu Lau Biang dan seberang Desa Sukajulu, Gurusinga hingga Samura menjadi satu kota agro wisata dan agro industri, sekaligus kota wisata dan pertanian kelas dunia.

Kota itu kemudian disebut dengan “Kota Karo”, yang di pimpin profesional oleh sebuah pemerintahan kota dan dipandu oleh seorang walikota, disebut kemudian sebagai Pemko Karo. “Kota Karo” tersebut bermasa depan menjadi kota besar, maju dan modern serta tetap berkarakter dan berkebudayaan, yakni Karo. Tanpa mengurangi makna dan hakekat, kota baru tersebut merupakan jawaban atas perkembangan zaman.

Kabupaten Karo sebagai kabupaten induk tetap mendampingi perkembangan “Kota Karo”, sisanya ada 14 kecamatan yang bisa dimaksimalkan dengan melakukan pemekaran kecamatan untuk mempercepat pemerataan pembangunan dan pelayanan publik, khususnya di daerah Karo bagian Barat, yakni Kecamatan Munte, Juhar, Tiga Binanga, Lau Baleng, Mardinding dan Kuta Buluh.

Ibu kota Kabupaten Karo di pindah ke Tiga Binanga. Dengan demikian penghubung jalan antara Tiga Binanga – Merek melalui Munte ke Siosar, tembus ke Merek bisa di percepat.

Tiga Binanga ke Berastagi melalui Tiga Nderket dan Simpang Empat bisa di perlebar. Jalan antara Kabupaten Karo – Dairi – Tiga Binanga – Tiga Lingga bisa melalui Juhar dan Lau Lingga. Tiga Binanga – Bahorok bisa melalui Kuta Buluh dan Rih Tengah – Amburidi ke Marike. Tiga Binanga – Kuta Cane melalui Kuta Kendit – Buluh Pancor – Rimo Bunga dan Mardinding terus ke Kuta Cane.

Sekali lagi pemekaran tanpa mengurangi luas wilayah, ini mungkin lebih baik dari pada pemekaran Kota Berastagi dan pemekaran Kabupaten Singalor Lau, dll.

Tidak hayalan atau lamunan, mewujudkannya kita harus mulai dari sebuah sikap percaya diri, berani dan punya tekad dan nekad, tentunya harus dibarengi dengan kebersamaan dan gotong-royong.

Memulainya kita harus usulkan pembangunan bandara cargo di Kecamatan Tiga Binanga, batas dengan kecamatan Munte, tepatnya antara desa Perbesi dan Sarinembah.

Bandara cargo membawa hasil bumi Taneh Karo, berkembang dari bandara cargo ke bandara domestik penumpang umum, hingga menjadi bandara internasional suatu saat nanti.

Lokasi ini strategis, yakni dengan jarak tempuh 1 jam dari Berastagi, 1 jam dari Mardinding – Lau Baleng, 1 jam dari Merek (Danau Toba) via Siosar dan 1 Jam ke Bukit Lawang/Taman Nasional Gunung Leuser via Rih Tengah. Setengah jam dari Kabanjahe!

Niscaya akan terwujud jika kita berani! Mejuah-juah…