Sejarah Kesultanan Deli dan Kota Medan

Sejarah Kesultanan Deli dan Kota Medan

Oleh: Alexander Firdaust Meliala

Berbicara tentang sejarah Kota Medan tentu tak terlepas dengan keberadaan Kesultanan Deli yang didirikan oleh Tuanku Panglima Gocah Pahlawan sebagai Sultan Deli yang pertama.

Menurut riwayat, Gocah Pahlawan merupakan seorang Laksamana dari Sultan Iskandar Muda Aceh yang bergelar Khoja Bintan. Pada awal diutusnya Gocah Pahlawan oleh Sultan Aceh ke Tanah Deli adalah dalam rangka untuk menaklukkan beberapa kerajaan kecil bekas peninggalan Kerajaan Aru (Haru).

Sebagaimana diketahui, pada akhir Abad ke-13, Kerajaan Aru yang merupakan sebuah kerajaan besar yang berdiri di wilayah pantai timur (Sumatera Utara sekarang) pernah ditaklukkan oleh Kesultanan Iskandar Muda Aceh.

Dalam perjalanan waktu, rakyat Kerajaan Aru yang telah tercerai berai akhirnya membentuk kerajaan-kerajaan kecil di wilayah Tanah Deli. Beberapa kerajaan kecil tersebut, diantaranya Kerajaan Urung Sunggal (Serbanaman) didirikan oleh Merga Surbakti, Kerajaan Urung Senembah didirikang oleh Merga Barus, Kerajaan Urung 12 Kuta didirikan oleh Merga Sembiring, dan Urung Sukapiring didirikan oleh Karosekali dan Sembiring Meliala.

Keempat kerajaan ini merupakan kerajaan yang didirikan oleh orang Karo di Tanah Deli dan merupakan kerajaan-kerajaan kecil yang berasal dari pecahan Kerajaan Aru, yakni kerajaan besar yang tertulis dalam Pararaton (terkenal dengan Sumpah Palapa).

Meski terpecah-pecah, hubungan antara keempat kerajaan ini sangat dekat. Ketika salah satu kerajaan mendapatkan serangan dari pihak luar, maka kerajaan lainnya akan turut membantu. Dengan pertimbangan kedekatan hubungan antara keempat kerajaan inilah, Gocah Pahlawan dari Kesultanan Aceh mengurungkan niat melakukan serangan terbuka dalam menaklukkan keempat kerajaan ini.

Gocah Pahlawan pun akhirnya memutuskan untuk mengedepankan diplomasi, sehingga pada akhirnya ia pun menikah dengan adik Raja Urung Sunggal bernama Nang Baluan Br Surbakti.

Dalam perjalanan waktu, Gocah Pahlawan akhirnya naik tahta menjadi raja di Deli. Dengan peristiwa tersebut, Kerajaan Deli telah resmi berdiri, dan Laksamana menjadi Raja Deli pertama.

Dalam proses penobatan Raja Deli, Raja Urung Sunggal juga bertugas selaku Ulun Jandi (Kalimbubu) yang memberikan berkat kepada pihak menantu (kela/anak beru). Selain keberadaan Ulun Jandi, penobatan Raja Deli juga ditandai dengan terbentuknya Lembaga Datuk Berempat.

Lembaga Datuk Berempat berangggotakan Kerajaan Urung Karo terdiri dari Raja Urung Sunggal, Raja Urung Senembah, Raja Urung 12 Kuta, dan Raja Urung Sukapiring berfungsi sebagai Dewan Penasehat Pemerintahan Kesultanan Deli.

Guru Patimpus dan Kota Medan

Guru Patimpus Sembiring Pelawi yang berasal dari Dataran Tinggi Karo menikah dengan seorang putri dari Pulau Brayan. Pada sekitar tahun 1590, Guru Patimpus membuka dan mendirikan kampung dipertemuan dua buah sungai Deli dan Babura yang dinamainya dengan ‘Medan’.

Dari hasil perkawinan dengan putri Pulau Brayan, lahirlah seorang putra yang diberi nama Hafis Muda, dari sinilah silsilah ketururunan Datuk Wajir Urung 12 Kuta dimulai.

Sebagaimana diketahui, bahwa Urung 12 Kuta merupakan anggota dari Lembaga Datuk Berempat, yakni lembaga di Kesultanan Deli yang bertugas untuk menjadi Dewan Penasehat Raja.