Berlian Hitam dari Sumatera, Sudahkah Rakyat Sejahtera Karenanya?

Berlian Hitam dari Sumatera, Sudahkah Rakyat Sejahtera Karenanya?

Oleh: Joppy Kheristian Sinulingga, S.Sos

Aroma khas komoditi produk pasar internasional yang menggugah selera dari tanah Sumatera sudah berpetualang ke berbagai belahan dunia. Komoditi ini merupakan hasil pertanian Sumatera, yakni kopi arabica dan robusta, merupakan varietas kopi yang sudah lama dibudiyakan di daerah ini.

Terdapat beberapa jenis olahan kopi lokal dengan ciri khas yang berbeda, namun secara umum semuanya turut diminati oleh pecinta kopi di seluruh penjuru dunia.

Namun apakah citra rasa aroma nikmat khas Kopi yang dirasakan penikmat dan pencinta kopi turut dirasakan pula kenikmatannya oleh petani Kopi di daerah Sumatera?

Jika kita melihat pasaran dan pemasaran kopi daerah Sumatera, sudah seharusnya petani kopi di desa-desa turut pula menikmati kenikmatan kopi yang mereka pelihara dengan sepenuh hati.

Disisi lain, kita justru masih melihat bagaimana petani kopi di desa tetap menikmati pahitnya aroma kopi. Kenaikan harga kopi di pasar internasional tidak dinikmati petani kopi. Justru yang menikmatinya hanya tengkulak dan supplier dan beberapa oknum saja.

Sekarang ini banyak orang yang demam dengan potensi berlian hitam ini. Namun hanya sedikit yang berpikir untuk kesejahteraan petani kopi yang bertahu-tahun merawat kopi hingga dapat dicicipi penikmatannya.

Pernahkah kita berpikir dibenak, bahwa seorang petani kopi juga punya mimpi menyekolahkan putra-putrinya sampai ke universitas ternama dunia? Dengan kata lain, ketika produk yang dihasilkan oleh petani daerah Sumatera dapat diterima dan dinikmati masyarakat di seluruh dunia, lalu mengapa tidak bagi putra-putri mereka dalam rangka mengecap perkuliahan di berbagai negara dengan komoditas produk kopi yang mereka miliki?

Kadang kita berada di kebun kopi, bagimana biji kopi terbaik ini bisa membawa putra-putri melanjut menuju universitas terbaik dunia. Kenikmatan dan potensi kopi sengaja ditutupi oleh pihak kapitalisme untuk dijadiken mesin ATM yang terus mengalir seperti air kopi yang mengalir cangkir.

Sekarang mari kita berpikir untuk diri kita dan juga mereka. Mereka juga butuh, kita juga. Jangan menikmati kenikmatan sensasi ngopi diatas pundak kepahitan petani Kopi.