Ada Gunung Meletus Dibalik Gedung Pencakar Langit, Apa Arti Gambar Ini Sebenarnya?

Ada Gunung Meletus Dibalik Gedung Pencakar Langit, Apa Arti Gambar Ini Sebenarnya?

Foto: Karya Boy Brahmana di Berastagi Mural Art Festival

Sipayo.com – Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-72, panitia penyelengara perayaan hari kemerdekaan kota wisata Berastagi menggelar Mural Art Festival yang telah berlangsung pada 13 Agustus kemarin. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke dataran tinggi Karo.

Dalam kegiatan Mural Art Festival, Boy Brahmana salah satu arsitek jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga berdarah Karo, turut menjadi salah satu peserta.

Tidak tanggung-tanggung, Boy Brahmana tidak hanya sendirian ikut dalam kegiatan melukis di atas media dinding atau tembok ini. Namun, ia turut memboyong kedua anak dan istrinya.

Nah, dalam kegiatan Mural Art Festival, Boy membuat lukisan yang maknanya sulit dimengerti. Dalam karya tersebut, dia melukis ada gambar gunung meletus dibalik gedung pencakar langit yang berdiri menjulang tinggi.

Tidak hanya itu, tampak juga seseorang yang sedang memegang bendera Merah Putih, serta terlihat pula ada pohon-pohon yang  telah mengering.

“Ada beberapa yang bertanya tentang apa cerita dibalik gambar mural di Berastagi ini, yang kami buat bersama Arthesa, Nissiel anak saya,” tulis Boy Brahmana melalui akun Facebook pribadinya, Selasa (15/8/2017).

Dalam tulisan di Facebook, Boy Brahmana juga menjelaskan arti dan makna gambar yang menurutnya belum diselesaikan karena dalam penyelenggaraan Mural Art Festival sempat diwarnai turun hujan, dan waktu habis.

“Menjawab pertanyaan, gambarnya belum selesai karena hujan waktu habis. Saya sampaikan silahkan interpertasi masing-masing,” tulisnya.

Secara gamblang Boy menjawab arti dan makna gambar, sebagai berikut:

Tanah Karo hidup diantara Bencana Sinabung dan pertanian kering dan rusak, sampai hari ini tak ada solusi. Negara tak hadir secara sungguh sungguh, menjalankan UU Kebencanaan. Sang bidadari Sinabung, menyampaikan pesan di hari kemerdekaan ke 72, kepada penguasa di menara Gading Jakarta ,dipuncak kekuasaan, bahwa: “Kami juga Indonesia, jangan tinggalkan kami, merahputih tetap dalam genggaman” menanti kebijakan Sinabung Bencana Nasional. Atau mungkin Pusaran Kepemimpinan bangsa, menganggap Letusan Sinabung sebagai ‘Kentut’ dari Karo, yang berbau dan tak terlihat, sebentar ada sebentar hilang, cukup ditiup angin dan jangan mengganggu pembangunan dan investasi infrastruktur ambisius. Silahkan komentar karena seni itu merdeka…