Marginalisasi Becak Manual di Kota Medan

Marginalisasi Becak Manual di Kota Medan

Oleh: Sry Astanaria Sembiring

Becak merupakan salah satu angkutan atau transportasi yang sudah dikenal luas oleh masyarakat khususnya, di kota Medan. Kehadiran becak pertama kali belumlah seperti sekarang yang sudah menggunakan mesin, melainkan masih becak kayuh atau becak sepeda yang mengandalkan tenaga manusia untuk menggerakkannya. Becak juga merupakan salah satu ikon kota Medan.

Seiring berjalannya waktu dan kebutuhan manusia akan kecepatan dan efisiensi waktu, menyebabkan eksistensi becak mulai tergantikan dengan alat transportasi online. Kemudahan memesan angkutan dari rumah serta banyaknya pilihan ditambah harga yang jelas membuat masyarakat perlahan–lahan mengurangi menggunanakan angkutan manual seperti becak in.

Perubahan zaman dengan ditambah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering kali membawa perubahan yang sangat signifikan dalam rentang waktu yang yang sangat cepat dalam kehidupan masyarakat. Adanya terobosan baru yang lebih mudah, murah dan aman membuat masyarakat dalam waktu dekat memilih angkutan berbasis online. Ketika era modern didukung teknologi yang sangat canggih mengharuskan masyarakat mau tidak mau harus kembali mempelajari teknologi ini. Ketidakmampuan seseorang dalam memahami dan memanfaatkan teknologi akan mengakibatkan ia mengalami peminggiran (marginalisasi).

Marginalisasi ini nantinya tidak hanya terjadi di lingkungan masyarakat, namun juga sangat berpengaruh pada tingkat penghasilan atau ekonomi individu yang mengalaminya. Marginalisasi yang dialami oleh tukang angkutan becak manual ini semakin hari semakin memprihatinkan. Hal ini terjadi karena adanya berbagai jenis pilihan angkutan berbasis online.

Sebenarnya di kota Medan sendiri beberapa unit becak telah bergabung dengan angkutan berbasis online yang ada. Ketika beberapa waktu lalu penulis menggunakan becak manual atau dapat dikatakan becak yang belum bergabung dengan transportasi online, penulis sempat menanyakan mengapa mereka (becak yang penulis jumpai di depan gang) masih tidak tergabung dalam angkutan online? Salah satu alasannya karena mereka percaya, bahwa meskipun manual dan tidak tergabung ke transportasi online, mereka (tukang becak) masih dibutuhkan oleh masyarakat meskipun sering sekali kesulitan mencari penumpang. Tidak seperti sebelum – sebelumnya ketika becak masih di pakai oleh banyak mahasiswa.

Marginalisasi tukang becak manual juga bukan hanya terjadi di depan gang yang saya lewati saja, melainkan terjadi juga di lingkungan kampus USU. Seperti yang penulis amati beberapa hari lalu ketika penulis ingin pergi ke kos–kosan teman di wilayah pasar I, penulis mengamati tukang becak yang sedang menunggu penumpang yang lewat dari tembok jebol. Mereka seperti menunggu–nunggu penumpang atau biasanya mahasiswa untuk di antar ke kampus. Ketika mahasiswa lewat, mereka dengan antusias akan bertanya fakultas tujuan mahasiswa.

Namun sepertinya raut wajah bahagia yang mereka tunjukkan tidak akan bertahan lama. Hal tesebut disebabkan karena untuk kampus USU sendiri memiliki bus yang berkeliling. Selain itu seperti yang sudah penulis jelaskan sebelumnya bahwa kemudahan, kecepatan dan kemurahan transportasi sudah menjadi prioritas setiap orang. Rata- rata mahasiswa telah menggunakan transportasi berbasis online sehingga, ketika keluar dari rumah, kebanyakan dari mereka telah memesan transportasi online.

Di era modern seperti sekarang ini, mengharuskan setiap orang untuk dapat menggunakan dan memanfaatkan teknologi seoptimal mungkin. Tanpa penguasaan teknologi yang baik maka setiap orang dapat tergeser mata pencaharian dan eksisitensinya. Karena peranan teknologi ini sangat penting dan menyentuh semua lapisan masyarakat, maka pemerintah dan masyarakat seharusnya sudah bekerjasama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Setiap masyarakat harus menyadari dan memahami arti penting teknologi sehingga dapat memanfatkannya dengan baik.

Terkhusus untuk becak manual ini sendiri sudah saatnya berinovasi, sehingga becak manual bukan lagi pilihan kedua masyarakat dalam memilih angkutan atau transportasi. Dengan demikian diharapkan, eksistensi becak ini tetap terjaga dan tidak hilang dari kota Medan, yang selama ini telah identik menjadi ikon, sehingga becak Kota Medan harus dilestarikan.

*Penulis adalah Mahasiswa Semester III di Fakultas Fisip USU Jurusan Sosiologi