Ngeri! Cacing Pita Terpanjang di Dunia Dikeluarkan Dari Perut Warga Kabupaten Simalungun

Ngeri! Cacing Pita Terpanjang di Dunia Dikeluarkan Dari Perut Warga Kabupaten Simalungun

Foto: Cacing Pita Terpanjang di Dunia Ditemukan di Simalungun

Sipayo.com – Cacing pita yang memiliki panjang 2,86 meter dengan jenis Taeniasis dikeluarkan dari tubuh seorang warga Desa Nagari Dolok, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun, Kamis (21/9/2017) lalu.

Penemuan cacing pita ini disebutkan merupakan yang terpanjang di dunia, karena sebelumnya ditemukan cacing pita sepanjang 1,5 meter dari tubuh orang di Bangladesh.

Cacing pita terpanjang yang ditemukan ini diungkapkan oleh dr Umar Zein, dalam seminar proposal penelitian Survei Epidemiologi dan Observasi Kasus Taeniasis di Desa Nagari Dolok, Kecamatan Silau Kahaean, Simalungun yang digelar di lantai 7 gedung Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara (FK UISU), Jalan STM, Medan Johor, Kamis (19/10/2017) siang.

Dijelaskan Umar Zein, awalnya seorang warga Desa Nagari Dolok, Silau Kahaean, Simalungun datang kepadanya untuk berobat karena keluhan di perut.

Setelah diperiksa, didiagnosa kalau orang tersebut menderita Taeniasis atau penyakit akibat parasit berupa cacing pita yang tergolong dalam genus Taenia yang dapat menular dari hewan ke manusia, maupun sebaliknya.

Mengingat 3 tahun lalu juga ada kasus serupa dari daerah yang sama, kata Umar Zein, dirinya membentuk tim untuk melakukan penelitian.

Kemudian, mereka mengambil sampel 29 orang suspect Taeniasis dan diberikan obat Paraziquantel 1 tablet ukuran 600 Mg setiap orang. Selanjutnya, setiap orang diberikan obat pencahar.

“Kemudian semua orang itu BAB. Hasilnya, ada keluar proglotid yang keluar bersama tinja setelah pemberian obat Praziquantel. Setelah itu Strobila atau skolek yang keluar, menandakan cacingnya sudah mati. Namun, ada kita temukan satu cacing sepanjang 2,8 meter,” ujar Umar.

Menurut Umar, berdasarkan laporan yang diterimanya, faktor risiko yang menyebabkan itu karena kebiasaan mengkonsumsi hinasumba dan naihollat yang dagingnya dimasak tidak sempurna. Dijelaskan Umar, Taeniasis dapat disebabkan dari daging babi dan sapi, bila dimasak tidak sempurna.

Babi atau sapi memakan rumput yang mengandung telur. Kemudian telur itu berkembang menjadi kista di dalam daging babi atau sapi.

Selanjutnya, daging babi atau sapi itu dimasak tidak sempurna lalu dikonsumsi sehingga berkembang hingga dewasa di dalam usus orang yang mengkonsumsinya.

“Taeniasis adalah penyakit yang terabaikan karena hampir belum pernah ditemukan kasusnya. Selain itu, penyakit ini selalu dianggap sepele karena memang penderitanya tidak meneyebabkan kematian. Kalaupun kita tahu diagnosisnya, mengobatinya juga tidak mudah karena obatnya sulit didapat, “ jelas mantan Dirut RSU dr Pirngadi ini.