Gadget dan Alienasi Manusia dari Dunia Nyata

Gadget dan Alienasi Manusia dari Dunia Nyata

Foto: Ilustrasi

Oleh: Sry Astanaria Sembiring

Penemuan telepon genggam tidak lepas dari perkembangan radio. Penemuan telepon genggam dimulai pada tahun 1921 ketika Departeman Kepolisian Detroit Michigan mencoba menggunakan telepon mobil satu arah. Pada masa perang dunia ke II, telepon genggam mulai diperkenalkan melalui pengembangan portable Handie- talkie SCR 536 dan merupakan generasi nol telepon genggam (0-G) dan tentunya masih dengan kelemahan dan masalah pada jaringan.

Seiring berjalannya waktu dan ilmu pengetahuan manusia semakin berkembang, sehingga menimbulkan rasa ketidakpuasan terhadap teknologi yang ada sehingga muncul perkembangan telepon generasi I, II, III, dan IV seperti yang kita kenal sekarang dengan fitur- fitur yang lebih menarik dan menawarkan banyaknya kemudahan, serta dikenal dengan istilah smartphone atau gadget.

Dewasa ini, penggunaan gadget menjadi sebuah fenomena yang tidak terlepas dari kegiatan maupun aktifitas manusia setiap hari. Penggunaan gadged kian hari kian booming di berbagai kalangan di masyarakat. Penggunaan gadget juga tidak hanya terjadi pada kalangan anak muda saja, tapi para orangtua juga sudah menjadikanya sebagai teman yang tak terpisahkan dari kegiatan sehari – hari yang mereka lakukan.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menjanjikan berbagai kemudahan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup dan juga efisiensi waktu bagi pemakainya. Munculnya perkembangan teknlogi yang begitu cepat membuat masyarakat harus terus belajar dan mengimbangi perkembangan teknologi yang ada dengan ilmu pengetahuan untuk dapat menerima perubahan. Perubahan yang cepat ini sering kali membuat masyarakat terlena dan terbuai dengan kecanggihan teknologi ini, terutama perkembangan pada gadget yang ada sekarang.

Di balik perkembangan yang cepat ini, secara tidak sadar manusia telah dikotak – kotakkan oleh teknologi. Akibat perubahan yang signifikan membuat masyarakat kagum luar biasa dengan teknologi ini, sehingga banyak menimbulkan perubahan sikap dan pola perilaku masyarakat.

Ketika orang diluar negeri mulai borkoalisi untuk membuat sesuatu, banyak di antara kita masih asik menggosok layar yang tak seberapa terpampang di depan kita. Dan seringkali penggunaan gadget bukan ke hal yang positif melainkan hanya untuk mencari hiburan semata dan menghadirkan alienasi (proses menuju keterasingan) yang tak terkira di dunia nyata.

Awal alienasi

Jika seseorang terlalu sibuk dan menekuni aplikasi sosial media, menyebabkan ia secara tidak sadar mulai ter-alienasi dari keluarga, lingkungan, teman dan dunia nyata di sekitarnya. Orang– orang seperti ini biasanya cenderung tertutup terhadap orang lain maupun lingkungan sosialnya. Pengguna gadget yang berlebihan seakan- akan memiliki dunianya sendiri sehingga kurang peka terhadap lingkungan sekitarnya.

Munculnya sikap individualisme

Sikap individualisme atau hanya mementingkan diri sendiri adalah sikap yang paling nyata terlihat ketika seseorang telah memegang gadget. Hal ini dapat kita amati pada pola perilaku masyarakat di tempat umum yang tidak lagi menyapa teman di sebelahnya untuk melakukan komunikasi. Setiap orang yang saling berdekatan pun tidak lagi saling menyapa dan sibuk dengan aplikasi sosial media di gadget masing- masing.

Setiap ada perkumpulan, baik seminar atau acara – acara lainnya, baik formal maupun informal, yang diutamakan bukan lagi acara yang dihadiri melainkan orang –orang sibuk mencari spot foto yang bagus dari berbagai sudut tempat yang digunakan untuk kemudian memamerkannnya pada teman – teman mereka di dunia maya atau sosial media.

Bahkan yang lebih tidak manusiawi lagi, ketika ada kecelakaan di jalan raya, bukan korban kecelakaan yang langsung di tolong, melainkan mengambil foto korban dulu untuk di posting di media sosial. Pengguna gadget yang seperti ini tentu adalah salah satu sisi negatifnya, penggunaan gadget untuk mengakasaes media sosial seharusnya dilakukan untuk meningkatkan informasi dan peluang tambahan penghasilan apabila memang memungkinkan.

Tumbuh kembang generasi menunduk

Setelah memegang gadget, seseorang tidak akan melakukan komunikasi dengan orang sekitarnya, melainkan mereka akan sibuk dengan aktifitas sosial media yang mereka miliki. Setiap orang akan mulai menggosok – gosok layar yang ada di depannya, dan bisa sambil tersenyum sendiri, bahkan tak jarang juga kesal, marah, jengkel yang ditunjukkan melalui ekspresi.

Perkembangan teknologi yang sangat pesat membuat orang mendapatkan kemudahan mulai dari memesan makanan dari rumah, memesan baju dari toko online dan sebagainya. Kemudahan memenuhi kebutuhan hidup dari media sosial ini membuat orang semakin menekuni layar gadget masing- masing.

Perkembangan gadget yang sangat pesat serta kemudahan yang ditawarkan teknologi membuat masyarakat yang kurang bijak dalam memilah dan memilih informasi akan semakin mudah terprovokasi dari media sosial yang ditekuninya. Hal tersebut tentunya akan merugikan diri mereka sendiri dan mereka semakin jauh dari dunia nyata karena terlalu mengagungkan teknologi khususnya gadget mereka.

Gadget sebenarnya dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat seperti berjualan online, memperoleh informasi, menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, serta membantu generasi muda khusunya pelajar dan mahasiswa untuk dapat menyelesaikan tugas dari guru atau dosen.

Dengan demikian, sudah seharusnya generasi muda sebagai penerus bangsa sebaiknya tidak hanya menggunakan gadget untuk bermain media sosial dan game online saja. Perkembangan teknologi yang ada sebaiknya digunakan oleh generasi muda untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya serta memperbaiki kondisi masyarakat.

Hal tersebut tentu dapat diwujudkan dengan misalnya, penggunaan gadget untuk membantu menggalang dana dan bantuan sosial lainnya. Dengan demikian, sehingga selain untuk melatih kepekaan, generasi muda diharapkan tidak semakin ter-alienasi dari dunianya yang nyata dan dapat memanfaatkan teknologi ini untuk perkembangan dirinya dimasa yang akan datang.

*Penulis adalah Mahasiswa Semester III di Fakultas Fisip USU Jurusan Sosiologi