Harga Anjlok, Petani Jeruk Karo Menjerit

Harga Anjlok, Petani Jeruk Karo Menjerit

Foto: Kebun Jeruk

Sipayo.com – Menghadapi serangan hama lalat buah yang belum teratasi hingga dewasa ini, petani jeruk di Kabupaten Karo tampaknya harus lebih berlapang dada dihadapkan dengan anjloknya harga komoditi dataran tinggi itu.

Ditambah lagi kenaikan harga pupuk dan obat – obatan (insektisida dan pestisida dll), banyak petani jeruk yang kini telah beralih ke komoditi lain seperti tanaman kopi dan tanaman hortikultura.

“Saat ini harga jeruk di tingkat petani berada pada kisaran 4.500 – 5.000 rupiah perkilogram. Dengan harga tersebut dapat dipastikan petani mengalami kerugian bila dibanding dengan biaya produksinya. Ditambah lagi saat ini harga pupuk naik hingga 30 persen dan harga obat – obatan seperti insek dan pestisida mengalami kenaikan hingga 20 persen,” ungkap Deco Sembiring, petani jeruk dari Kota Berastagi.

Dijabarkan Deco, perkilogram buah jeruk membutuhkan modal Rp 2.500 – 3.000. Biaya tersebut belum termasuk untuk ongkos tenaga kerja dan biaya tongkat penyangga dahan (dahan buah) Rp. 1000 per tongkat. Dalam 1 batang jeruk yang produktif, biasanya memerlukan empat tongkat penyangga.

Sementara untuk biaya tanaman jeruk, dari mulai tanam hingga panen, menurut Deco, bervariasi tergantung dengan umur dan metode perawatan.

“Dengan kondisi harga yang anjlok serta serangan hama lalat buah, petani jeruk hanya bisa berpasrah dan berharap pemerintah dapat peka dengan kondisi petani jeruk saat ini. Apalagi, belum lama ini Pemerintah mengimpor jeruk mandarin hingga diatas 1000 persen. Hal tersebut juga saya kira berpengaruh terhadap turunnya harga jeruk,”imbuh Deco lagi.

Terkait dengan hama lalat buah, menurutnya hingga saat ini belum dapat teratasi karena petani belum ada kebersamaan dalam membasminya. Seperti contoh dalam pemasangan anti lat dan penyemprotan obat – obatan.

Untuk itu, Deco pun meminta agar pemerintah membuat terobosan baru dalam mengatasi serangan hama yang cukup ganas menyengat buah jeruk petani. Hal itu katanya dapat dibuat berupa gerakan serentak bersama petani dalam pemasangan anti lat dan penyemprotan.

“Kalau pemerintah hanya sebatas menghimbau petani, saya kira itu tidak akan bisa maksimal. Mungkin pemerintah dapat membuat gerakan memasang anti lat secara bersama – sama atau membuat jadwal mompa (menyemprot obat) secara bersamaan. Mungkin dengan begitu persoaalan hama lalat buah ini bisa ditekan intensitasnya perkembangannya,”tandas Deco Sembiring.  (Ebn)