Ini Sejumlah Ucapan Stephen Hawking Jelang Meninggal Dunia yang Mencengangkan

Ini Sejumlah Ucapan Stephen Hawking Jelang Meninggal Dunia yang Mencengangkan

Foto: Stephen Hawking

Sipayo.com – Sosok ilmuan dunia bernama Stephen Hawking, terlihat di sepanjang hidupnya telah banyak menelurkan teori yang bikin terpana. Termasuk sebelum meninggal dunia, dia masih saja sangat rajin mengutarakan pemikiran yang menggugah.

Meski dilanda sakit parah sejak lama, Hawking yang asli Inggris ini memang tak pernah berhenti berkarya dan memukau dunia sains. Hingga akhirnya Tuhan baru saja memanggilnya di usia 76 tahun.

Berikut ini adalah beberapa pendapat menggugah yang ia katakan belum lama ini, terutama pada akhir tahun 2017 lalu. Dari Bumi bisa kering seperti planet Venus hingga bahaya kecerdasan buatan bagi manusia.

Dalam sebuah tayangan berjudul Stephen Hawking’s Favorite Places di awal tahun ini, yang dapat ditonton lewat situs CuriosityStream, fisikawan ulung ini menggunakan Venus sebagai contoh bahwa segalanya bisa menjadi buruk bagi sebuah planet.

“Venus tak ubahnya Bumi dalam berbagai hal. Planet ini hampir memiliki ukuran yang sama dengan Bumi, mendapat paparan Matahari sedikit lebih banyak, juga memiliki atmosfer,” ujarnya. Dalam sebuah serial yang memasuki episode kedua tersebut, Hawking tampak masuk menelusuri Venus dengan menyibak awan berbahan dasar asam sulfur.

Dari situ, ia pun menemukan bahwa tekanan di Venus mencapai hingga 90 kali lebih besar dibanding Bumi, yang dikatakannya cukup untuk menghancurkan kapal selam. Bukan hanya itu, suhu di dalamnya pun juga sangat tidak bersahabat, yaitu 462 derajat celsius.

Menurutnya, kedua fenomena tersebut terjadi karena efek rumah kaca yang sudah tidak terkendali. Hawking pun secara terang-terangan menunjukkan kekhawatirannya akan hal tersebut yang bisa saja menimpa Bumi.

Stephen Hawking pada November 2017 juga berbicara mengenai nasib Bumi di masa yang akan datang. Dia memperkirakan Bumi akan berubah menjadi bola api dalam 600 tahun ke depan, dan itu merupakan ulah manusia.

Artinya, pada sekitar tahun 2600 bumi akan menghadapi bencana besar. Astrofisikawan kenamaan ini percaya bahwa membludaknya populasi di dunia yang diikuti oleh kebutuhan besar terhadap energi akan memicu kehancuran tersebut.

Ia beranggapan bahwa para peneliti harus mulai mencari Bintang baru dengan planet yang mampu menjadi tempat hunian, dengan kawasan Alpha Centauri menjadi kandidat terbaik untuk mendukung misi penyelamatan ras manusia.

“Untuk itu, para investor yang memiliki dana besar sangat dibutuhkan untuk mendukung proyek tersebut, yang akan memungkinkan manusia berada di sistem bintang lain,” ujarnya dalam Tencent Web Summit di Beijing, China.

Masih di akhir tahun lalu, Stephen Hawking kembali memperingatkan dunia bahwa perkembangan kecerdasan buatan semakin pesat dan nyata, dan akan menyalip kehebatan manusia.

Meskipun ia tidak memberikan waktu yang spesifik kapan hal tersebut akan terjadi, namun Stephen meyakini bahwa kecerdasan buatan alias AI atau artificial intelligence akan menggantikan manusia secara seutuhnya.

“Saya takut kecerdasan buatan akan menggantikan manusia secara keseluruhan. Mereka layaknya virus komputer yang dapat mengembangkan kemampuan dan mereplikasi diri,” ujarnya.

Ia menambahkan, bahwa hal tersebut dapat memicu bentuk baru kehidupan yang akan membuat manusia tertinggal.

Pernyataan dari Stephen Hawking tersebut diperkuat dengan laporan dari PricewaterhouseCoopers (PwC) bahwa empat dari sepuluh pekerjaan yang ada di dunia sangat riskan tergantikan oleh robot.

Di November tahun lalu, Stephen Hawking menginginkan era baru dalam dunia luar angkasa — yang tidak lagi sekedar mengirimkan manusia ke Bulan, tapi ke planet-planet yang mungkin bisa menjadi habitat manusia.

Astrofisikawan kawakan ini menegaskan bahwa program eksplorasi antariksa dengan tujuan melihat kemungkinan terhadap kolonisasi manusia menuju planet layak huni harus menjadi prioritas utama.

Pernyataan tersebut sesuai dengan perkataannya sebelumnya, yang menjelaskan bahwa para peneliti harus memulai rencana untuk mencari rumah berikutnya bagi manusia mengingat kerusakan yang sudah dilakukan manusia kepada Bumi.

“Saya percaya bahwa kita sudah sampai pada tahap di mana kita tidak bisa kembali lagi. Bumi sudah terlalu kecil bagi seluruh manusia. Populasi global yang terus meningkat menjadi alarm bahwa kita sedang mengarah pada kehancuran kita sendiri,” ujarnya.