Kisah Menginspirasi Pendeta Frisaka dari Minahasa Menginjil di Tanah Karo

Kisah Menginspirasi Pendeta Frisaka dari Minahasa Menginjil di Tanah Karo

Foto : Pendeta Frisaka Tirsa Oley

Sipayo.com – Cerita menginspirasi datang dari Pendeta (Pdt) Friska Tirsa Oley MTh dari Minahasa, melayani sampai ke desa terpencil sebagai Tenaga Utusan GMIM di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Sumatera Utara. Pelayanannya dimulai dari posko-posko pengungsian korban letusan gunung Sinabung.

Waktu tiba di Kabupaten Karo Sumatera Utara, ia sempat kaget dan kebingungan dengan bahasa daerah mereka karena semuanya menggunakan bahasa Batak Karo. Ditambah lagi, kedatangannya disambut dengan erupsi Gunung Sinabung. Keadaan yang memprihatinkan seperti itu tidak membuat semangat melayaninya padam.

“Selama 6 bulan saya melayani di panti asuhan dan SLB milik GBKP,” kata dia, Kamis (22/3/2018), mengisahkan kenangan tak terlupakannya.

Yang dilayaninya adalah anak-anak disabilitas dan berkebutuhan khusus. Ia tinggal bersama mereka dan mengetahui lebih dekat rutinitas mereka yang tetap beraktivitas walau ada keterbatasan fisik. Dari situ dia belajar melayani dengan kesungguhan dan kesabaran.

“Dari situ saya belajar melayani dengan kesungguhan dan kesabaran,” kata Pdt Friska.

Ia mengatakan pelayanan di tempat yang notabene bukan orang Minahasa, dari segi adat dan budaya yang berbeda membawa ia menemukan beberapa pergumulan. Kadang-kadang dicurigai bahkan pernah ditolak.

“Bukan gampang mengubah cara pandang jemaat untuk menjadi peduli pada pelayanan dan gereja. Mau gereja, mau ibadah. Bagi mereka tidak penting punya agama, asal beradat saja itu sudah lebih dari cukup,” sebutnya.

Tapi, lanjut dia, beberapa bulan terakhir sudah mulai ada yang peduli dengan gereja dan mau beribadah. Diceritakannya, bukan sedikit orang-orang di sana yang masih percaya kepada okultisme atau kuasa di dunia yang dipercaya bisa menyembuhkan dan sebagainya.

Keputusannya menjadi TUG mendapat dukungan dari orangtuanya. Ia semakin terdorong ketika tahu bahwa akan ditempatkan di jauh melayani orang-orang yang percaya Tuhan. Keadaan yang memprihatinkan seperti itu tidak membuat semangat melayaninya padam.

“Selama melayani GBKP ada suka dan dukanya, bisa punya teman, saudara, keluarga baru, dan banyak pengalaman. Diberi kesempatan bahasa Karo menjadi kesukacitaan bagi saya tetapi saat kesepian teringat orangtua, teman dan orang terkasih sering membuat sedih,” ujarnya.