Begini Penjelasan Polri Terkait Video Santri Pakai Sarung dan Koko yang Dirazia

Begini Penjelasan Polri Terkait Video Santri Pakai Sarung dan Koko yang Dirazia

Foto : Pemeriksaan yang Dilakukan Oleh Pihhak Kepolisian Kepada Salah Satu Santri

Sipayo.com – Peristiwa serangan teror bom di Surabaya dan penangkapan sejumlah terduga teroris di sejumlah tempat, dan sejumlah daerah ditetapkan siaga 1.

Hal itu membuat sejumlah aparat kepolisian meningkatkan penjagaan dan kewaspadaan, sehingga orang-orang yang dicurigai oleh aparat keamanan, diminta membongkar isi barang bawaan mereka.

Seperti halnya video pemeriksaan polisi kepada seorang pria bersarung dan peci yang viral di media sosial. Video berduras 51 detik itu menampilkan aparat memeriksa seorang pria yang mengenakan baju koko dan sarung cingkrang membawa kardus dan tas ransel.

Terkait hal itu, Polri menjelaskan mengenai video itu. Video itu beredar di grup WhatsApp. Terlihat beberapa polisi dari jarak sekitar 10 meter meminta pria bersarung itu mengeluarkan isi tas.

“Tasnya, tasnya. Tasnya suruh lepas,” terdengar suara dari sisi polisi dalam video yang viral, Selasa (15/5/2018).

Diduga pria tersebut berjalan kaki dan diberhentikan polisi. Pria itu diminta menunjukkan isi tas dan isi kardusnya.

Pria bersarung itu pun merobek sisi pinggiran kardus yang sudah dikemas rapi dan menghambur-hamburkan baju di dalamnya.

“Kok ngamuk? Ngamuk,” kembali terdengar suara dari sisi polisi.

Pria itu kemudian mengangkat kardus dan membalikkan posisinya untuk membuktikan tidak ada lagi barang di dalam kardus. Video ini mendapatkan tanggapan yang beragam.

Dimintai konfirmasi soal ini, Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto mengatakan apa yang dilakukan polisi di video itu sesuai dengan prosedur antisipasi setiap potensi teror.

“Ya, kita tidak boleh underestimate juga. Karena faktanya di Mako Brimob itu dia dicek di badan, di tas nggak ada senjatanya. Ternyata senjatanya ditaruh di bawah kemaluan. Nah, mohon maaf kalau kepada masyarakat yang kemudian disetop, dimintai keterangan atau ditanya, seharusnya harus kooperatif kalau dia tidak mempunyai masalah,” ujar Setyo.

Khusus mengenai video yang viral itu, menurut Setyo, si pria seharusnya tidak perlu sampai membuang-buang baju yang ada di dalam tasnya. Pria itu, lanjut Setyo, cukup mengeluarkan dengan cara proporsional.

“Karena yang viral kan ada yang sampai buang-buang bajunya. Sebenarnya tidak perlu begitu kalau memang dia tidak ada masalah, buka saja, ‘Pak, ini Pak, saya bawanya, silakan.’ Anggota juga tidak berani mendekat karena kalau mendekat tiba-tiba itu isi bahan peledak atau bom, ya aparat juga harus jaga keselamatannya juga. Contoh di gereja Surabaya, dia tidak kelihatan bawa apa-apa, ternyata meledak juga. Masyarakat harus maklum kalau sampai dia dicurigai, ya buka saja, lihatkan dia bawanya apa saja. Kadang-kadang intuisi seorang petugas yang sedang bertugas, ini orang mencurigakan atau tidak,” sambung Setyo.