Wow! Terdapat Gua Tsunami Sebagai Bukti Bencana Alam di Aceh 7.400 Tahun yang Lalu

Wow! Terdapat Gua Tsunami Sebagai Bukti Bencana Alam di Aceh 7.400 Tahun yang Lalu

Gua Tsunami Sebagai Bukti Bencana Alam di Aceh 7.400 Tahun yang Lalu (Foto: Istimewa)

Sipayo.com – Di Aceh ditemukan gua yang menyimpan jejak tsunami dahsyat pada masa lalu. Konon gua ini telah ada semenjak 7.400 tahun yang lalu.

Ternyata bencana tsunami yang melanda Aceh bukan hanya terjadi pada 26 Desember 2004. Jauh sebelum itu, sekitar 7400 tahun silam, provinsi Serambi Mekkah ini juga pernah diterjang gelombang dahsyat. Jejak-jejaknya tsunami masa lalu masih tersimpan di Gua Ek Leuntie di Aceh Besar, Aceh.

Gua yang berada di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Lhoong, Aceh Besar itu, merupakan bukti yang membantah teori bahwa tsunami di Aceh terjadi berulang secara teratur. Peneliti dari lembaga tsunami TDMRC, Nazli Ismail, menyebut sebenarnya gua ini bukan satu-satunya bukti.

“Untuk bukti gua cuma satu, tetapi kita punya banyak sekali tempat-tempat lain yang masing-masing punya karakteristik sendri. Di tempat lain, kita menemukan bukti seperti kehidupan purba, misalnya, ada kerajaan dibuktikan dengan temuan bekas kerajaan,” jelas Nazli kepada wartawan, Selasa (29/5).

“Di beberapa tempat, kita juga menemukan ada hubungannya dengan penurunan lahan ke laut, misalnya di Ujung Pancu. Di mana sebelumnya adalah daratan kemudian turun jadi lautan,” lanjutnya.

Saat ini, lembaga penelitiannya sedang mencoba mengaitkan hasil penelitian tentang tsunami Aceh 7.400 tahun silam di Samudera Pasai. Dalam penelitian itu diketahui, hampir semua bangunan bekas kerajaan Samudera Pasai tertimbun oleh pasir tebal.

Yang jelas, Nazli berharap hasil penelitian tersebut bisa memberikan manfaat. Misalnya dengan menetapkan gua tsunami menjadi geopark atau cagar budaya untuk memberikan pembelajaran terhadap masyarakat tentang dampak tsunami dan kesiagaan terhadap bencana.

“Jadi bagaimana caranya membuat masyarakat tahu, ya dengan memberikan pendidikan. Salah satunya adalah dengan membangun monumen, tugu, atau sekolah,” tutur Nazli.

Selain itu, dengan menjadikan lokasi tersebut sebagai objek wisata, diharapkan ekonomi masyarakat sekitar bisa naik. Sebab, Nazli juga tidak menampik fakta bahwa selain rentan bencana, masyarakat pesisi juga identik dengan kemiskinan.

“Dengan adanya wisata sejarah ini, bisa menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat,” tandasnya.

“Kita tidak tahu apakah pasir itu memang hasil dari laut yang aktivitasnya normal atau dari tsunami dan banjir. Ini sedang jadi pertanyaan besar kemungkinan tahun ini akan menyelesaikan penelitian itu dan kita akan mendapat jawaban,” katanya.

Selain itu, dengan menjadikan lokasi tersebut sebagai objek wisata, diharapkan ekonomi masyarakat sekitar bisa naik. Sebab, Nazli juga tidak menampik fakta bahwa selain rentan bencana, masyarakat pesisi juga identik dengan kemiskinan.

“Dengan adanya wisata sejarah ini, bisa menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat,” tandasnya.