Harga Jual Jeruk Pantai Buaya Langkat Anjlok, Warga Mengaku Terpukul

Harga Jual Jeruk Pantai Buaya Langkat Anjlok, Warga Mengaku Terpukul

Sipayo.com – Sejumlah warga yang berprofesi sebagai petani jeruk di kawasan Pantai Buaya, Kecamatan Besitang dan Kecamatan Sei Lapan, Kabupaten Langkat, mengaku merasa terpukul dengan anjloknya harga jeruk manis akhir-akhir ini.

“Hancur petani dibuatnya, eceran ke kampung-kampung jeruk gunung yang kecil Rp 10.000/3 kg, yang besar Rp 6.000/kg, meski rasanya kurang segar, karena kadar airnya kurang, konsumen memilih jeruk gunung karena harganya murah,” ujar M Yunus dan Adi Kenil, petani jeruk di Pantai Buaya, Senin (23/7/2018).

Menurutnya, itulah yang merusak pasaran. Kalau jeruk Besitang, Langkat saat ini tinggal Rp 6.000 dari harga biasanya Rp 8.000 – Rp 9.000/kg. “Jeruk gunung dengan jeruk darat atau yang dikenal dengan jeruk Pantai Buaya berbeda. Jeruk Langkat banyak mengandung air, manis dan segar,” tambah M Yunus.

Diungkapkannya, jeruk Langkat asal bibit dari Bangkinang, Riau, memang kebanyakan untuk jus, makanya banyak dipanen mengkal.

“Harga jeruk peras untuk jus pun anjlok dari Rp 5.300 menjadi Rp 4.000/ kg di tingkat petani. Memang belum lama ini jeruk peras sempat melambung ditingkat haga Rp 6.000/ kg saat permintaan dari Jakarta tinggi,” ungkapnya.

Ditemui terpisah, Limbong, pedagang keliling jeruk manis asal Kecamatan Babalan, Langkat, mengaku kewalahan menjual jeruk yang diecernya keliling sampai ke kota Binjai.

“Hajab rasanya, biasanya setiap hari bisa laku 50 – 60 kg, ini untuk 20 kg saja sudah susah, padahal kita turunkan harga dari 12.000/ kg jeruk besar keharga Rp 9.000. Pengecer yang bawa jeruk fiunung dengan mobil pick up masuk kepelosok kampung, lapak- lapak kamipun disasarnya dengan menjual murah jeruk gunung, cuma Rp 10.000/ 3 kg. Tetapi yang sudah tau mutu dan rasa jeruk Langkat, konsumen tetap beli, jeruk Langkat yang selisih harga cukup jauh,” akunya.

Anjloknya harga jeruk petani Langkat ini akibat membanjirnya produksi jeruk gunung dari Kabupaten Karo yang membanjiri pasar, yang dijual pedagang keliling ke pelosok perkampungan di Langkat dan Binjai, dengan harga “banting obral”.

Faktor lain, terjadinya harga obral dn obral, karena bersaing dengan buah tahunan seperti rambutan, durian, manggis dan cempedak yang saat ini sedang musim buah.