Kepala Desa Ini Ditetapkan Sebagai Tersangka Korupsi dengan Nilai Rp1,1 Triliun

Kepala Desa Ini Ditetapkan Sebagai Tersangka Korupsi dengan Nilai Rp1,1 Triliun

Sipayo.com – Korupsi di Indonesia bukan lagi hal yang tabu untuk diperbincangkan. Di Tanah Air, korupsi menjadi aktivitas yang merajalela dan tentunya sudah sangat merugikan rakyat, dengan pelaku mulai pejabat tingkat tinggi bahkan hingga tingkat Kepala Desa.

Sebagaimana terjadi di Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara, baru-baru ini. Seorang oknum Kepala Desa ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi. Tidak tanggung-tanggun, nilai korupsi yang dilakukannya selama menjabat sejak 2003 hingga 2017 diperkirakan mencapai Rp1,1 triliun.

Kepala Desa Sampai Sri Astuti di Kecamatan Percut Sei Tuan tersebut juga saat ini tengah menjalani hukuman penjara sebagai terpidana kasus pungutan liar (Pungli). Tersangka diamankan dalam operasi tangkap tangan Polrestabes Medan pada tahun 2017 silam dan masih mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tanjung Gusta Medan.

Terkait kasus korupsi yang dilakukan Sri Astuti, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Deliserdang Asep Maryuono mengatakan, penetapan status tersangka ini dilakukan setelah korps adhyaksa menyelidiki kasus yang disangkakan kepadanya selama kurun waktu satu tahun.

Dalam penyelidikan, ditemukan adanya indikasi penyalagunaan jabatan penerbitan surat keterangan tanah yang dikeluarkan tersangka di lahan hak guna usaha (HGU) milik PT Perkebunan Nusantara II sepanjang periode 2003-2017.

Dari penyitaan barang bukti yang diperoleh di Kantor Desa Sampali, penyidik kejaksaan menemukan 407 surat keterangan tanah yang dikeluarkan oleh tersangka di atas lahan HGU tersebut dengan luas mencapai 100-an hektare untuk diperjualbelikan.

“Kerugian negara Rp1,174 triliun. Nominal ini berdasarkan keterangan ahli, dimana sebelumnya kami sudah beberapa kali gelar perkara untuk membahas nilai kerugian ini,” kata Maryono, Rabu (25/7/2018).

“Kami masih selidiki keterlibatan tersangka lain. Kasusnya terus kami kembangkan. Atas kasus ini, tersangka disangkakan dengan Undang-Undang (UU) Tindak Pidana Korupsi Pasal 2 dan Pasal 3 dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara,” tutupnya.