Masyarakat Lingga Muda Minta Pelaku Penebangan Pohon di Deleng Tongkoh Dijerat Secara Hukum

Masyarakat Lingga Muda Minta Pelaku Penebangan Pohon di Deleng Tongkoh Dijerat Secara Hukum

Sipayo.com – Penebangan pohon secara liar kerap menimbulkan keresahan tersendiri bagi masyarakat pedesaan, sebab kehidupan mereka tidak terlepas dari keberadaan hutan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Hutan sebagai paru-paru dunia, juga dirasakan manfaatnya oleh sebagian masyarakat sebagai sumber ekonomi. Selain itu hutan juga berfungsi sebagai pengendali bencana, serta sebagai tempat untuk penyimpanan cadangan air yang tentu sangat dibutuhkan oleh kalangan petani di pedesaan.

Terkikisnya keberadaan hutan akibat penebangan liar merupakan salah satu isu yang terhangat di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan. Meski telah menjadi isu nasional bahkan hingga dunia internasional, namun penebangan pohon secara liar masih tetap saja terjadi.

Begitulah kiranya yang terjadi di Desa Lingga Muda, Kecamatan Lau Baleng, Kabupaten Karo. Penebangan kayu secara liar di desa ini sudah berlangsung dalam kurun beberapa waktu belakangan, sehingga mengakibatkan masyarakat pun turut gusar.

Adalah Karang Taruna dan warga Desa Lingga Muda, Kecamatan Laubaleng, Kabupaten Karo, yang mencoba menghentikan penebangan kayu dengan melaporkan praktik pembalakan liar (illegal logging) di kawasan Deleng Tongkoh yang tidak jauh dari desa mereka kepada pihak berwajib.

Masyarakat Desa Lingga Muda bersama tokoh pemuda dan Karang Taruna menyatakan sudah sepakat membuat laporan ke Polsek Lau Baleng dan Polres Karo pada Kamis, (14/6/2018) tempo hari, dan pada Selasa (10/7/2018). Mereka pun mengaku sudah dipanggil oleh pihak berwajib untuk menjelaskan duduk perkara terkait penebangan hutan yang terjadi.

“Untuk mengantisipasi meluasnya perambahan hutan di Deleng Tongkoh, kami akan terus mengawal kasus ini, dan pelaku penebangan pohon secara liar harus dijerat secara hukum yang berlaku,” ujar Perwakilan Karang Taruna, Natanael Sukatendel.

Dia juga mengatakan bahwa masyarakat Desa Lingga Muda tidak akan pernah mundur satu langkah pun untuk mengawal kasus ini, karena menurutnya hutan di Deleng Tongkoh merupakan sumber air untuk desa mereka. “Menjaga hutan Deleng Tongkoh merupakan langkah untuk mewariskan mata air buat generasi selanjutnya, dan bukan mewariskan air mata,” tegasnya.

Menurut Natanael perambahan hutan tidak hanya terjadi Deleng Tongkoh, namun perambahan juga terjadi di hutan-hutan di desa lain seperti Desa Perbulan dan Desa Martelu yang tak jauh dari Desa Lingga Muda.

Penebangan pohon menurut Natanael Sukatendel sudah mencapai kurang lebih 20 hektare. Dan jumlah kayu taksiran diperkiran sudah mencapai 20 hingga 30 ton, sementara kayu hasil penebangan sebagian telah dijual oleh pelaku dan sebagian diantaranya masih tersisa di lokasi.

Pada saat mendatangi lokasi penebangan, Karang Taruna dan warga mendapati 4 orang warga, 1 mobil genzo yang berisi balok dan satu unit alat berat, beserta sejumlah balok yang belum dimuatkan ke mobil. Diketahui dari 4 orang tersebut, 2 orang itu dikenal sebagai warga desa Perbulan.

Natanael melanjutkan bahwa penebangan hutan di Desa Lingga Muda dilakukan baru saja, namun di sekitaran Kecamatan Lau Baleng, sudah sering dilakukan. “Kasus pengaduan ini merupakan bukan pertama kali terjadi, dimana di Desa Martelu juga sudah melakukan pengaduan, namun tidak ada penyelesaian yang jelas dari pihak penegak hukum,” ujarnya.

“Maka dari itu, kami dari pihak Pemuda dan Masyarakat Desa Lingga Muda berharap pihak penegak hukum menjerat orang yang telah mencemari dan merusak lingkungan ini, karena ini merupakan sumber kehidupan bagi generasi berikutnya,” sambungnya.

Selain Natanail, salah seorang Tokoh Masyarakat, Dolat Sinulingga juga sangat menyesalkan penebangan hutan tersebut, menurutnya penebangan itu tidak hanya membuat kekeringan air untuk warga, namun bisa juga menyebabkan banjir bandang yang mengarah ke Desa Lingga Muda.

Dia juga mengatakan bahwa sebelumnya juga pernah terjadi banjir bandang, namun tidak ada korban jiwa. “Tapi ladang sangat banyak mengalami kerusakan. Tidak hanya Desa Lingga Muda yang mengalami kerugian, tapi desa Perbulan, Martelu juga terkena dampaknya,” katanya.

Sebelum dilakukannya perambatan, menurut Dolat hutan sangat banyak fungsinya digunakan oleh masyarakat.

Kepala Desa Lingga Muda Natang Perengin-nangin juga menyesalkan aksi penebangan hutan yang terjadi di Deleng Tongkoh dan menegaskan agar segera diberhentikan penebangan kayu di daerah mata air Desa Lingga Muda tersebut.

Natang turut menegaskan kepada Dinas terkait mengenai kasus ini, dan terutama Pemerintah agar segera menindak lanjuti peroses ini. Karena sudah melaporkan ke pihak Polsek dan Polres, maka dirinya berharap pelaku segera diperoses dengan hukum yang berlaku.

Menurut salah satu warga yang bernama Waktu Sembiring, akibat penebangan hutan Deleng Tongkoh di dekat mata air Desa Lingga Muda tersebut, beberapa mata air di Lingga Muda mengalami kekeringan. “Anak-anak yang ingin berangkat ke sekolah setiap pagi bahkan tidak mandi dan hanya cuci muka saja, akibat kekeringan air ini,” ujarnya.

Waktu Sembiring sangat berharap agar pemerintah menegakkan hukum terhadap aksi perambahan hutan di Deleng Tongkoh, karena akibat penebangan ini masyarakat menjadi susah.