Ini Kata Pengamat Terkait Strategi Politik di Balik Pemilihan Ma’ruf dan Sandiaga sebagai Cawapres

Ini Kata Pengamat Terkait Strategi Politik di Balik Pemilihan Ma’ruf dan Sandiaga sebagai Cawapres

Foto: Jokowi – Prabowo

Sipayo.com – Kandidat yang akan bertarung pada pemilihan presiden dan wakil presiden untuk merebut kemengan di tahun politik 2019 ini telah di tetapkan, Prabowo Subianto dan Joko Widodo telah memilih cawapresnya masing-masing.

Prabowo menunjuk Wagub DKI Jakarta Sandiaga Uno sebagai cawapresnya, sedangkan Jokowi memilih Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin untuk mendampinginya di periode kedua.

Pemilihan para cawapres tersebut, menurut Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, dilatarbelakangi strategi politik masing-masing parpol koalisi.

Untuk Sandiaga, Arya menilai pemilihan tersebut dikarenakan Prabowo ingin mengubah narasi kampanyenya dengan lebih menyentuh sektor ekonomi. Prabowo, kata Arya, mulai mengurangi narasi kampanye politik identitas yang selama ini melekat kepadanya.

“Prabowo saya lihat mulai mengubah skenario isu dengan mengkritisi ekonomi (pemerintah Jokowi). Kalau mau mengubah cara kampanyenya tidak soal keagamaan, tapi ekonomi akan mampu menarik perhatian pemilih dengan memilih Sandi,” ujar Arya saat dihubungi wartawan, Sabtu (11/8).

“Tapi harus dibangun dengan narasi baru, bukan yang lama seperti kekayaan alam, utang, tenaga kerja, publik butuh apa yang mau dilakukan untuk perubahan dari sisi ekonomi,” imbuhnya.

Adapun alasan pemilihan Ma’ruf, Arya menilai karena Jokowi terjebak kepada narasi keagamaan yang selama ini menerpanya. Sehingga, Jokowi memutuskan untuk memilih Ma’ruf yang dianggap sebagai perwakilan ulama.

“Jokowi harus bongkar itu dan mengemukakan isu-isu capaian kinerja pemerintah. Kalau Prabowo mampu merubah narasi, gagasan ide, dan platformnya, akan merepotkan untuk Jokowi. Sebaliknya, kalau Jokowi pakai narasi agama akan backfire,”ucapnya.

Dihubungi terpisah, Pakar Komunikasi Politik Universitas Brawijaya Anang Sujoko menilai pemilihan Sandiaga ketimbang AHY sebagai pendamping Prabowo tidak semata-mata karena bekal logistik yang besar.

Sebab, Sandiaga dinilai mempunyai tingkat elektabilitas yang lebih tinggi daripada AHY. Disamping itu, Sandiaga juga dinilai lebih siap dibanding AHY.

“Nilai jual AHY belum mempunyai daya saing yang tinggi dibanding tokoh-tokoh lain. AHY itu sebagai orang yang dianggap baru terjun dalam dunia politik praktis. Karir di militer tidak bisa serta merta dibawa ke politik praktis, karena bicara politik praktis bicara transaksi, dalam politik transaksi harus membangun trust,” ucapnya.

Sedangkan untuk pemilihan Ma’ruf Amin oleh Jokowi, menurut Anang tidak lebih untuk meredam isu politik identitas yang menerpa Jokowi.

“Kalau pasangan pak Jokowi (menggandeng ulama) sudah banyak diduga,” ucapnya.