Pasutri Ciptakan Telepon Untuk ‘Bicara’ Dengan Orang Meninggal di Jepang, Berikut Kisahnya

Pasutri Ciptakan Telepon Untuk ‘Bicara’ Dengan Orang Meninggal di Jepang, Berikut Kisahnya

Tomohiko Kutsuna (kiri) dan Kazuko (Foto: Japan Times)

Sipayo.com – Pasangan suami istri (pasutri) di Kota Tahara, Prefektur Aichi, membuat telepon umum. Telepon angin ini dibuat untuk berbincang dengan orang yang sudah meninggal dan memberikan pesan kepada mereka.

Tentu saja, telepon di dalam kotak merah terbuat dari kayu, mirip dengan telepon umum di Inggris, itu tidak bisa menghubungkan penelepon dengan orang meninggal. Tapi, Tomohiko Kutsuna (66) dan istrinya, Kazuko (69), membuatnya untuk mengenang seorang anak yang meninggal bunuh diri pada 2009 di usia 18 tahun.

Awalnya, mereka memikirkan cara bagaimana bisa berkomunikasi secara imajiner dengan anak perempuan tersebut, hingga dibuatlah telepon bernama Shiokaze no Denwa yang berart ‘Telepon Angin Sepoi-Sepoi Laut’ pada Juni 2018. Dari namanya, telepon itu memang dibuat di taman halaman rumah mereka yang menghadap ke laut.

Ini telepon kedua dengan fungsi serupa yang dibuat di Jepang. Sebelumnya, ada telepon bernama Kaze no Denwa atau ‘Telepon Angin’. Namun telepon yang terletak di Kota Otsuchi, Prefektur Iwate, itu hancur akibat gempa dan tsunami 2011.

Telepon yang juga menghadap ke laut itu sudah digunakan oleh 30.000 orang, baik dari Jepang mapun negara lain, untuk berbicara dengan orang meninggal yang mereka cintai.

“Kami harap telepon ini bisa digunakan juga oleh siapa saja yang kehilangan orang yang mereka cintai, sama seperti kami,” ujar Tomohiko, dikutip dari Japan Times, Senin (24/9/2018).

Kazuko sebelumnya berprofesi sebagai guru. Dia berhenti mengajar pada 2001 lalu mendirikan sekolah gratis bernama Yuzuhira Gakuen bersama suaminya yang berprofesi sebagai pelukis. Alasan Kazuko berhenti karena ingin mencurahkan perhatian terhadap anak-anak yang memiliki keterbatasan untuk bergaul dan belajar di sekolah umum.

Tiga tahun setelah mendirikan sekolah, Kazuko kedatangan siswi baru. Secara usia, seharusnya dia sudah duduk di bangku kelas 2 SMP. Anak itu berhenti sekolah sejak SD karena hubungannya tak harmonis dengan guru.

Anak itu tak bisa mengungkapkan masalahnya kepada orang lain. Karena terus tertekan, dia beberapa kali berusaha bunuh diri.

Selama lima tahun, Kazuko dan Tomohiko berjuang memperbaiki kondisi anak itu. Namun pada Januari 2009, dia bunuh diri di rumahnya dan meninggalkan sepucuk surat yang isinya, jika gagal dalam bunuh diri terakhirnya, remaja itu tak akan lagi mencoba mengakhiri hidup.

Dari situ Kazuko dan Tomohiko merasa telah gagal menghadirkan kesempatan hidup bagi anak tersebut.

“Jauh di dalam hatinya, anak itu sebenarnya ingin hidup. Ini tanggung jawab kami sebagai orang dewasa, kami membuat lingkungan ini menjadi berat baginya untuk hidup. Kami termasuk orang yang membuat dia meninggal,” ujar Kazuko.

Sejak itu, dia mempertimbangkan menutup sekolah gratis tersebut, tapi diurungkan karena orangtua sang anak menentangnya. Hingga kini, sekolah yang mereka dirikan sudah membantu lebih dari 3.000 orang tua dan anak-anak yang bermasalah dalam hubungan.

Mereka lalu membuat telepon umum sebagai imajinasi untuk berbicara dengan anak yang meninggal itu. Setiap saat mereka menyempatkan diri menggunakan telepon. Kazuko mengatakan, dia dan suaminya selalu meminta maaf kepada mendiang karena gagal menyelamatkannya dari kemelut hidup.

“Saya merasa dia ada di sana,” kata Kazuko.