Ini Isi Surat Einstein Tentang Tuhan dan Agama yang Dijual Rp 22 Miliar

Ini Isi Surat Einstein Tentang Tuhan dan Agama yang Dijual Rp 22 Miliar

 

Sipayo.com – Surat tulisan tangan dari Albert Einstein tentang pemikirannya terhadap Tuhan, agama, dan pencarian makna akan dilelang di New York, Amerika Serikat.

Nilai yang ditawarkan untuk surat tersebut mencapai 1,5 juta dollar AS atau sekitar Rp 22,7 miliar.

Surat yang dimaksud tersebut ditulis Einstein kepada filsuf Yahudi Eric Gutkind yang dalam perjalanan intelektualnya lantas “mengawini” siritualisme Yahudi. Dia mengatakan, pencarian ilmu pengetahuan akan dan bisa membawa manusia mengenali Tuhannya.

Ditulis pada tahun 1954, setahun sebelum Einstein meninggal, ini isi terjemahan surat dalam bahasa Indonesianya. Teks dalam bahasa Indonesia ini hasil terjemahan dari bahasa Inggris (semula Einstein menulis dalam bahasa Jerman) dan sudah diperhalus sehingga lebih mudah dipahami.

Berikut inilah isinya:

Kata Tuhan bagi saya tidak lebih dari ekspresi dan produk kelemahan manusia. Kitab sudi adalah kumpulan legenda yang betapa pun mulia tetap masih primitif dan kekanak-kanakan. Tak ada interpretasi, bagaimana pun halusnya, yang bisa mengubah itu. Interpretasi itu beragam menurut sifatnya dan hampir tidak ada hubungannya dengan teks aslinya.

Bagi saya, agama Yahudi seperti semua agama lain, adalah buah dari takhayul yang paling kekanak-kanakan. Orang-orang Yahudi, di mana saya menjadi bagiannya dan mempunyai kedekatan mentalitas, tidak memiliki kualitas yang berbeda dari orang lain. Sejauh pengalaman saya, mereka juga tidak lebih baik dari kelompok manusia lainnya, meskipun mereka terlindung dari kanker terburuk oleh kurangnya kekuatan. Saya tidak bisa melihat alasan mereka menjadi kaum ‘terpilih’ selain itu.

Secara umum saya merasa sakit hati bahwa Anda mengklaim punya posisi istimewa dan mencoba mempertahankannya dengan dua dinding kesombongan, secara eksternal sebagai seorang manusia dan secara internal sebagai seorang Yahudi.

Sebagai manusia Anda mengklaim punya dispensasi dari kausalitas sebab Yahudi punya hak istimewa dalam monoteisme. Tetapi kausalitas yang terbatas tidak lagi merupakan kausalitas, sebab Spinoza kita yang luar biasa mengenali semua torehan, mungkin sebagai yang pertama. Dan interpretasi animistis terhadap agama-agama alam secara prinsip tidak dibatalkan oleh monopoli. Dengan tembok seperti itu kita hanya bisa menipu diri sendiri, tidak memajukan upaya moral kita. Justru sebaliknya.

Meskipun saya sekarang telah secara terbuka menyatakan perbedaan keyakinan intelektual, masih jelas bagi saya bahwa kita cukup dekat satu sama lain dalam hal-hal yang esensial, yaitu dalam evaluasi kita tentang perilaku manusia. Apa yang membedakan kita hanyalah ‘props’ intelektual dan ‘rasionalisasi’ dalam bahasa Freud. Dengan demikian saya berpikir bahwa kita bisa saling memahami dengan baik saat kita berbicara tentang hal-hal konkrit.