Linur Batukarang dan Fenomena Likuefaksi di Sulawesi Tengah

Linur Batukarang dan Fenomena Likuefaksi di Sulawesi Tengah
Foto: Kondisi Sawah Berubah jadi Lumpur saat Terjadinya Linur Batukarang (De Sumatra Post)

Oleh: Aleksander F. Sembiring

Bencana gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah pada Jumat, 28 September 2018 lalu telah menimbulkan ribuan korban luka-luka hingga meninggal dunia. Selain menyebabkan jatuhnya banyak korban, ribuan bangunan pun dipastikan turut rusak, yang tentu membuat kita seluruh rakyat Indonesia patut ikut berduka.

Gempa berkekuatan 7,4 SR tersebut ternyata tidak hanya diikuti oleh bencana tsunami, namun juga ada fenomena bencana baru yang mungkin belum familiar, bahkan belum pernah kita dengar sama sekali, yakni bencana likuefaksi.

Likuefaksi atau pencairan tanah adalah fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan akibat adanya tegangan oleh misalnya getaran gempa bumi atau perubahan ketegangan lain secara mendadak.

Ada dua jenis likuifaksi, yang pertama berupa semburan air dari dalam tanah yang keluar memancar seperti air mancur. Kedua, tanah memadat karena gempa, membuat air menjadi terperas keluar yang kemudian mengalir membawa tanah seolah hanyut.

Bersamaan dengan bencana gempa dan tsunami, fenomena likuefaksi juga turut terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah, diantaranya Perumnas Balora (Kota Palu), Perumnas Petobo (Kota Palu), serta wilayah Mpano, Sidera, Jono Oge, dan Lolu (Kabupaten Sigi). Fenomena likuifaksi ini menyebabkan rumah-rumah warga ditelan lumpur hingga terkubur dan bahkan tidak terlihat lagi di permukaan tanah.

Berdasarkan keterangan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal dunia akibat likuifaksi di sejumlah tempat di Sulawesi Tengah belum dapat dipastikan. Namun, ada kemungkinan ribuan orang menjadi korban yang turut terhisap di bawah lumpur tersebut.

Linur Batukarang

Linur Batukarang merupakan salah satu fenomena bencana gempa bumi berkekutan 7,2 SR yang kerap dikenang oleh para tetua-tetua masyarakat Karo di Sumatera Utara. Peristiwa tersebut terjadi pada, Sabtu (19/09/1936) sekitar pukul 8.30 WIB.

Karena begitu parahnya bencana ini melanda, meski sudah berlalu 82 tahun, tapi fenomena bencana alam tersebut masih tetap dikenang hingga kini, meski jumlah korban jiwa memang tidaklah banyak bila dibandingkan korban bencana di Sulawesi Tengah.

Berdasarkan laporan Koran De Sumatera Post yang terbit pada tanggal 21 September 2018, menuliskan jumlah korban Linur Batukarang terdiri dari 2 orang ditemukan meninggal, sementara 14 lainnya dinyatakan hilang.

Mengingat kondisi penduduk saat itu belum sepadat saat ini, maka korban sebanyak 16 jiwa merupakan jumlah yang cukup besar, sekaligus turut menggambarkan bagaimana kuatnya dampak bencana tersebut.

Linur Batukarang dan Fenomena Likuifaksi

Berdasarkan informasi yang disarikan Koran De Sumatera Post, menyebutkan bahwa gempa yang terjadi di Tanah Karo tersebut telah menyebabkan bencana yang serius. Goncangan gempa turut menyebabkan tanah retak dan keluar air. Air tersebut muncul ke permukaan seperti banjir besar, serta mengalir ke arah sungai.

Hamparan sawah berubah jadi kubangan lumpur, sebagian yang tersisa terlihat telah berpindah tempat. Pohon-pohon tumbang, tanah amblas sedalam 10 hingga 15 meter.

Selain informasi dari Koran De Sumatera Post, para tetua orang Karo juga turut menyebutkan bahwa peristiwa Gempa Batukarang juga menyebabkan pantar (dangau) di persawahan bergeser puluhan meter akibat adanya pergesaran tanah.

Fakta-fakta ini tentu menunjukkan kemiripan dengan fenomena likuefaksi yang terjadi di Sulawesi Tengah. Yaitu, pertama tanah terbuka yang disertai keluar air dan lumpur. Kemudian menggulung, dan mengalir hingga ratusan meter membawa rumah-rumah penduduk dan meterial yang berada di permukaan tanah.

Saran

Mengingat fenomena likuefaksi di Sulawesi Tengah mirip dengan yang pernah terjadi di Desa Batukarang, Kabupaten Karo 82 tahun yang lalu, maka hal ini tentu menunjukkan kemungkinan lukuefaksi masih dapat terjadi lagi di masa-masa mendatang. Tidak hanya di Tanah Karo, namun bencana ini juga sangat berpotensi terjadi di tempat-tempat lain di Indonesia.

Kita tentu tak menginginkan bencana likuefaksi yang menimbulkan ribuan rumah terkubur, serta diperkirakan ribuan orang menjadi korban di Sulawesi Tengah kembali terulang. Cukuplah fenomena ini terjadi hanya sekali, sekaligus menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua.

Kepada pihak stakeholder, khususnya dalam hal ini adalah pemerintah, sepatutnya langsung bergerak cepat dalam membuat peta mikrozonasi gempa dan likuefaksi di Indonesia. Dengan pemetaan yang benar-benar serius dan terukur, tentu akan menjadi mitigasi dalam rangka mengurangi dampak bencana likuefaksi di Indonesia di masa-masa mendatang. Semoga

* Penulis adalah Pimpinan Redaksi Sipayo.com