Jaksa Senior Jadi Tersangka Setelah Menang Melawan Jaksa Agung

Jaksa Senior Jadi Tersangka Setelah Menang Melawan Jaksa Agung

 

Sipayo.com – Penegakan hukum di pemerintahan kali ini kembali tercoreng. Dimana, baru-baru ini Kejaksaan Agung menjadikan jaksa senior yang juga dikenal sebagai ahli pemulihan aset Indonesia, Chuck Suryosumpeno, sebagai tersangka terkait dugaan kasus korupsi aset barang rampasan milik terpidana Hendra Raharja.
Sebelumnya, Mahkamah Agung (MA) memenangkan jaksa senior Chuck Suryosumpeno melawan Jaksa Agung.
Namun, MA malah memerintahkan Jaksa Agung untuk mencabut SK pencopotan Chuck sebagai kepala kejaksaan tinggi (kajati). Setelah itu Chuck malah jadi tersangka kasus penggelapan.
Kasus itu terjadi saat Ketua Satgassus Kejaksaan Agung Chuck melakukan negosiasi terhadap penjualan aset Hendra Rahardja pada 2012.
Sebab, di Korps Adyaksa, Chuck merupakan salah satu ahli pemulihan aset Indonesia yang diakui dunia internasional. Negosiasi itu berjalan sesuai dengan prosedur.
Namun, versi  dari Jaksa Agung, bahwa penjualan aset itu bermasalah sehingga Chukc dicopot dari posisi Kajati Maluku. Ia keberatan atas pencopotan itu dan menggugatnya ke PTUN Jakarta. Setelah bertarung di pengadilan, ia menang dengan vonis MA, yaitu mencabut SK pencopotan itu.

Mendapati kekalahan itu, Jaksa Agung mengeluarkan penetapan tersangka atas Chuck dengan tuduhan penggelapan dalam kasus penjualan aset Hendra Rahardja di atas.

“Penetapan tersangka atas Chuck Suryosumpeno diketahui bertepatan saat Mahkamah Agung mengunggah putusan PK atas pemohon Chuck Suryosumpeno pada laman website-nya, yaitu tanggal 23 Oktober 2018,” kata kuasa hukum Chuck, Sandra Nangoy, Selasa (6/11/2018).

Sandra mengatakan bahawa tindakan itu merupakan kriminalisasi yang dilakukan oleh Jaksa Agung secara tidak langsung bisa menurunkan elektabilitas Presiden Joko Widodo pada Pilpres 2019.

“Saya katakan demikian karena masyarakat pasti ragu jika memilih Presiden Jokowi kembali. Sebab, putusan PK Mahkamah Agung saja tidak dipatuhi oleh seorang Jaksa Agung. Jadi tidak ada jaminan kepastian hukum dan keadilan bagi rakyat Indonesia jika penegakan hukumnya saja gelap mata seperti preman ini,” ungkap Sandra.