Ada Apa dengan PAN? Elite Hengkang hingga Desakan Amien Rais Mundur

Foto: Amien Rais

Sipayo.com – Menjelang Pemilu 2019, Partai Amanat Nasional (PAN) yang dinakhodai Zulkifli Hasan terus bergejolak. Berbagai persoalan tak henti menghampiri PAN, mulai dari para kader yang membelot mendukung Joko Widodo-Ma’ruf Amin, surat desakan mundur terhadap Amien Rais, hingga pengunduran diri sejumlah elite partai.

Berikut gejolak yang dihadapi PAN sejak menyatakan dukungan untuk pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang telah berhasil dirangkum, Jumat (28/12/2018).

Kader mbalelo mendukung Jokowi-Ma’ruf

Pengurus PAN di sejumlah daerah terang-terangan mendeklarasikan dukungan untuk Jokowi-Ma’ruf. Salah satu contohnya adalah Ketua DPW PAN Kalimantan Selatan Muhidin dan Ketua DPD PAN sekaligus Bupati Tanah Bumbu Sudian Noor.

Muhidin dipecat dari PAN. Namun Muhidin tak masalah, ia mengaku mendapatkan tawaran masuk jadi bagian timses Jokowi-Ma’ruf.

“Kalau memang itu (pemecatan) adalah tindakan DPP, nggak masalah. Saya tetap, walaupun dipecat, saya tetap di Jokowi,” kata Muhidin, Rabu (12/12).

Hal serupa terjadi di Sumatera Selatan. Puluhan kader PAN mendeklarasikan diri mendukung Jokowi-Ma’ruf.

Namun PAN membantah peristiwa itu. Sekjen PAN Eddy Soeparno mengatakan para kader yang mbalelo di Sumsel itu sudah tidak aktif.

“Ada kader, tapi sudah nonaktif dan selama ini tidak produktif. Makanya tidak pernah duduk di kepengurusan DPW Sumsel,” kata Eddy, Kamis (13/12).

Sejumlah Elite PAN Mundur

Bendahara Umum (Bendum) PAN Nasrullah mengundurkan diri dari jabatannya lewat surat bertanggal 20 Desember 2018. Nasrullah menegaskan pengunduran dirinya tak terkait dengan dukungan kepada capres.

Ia mengaku mengundurkan diri karena tak lagi merasa cocok dengan kepemimpinan Zulkifli. Namun, surat pengunduran itu ternyata belum diserahkan kepada sang ketum.

“Mundurnya saya dari DPP PAN tidak terkait dengan capres-cawapres,” kata Nasrullah, Selasa (25/12).

Tak hanya Nasrullah, belakangan diketahui ada dua elite PAN lain yang juga mengundurkan diri. Adalah Agung Mozin yang mundur dari posisi Ketua Badan Cyber dan Multimedia PAN dan Putra Jaya Husin dari posisi Sekretaris Dewan Kehormatan. Putra Jaya mengaku sudah mengajukan permintaan nonaktif sejak 20 Juli 2018.

Senada dengan Nasrullah, Agung dan Putra Jaya kompak mengatakan alasan pengunduran diri mereka karena tak cocok dengan cara Zulklifli mengurus partai. Agung menyebut Zulkifli salah mengelola PAN.

“Ada salah urus tata kelola partai. Ketum ya. Kalau cocok pasti oke-oke aja kan,” ungkap Agung, Kamis (27/12).

Pendiri PAN mendesak Amien Rais mundur

Lewat surat terbuka bertanggal 26 Desember 2018, lima pendiri PAN mendesak Amien Rais untuk mundur dari jagat politik dan partai. Para pendiri dan penggagas PAN yang menulis surat itu adalah Goenawan Mohamad, Abdillah Toha, Albert Hasibuan, Toeti Heraty, dan Zumrotin.

Salah satu alasan desakan itu ialah manuver-manuver politik Amien dinilai melenceng dari prinsip saat awal PAN didirikan. Selain itu, Amien sebagai tokoh bangsa, juga disebut memperkeruh suasana dalam negeri.

PAN sempat menduga ada motif lain di balik desakan mundur itu. Goenawan Mohamad dkk dituding mau memecah belah PAN dan disebut-sebut merupakan orang pro-Jokowi.

Tudingan itu dibantah. Albert Hasibuan, salah satu yang menandatangani surat itu, mengatakan justru dirinya bersama empat rekan lainnya ingin menyelamatkan PAN.

Sebab, mereka menilai selama ini PAN seolah terbelenggu dengan pemikiran Amien, sehingga tak bisa bebas dalam menentukan pilihan. Albert juga membantah surat itu ada kaitannya dengan pilihan politik di Pilpres 2019.

“Bukan kita mendukung Jokowi atau Prabowo ya. Kita di luar itu. Pendiri PAN tidak masuk pada pilihan itu. Kita membatasi melihat masalah internal PAN yang dikeluarkan oleh pemikiran Amien Rais,” kata Albert, Rabu (26/12).