Kisah Inspirasi Nur Khalim, Guru Honorer yang Ditantang dan Diejek Siswanya di Kelas

Kisah Inspirasi Nur Khalim, Guru Honorer yang Ditantang dan Diejek Siswanya di Kelas

 

Sipayo.com – Beberapawaktu belakangan ini pembicaraan tentang Nur Khalim, seorang guru yang sabar saat ditantang murid sukses mencuri perhatian publik.

Bagaimana tidak guru SMP PGRI Wringinanom ini begitu sabar saat ditantang dan diejek oleh anak didiknya di dalam kelas.

Dalam video yang beredar luas tersebut, Nur Khalim nampak diam dan tak membalas sang murid.

Usai viral, sang murid yang diketahui bernisial AA itu lantas meminta maaf kepada Nur Khalim.

Meski mendapat perlakuan tak wajar, Nur Khalim sendiri mengatakan bahwa sebagai seorang manusia biasa, rasa marah dan emosi juga sempat terlintas dalam benak pikirannya saat mendapat perlakuan seperti itu dari siswa didiknya.

Namun, dia mengaku belajar tidak memilih keputusan itu dan justru bersedia menerima mediasi untuk memaafkan apa yang telah diperbuat oleh AA kepadanya.

“Sebenarnya saat itu mau pukul saja, baik pikiran, hati, ingin balas. Tapi saya belajar, kalau pukul masuk pelanggaran HAM hak asasi manusia.

Makanya, saya coba tahan amarah, bahwa tujuan saya mengajar adalah mewujudkan cita-cita bangsa ingin mewujudkan generasi emas Indonesia, untuk bisa bersaing di Asia Tenggara,” ujar Nur Khalim saat ditemui di sela agenda mediasi yang dilakukan di kantor Polsek Wringinanom, Minggu (10/2/2019).

Apalagi, lanjut Nur Khalim, dia merasa kasihan karena AA yang saat ini duduk di kelas IX SMP PGRI Wringinanom sebentar lagi akan lulus dan melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi.

“Saya ingin membuat pintar anak-anak didik saya karena sebentar lagi ujian nasional,” tegasnya.

Dia pun mengimbau para tenaga pendidik untuk sabar dan tidak cepat terbakar emosi dalam mendidik para siswanya yang memang berasal dari beragam kalangan.

Caranya, dengan lebih mengutamakan pendekatan kekeluargaan sebelum menjatuhkan hukuman kepada siswa yang dianggap bersalah.

“Saya berharap kepada semua guru-guru supaya kenakalan anak jangan sampai dibalas dengan kekerasan juga. Jadilah guru yang profesional. Mungkin dengan kejadian ini, Allah menciptakan saya sebagai guru profesional. Bagaimana mengurus murid dari berbagai kalangan,” kata Nur Khalim.

“Jadi kepada semua guru, jika menemui kejadian seperti ini, lebih baik ditangani dengan halus dulu. Coba dengan pendekatan dan komunikasi dengan orangtua dan kalau orang tua tidak ada respons, maka baru dilarikan kepada pihak berwajib. Jangan patah semangat, semua pasti ada hikmahnya,” ungkapnya.

Sebelumnya, Nur Khalim mengakui bahwa sosok AA memang kerap berbuat keterlaluan ketimbang para siswa lain yang ada di SMP PGRI Wringinanom.

Bahkan dalam kesehariannya di sekolah, seperti yang biasa diketahuinya, AA juga sering dan tak segan melontarkan kata-kata umpatan kasar.

Namun Nur Khalim menyadari bahwa itu justru adalah salah satu tantangan bagi dirinya untuk menjadi guru profesional meski selama lima tahun menjadi staf pengajar di SMP PGRI Wringinanom, dia masih saja berstatus sebagai tenaga honorer.

“Disyukuri dan dijalani saja, meski hingga saat ini saya masih tenaga honorer yang gajinya itu hanya Rp 450.000 per bulan. Kalau ngomong enggak cukup ya pastinya enggak cukup, tapi mau bagaimana lagi. Sebagai guru, kami tidak hanya mengejar duniawi tapi bagaimana pengabdian yang kami berikan,” tutupnya.

Setelah sempat viral di media sosial lantaran ulah AA terekam video saat merokok di kelas lalu menantang sang guru, akhirnya mereka sepakat berdamai, setelah dipertemukan oleh jajaran Kepolisian Sektor (Polsek) Wringinanom.

“Terkait mediasi, pihak sekolah meminta kepada kami untuk dilakukan mediasi,” ujar Kapolsek Wringinanom AKP Supiyan, Minggu (10/2/2019).

Mediasi disaksikan pihak sekolah, Dinas Pendidikan Gresik, Yayasan PGRI Gresik, perwakilan dari Kementerian Sosial, dan perwakilan dari Unit Pelaksana Terpadu Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Jawa Timur.
“Alhamdulillah, permasalahan akhirnya selesai, dengan sudah saling memaafkan dan kedua belah pihak sudah membuat surat pernyataan,” ungkap dia.

Menurut Supiyan, ada dua pertimbangan mediasi dilakukan dan pihak sekolah serta akhirnya sang guru bersedia berdamai.

“Saat kami tanyakan kenapa minta mediasi, mereka mengatakan bila si guru Nur Khalim memiliki jiwa yang besar sebagai tenaga pendidik. Dengan apa pun masalah yang terjadi dialami pada siswa dia mengaku siap bertanggung jawab,” ujarnya.

“Bertanggung jawab artinya, apapun yang dilakukan oleh siswa mereka siap mengarahkan dan membimbing untuk bisa kembali baik,” tuturnya kemudian.

Pertimbangan kedua adalah karena sebentar lagi siswa dengan inisial AA (15) yang kini duduk di bangku kelas IX SMP PGRI Wringinanom itu bakal mengikuti ujian nasional.

“Tentu dengan pertimbangan-pertimbangan itu, kami kemudian memfasilitasi supaya permasalahan ini bisa cepat selesai. Alhamdulillah, permasalahan akhirnya selesai, dengan sudah saling memaafkan dan kedua belah pihak sudah membuat surat pernyataan,” ungkap Supiyan.