Pemeliharaan Air Mancur Tugu Berastagi Diprotes

Pemeliharaan Air Mancur Tugu  Berastagi Diprotes

Sipayo.com – Proses pemelihaaran dan perawatan air mancur Tugu Perjuangan Berastagi diprotes warga. Mekanisme sistem pembuangan air limbah ke jalan kerap mengganggu pengguna jalan, bahkan sampai mengurangi omset penjualan pedagang yang berada di hilir.

“Kalau sudah jorok, airnya dikuras dan dibuang ke jalan menggunakan pompa mesin. Pelintas, khususnya pejalan kaki sangat terganggu. Bahkan malas untuk berbelanja ke toko, karena enggan basah. Pengurasan dan pembersihan kotoran serta lumut berjam-jam. Setelah selesai, baru orang datang berbelanja” ujar Caverius Sembiring, salah seorang pedagang di kawasan Tugu Perjuangan Berastagi, Selasa (12/2/2019).

Menurutnya, proses pengerjaan renovasi dari anggaran tahun 2017 lalu. Termasuk didalamnya pembuatan kolam, air mancur, lampu penerangan, serta pengecatan dengan biaya yang terbilang tidak sedikit, diatas Rp 400 juta. Dinilai sangat minim program dan kajian. Akhirnya, berdampak pada penurunan nilai penjualan pedagang, yang diyakini sama sekali tidak terpikir oleh Pemda Karo.

“Semestinya dari awal dipikirkan sistem penyaringan sekaligus pembuangan airnya ke selokan ketika proses pembuatan. Infonya ada pipa dari tugu ke parit. Tetapi selalu dibuang ke jalan. Katanya selalu mengutamakan pembangunan di kawasan wisata, tapi asal jadi saja dan menyusahkan orang lain,” beber Caverius dengan penuh kesal.

Warga Berastagi lainnya, Erwin Sembiring, yang senatiasa melintas juga menyatakan hal yang tidak jauh berbeda. “Semestinya Pemda ini kan malu membuang limbah ke jalan raya. Itu kan contoh kepada masyarakat. Jika kita membuang sampah) sembarangan di jalan, coba bayangkan bagaimana jadinya kota ini. Wisatawan atau pelintas juga tentunya sering melihat ini. Aneh juga mereka tidak malu,” ujarnya balik bertanya.(Riza Pinem)

Keterangan Foto : Selain dalam proses pengurasan kolam air mancur mengarangi omset sejumlah toko dikawasan Tugu Perjuangan Berastagi. Pelintas, khususnya pejalan kaki dan pengguna sepeda motor kerap terganggu. (Riza Pinem)