Kades Selat Besar Diduga Mark Up Anggaran Fisik Dana Desa

Kades Selat Besar Diduga Mark Up Anggaran Fisik Dana Desa

Foto: Plank Pemerataan Badan Jalan di Dusun Selat Cina, Desa Selat Besar, Judul Kerja dan Pengerjaan Berbeda/(Joko W)

Sipayo.com – Kepala Desa Selat Besar, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu Sumatera Utara Purwanto, diduga keras melakukan penggelembungan anggaran (mark up) pengerjaan fisik bersumber dari anggaran dana desa.

Hal itu dikatakan Sekretaris Koordinator Tim Investigasi Penyelamatan Asset Negara -Republik Indonesia (TIPAN – RI)  wilayah pantai Labuhanbatu Darmanto, kepada Sipayo.com, Senin (5/8) di Bilah Hilir.

Menurut Darmanto, Purwanto selaku kades diduga  telah melakukajjn penggelembungan anggaran pada pengerjaan fisik berupa pemerataan badan jalan sepanjang 2000 Meter dengan lebar 3 Meter.

“Anggaran itu sangat fantastik. Tidak wajar hanya meratakan badan jalan menelan anggaran Rp 41.938000,” kata Darmanto.

Selain itu, masih kata Darmanto, judul pengerjaan dan realisasi pengerjaan di lapangan sama sekali jauh berbeda.

Dijelaskannya, pada plangkat yang terpasang dan terpampang di depan kantor Kepala Desa Selat Besar, tertulis  judul pekerjaan pembuatan badan Jalan Dusun Cinta Karya dengan anggaran Rp41.938.000.

Foto: Plangkat Anggaran Dana Desa di Kantor Kepala Desa Selat Besar/(Joko W)

“Sedangkan yang dikerjakan hanya pemerataan badan jalan bukan pembuatan badan jalan. Pembuatan badan jalan dan pemerataan badan jalan jelas berbeda. Ada indikasi kepala desa melakukan pembohongan publik,” ujar Darmanto.

Ditegaskannya lagi, Purwanto membuat judul pekerjaan itu disiyalir memang unsur sengaja karena jalan yang diratakan itu dahulunya sudah dibuat menggunakan escavator sekira lebih kurang 2 tahun lalu.

“Makanya saya menduga pembuatan judul pengerjaan itu disengaja. Sehingga orang yang tidak tahu dikira anggaran sebesar itu sekalian dengan pembekoan. Investigasi kami di lapangan yang kami himpun dari warga setempat, jalan itu sudah lama dibangun,” ucap Darmanto.

Kejanggalan lainnya, sambung Darmanto, pada plank proyek tersebut anggaran pengerjaan tertulis sebesar Rp40.000.000. Sedangkan di plangkat tertulis Rp41.938000.

“Ini akan kita usut. Adanya temuan seperti ini akan kita buat pelaporan ke penegak hukum,” tandasnya.

Kepala Desa Selat Besar Purwanto, dikonfirmasi Sipayo.com di ruang kerjanya, Selasa (6/8) membenarkan adanya pengerjaan fisik di Dusun Cinta Karya.

“Ya baru itu yang dikerjakan Mas. Yaitu pemerataan badan jalan, anggarannya kalau gak salah Rp39 jutaan,” ungkap Purwanto.

Ditanya mengapa di plangkat tertulis Rp41.938000, tetapi di plang proyek tertulis Rp40.000.000, Purwanto malah pura- pura bingung dan memanggil serta menanyakan hal itu kepada Ida selaku kaur keuangan desa itu.

“Oh ya Pak, yang 1.983000  itu untuk honor TPK pak,” celetuk Ida.

Ditanya kembali apa wajar pembiayaan sebesar itu hanya untuk pemerataan jalan sepanjang 2000 meter tersebut, Purwanto berkilah alat itu dihitung biayanya dikenakan perjam.

Disoal berapa perjamnya biaya alat tersebut, dan bagaimana hitungan rinciannya Purwanto terdiam tidak  bisa menjelaskan.

Saat disoal mengapa judul proyek dan pengerjaan itu berbeda, lagi-lagi Purwanto pura-pura bingung.

Diminta menunjukkan bukti kontrak dengan subplayer, Purwanto tidak bisa juga memberikannya. Purwanto hanya mengatakan subplayernya bernama Andi warga Meranti Paham.

Disinggung ada info yang didapat wartawan Sipayo.com, bahwa alat yang dipakai untuk penggrederan (motor Grader) didatangkan dari PT Hari Sawit Jaya, Purwanto membantah hal itu.

“Gak bener itu Mas. Alatnya yang menyediakan si Andi. Manalah mungkin program CSR kita pakai untuk kerja di desa kita dari dana desa,” kilah Purwanto.

Sore harinya, dikonfirmasi kembali via WA siapa yang mencari subplayer, TPK atau kepala desa, hingga berita ini dikirimkan Purwanto tidak berkenan memberikan balasan. (Joko W)