Pulang Bimtek, Kades di Labuhanbatu Terobsesi dan Malu

Pulang Bimtek, Kades di Labuhanbatu Terobsesi dan Malu

Foto: Kepala Desa Cinta Makmur, Ego Wiharno Foto Bersama Dengan Kepala Desa Ponggok, Junaidi di Yogyakarta.

Sipayo.com –  Kepala Desa se-Labuhanbatu yang mengikuti bimbingan tekhnis (Bimtek) baru-baru ini ke Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Propinsi Yogyakarta merasa terobsesi  menerima bimbingan tekhnis pemberdayaan dan pemanfaatan pendapatan asset desa. 

Tetapi terobsesi itu hanya berlaku bagi kepala desa yang bersunguh-sungguh ingin memajukan desanya. Sedangkan bagi kepala desa yang semata-mata mencari dan mementingkan diri pribadi dengan masuknya anggaran dana desa dari pemerintah ke desa ya tentunya akan merasa terpukul dan malu.

Hal itu dikatakan oleh Kepala Desa Cinta Makmur, Kecamatan Panai Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, Ego Wiharno menjawab Sipayo.com, Rabu (28/8) di kantornya ketika ditanya tentang perjalanan mereka ke Yogyakarta.

Hal yang paling membuat rasa kagum dan terobsesi, lanjut Ego, Kepala Desa Ponggok Junaidi bisa menciptakan pendapatan desa itu Rp 4,5 Miliar pertahun tanpa ada bantuan dari pemerintah. Bahkan tambah Ego, diupayakan di tahun 2020 nanti pendapatan asset desa itu akan ditingkatkan menjadi Rp 16 Miliar. 

“Kami terobsesi ya juga malu Mas, kepala desanya (desa ponggok) menolak bantuan dana dari pemerintah, baik itu ADD (Alokasi dana desa) mau pun DD (Dana Desa). Infrastukturnya maju. Home Industrinya maju, banyak usaha yang lainnya semua maju dengan mengelola dari asset desa tanpa bantuan pemerintah. Bahkan bantuan pemerintah ditolak. Lha kami di sini? Besar kurang besar berlomba mendapatkan bantuan dari pemerintah, tetapi prestasi kerja kami tak ada. Bundesnya amburadul,” ujar Ego.

Hal lainnya yang membuat Ego merasa salut terhadap kepala Desa Ponggok, yakni warganya yang ekonominya lemah mendapatkan bantuan BPJS desa, bukan BPJS dari pemerintah. 

Tatkala mendengarkan paparan dari Kepala Desa Ponggok, Ego mengaku berpandang pandangan dengan kepala desa lain dan hanya bisa tersenyum menjeb (tersenyum malu).

“Desa Ponggok itu dulu desa miskin bahkan dibilang tempat Jin buang anak. Sekarang Desa Ponggok menjadi desa yang kaya dengan cara mandiri. Gaji Kepala desanya saja sepuluh juta perbulan. Pak Presiden Jokowi sudah dua kali datang ke desa itu. Bahkan dari Eropa saja datang ke desa itu tuk melakukan study banding. Hebat benar tuh kadesnya. Padahal tak pala ganteng orangnya,” terang Ego sambil berkelakar seraya tertawa. 

Ditanya apa programnya ke depan setelah mengikuti bimtek tersebut, Ego mengatakan akan mencoba meniru pola kerja Kades Ponggok di desanya guna memajukan desanya dengan memanfaatkan pendapatan asset desa serta adanya dana bumdes di desanya. 

“Saya akan coba mengikuti pola kerja Kades Ponggok. Dana bumdes akan kita rubah pengelolaannya. Kita akan buat bagaiamana dana bumdes itu menyentuh dan betul bermanfaat bagi masyarakat dan bisa menambah pendapatan desa,” sebut Ego mengakhiri. (Joko W. Erlambang)