Cerita Rakyat: Perselihi

Cerita Rakyat: Perselihi

Oleh: Edison Tarigan Gerneng

Seorang Raja yang serba berkecukupan dengan kerajaanya yang sangat besar di Kuta Raja – Tanah Pakpak suatu ketika ditimpa penyakit yang sangat parah. Segala upaya pengobatan pun telah dilakukan kepadanya, namun penyakit sang raja tak kunjung sembuh.

Akhirnya di undanglah ahli nujum (guru belin) yang terkenal, yaitu Guru Pitu Sendalanen Ercikenken Tungkat Malaikat, Erpustakaken Pustaka Najati untuk memeriksa penyakit yang tengah diderita oleh sang raja.

Setelah kedatangan guru belin yang berjumlah 7 orang dengan berbagai keahlian, yakni terdiri dari ahli racun, ahli seni bela diri, ahli meramal, ahli berkomunikasi dengan alam gaib, ahli ramuan tradisional, serta keahlian lainnya yang membuat mereka sangat dihormati dan disegani pada masa tersebut.

Setelah usai melakukan ritual, maka diputuskan tidak ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit sang raja, jika tanpa melakukan perselihi, yakni upacara substitusi untuk menggantikan seseorang yang telah dinyatakan dukun atau guru akan mengalami bahaya maut.

Tetapi perselihi yang diminta guru belin berbeda dari perselihi biasa, dimana persilihi biasa hanya menggunakan media benda kayu ukiran atau batang pisang, tetapi kali ini diwajibkan menjauhkan seorang anak raja yang paling disayanginya, yakni anak bungsunya.

Mendengar persyaratan persilihi yang diminta guru belin tersebut, sang putra raja pun bersedia pergi dari tanah kelahirannya, meninggalkan ayah ibunya dan saudaranya demi kesembuhan sang raja.

Selayaknya perselihi, maka sebelum sang putra raja pergi meninggalkan tanah kelahirannya kuta raja, dibuatlah ritual.

Seekor kerbau pun potong dan si bungsu pun diberi makanan di ujung daun pisang lengkap dengan bunga pitu sampuren, galuh si embun dan cimpa embun-embunen.

Pada saat itu juga sang raja berpesan kepada anak bungsu kesayangannya itu. “Anakku teman bapana, sirang me kita la kepaten, amin bage gia anakku teman bapana, babandu sempukul taneh ras lau meciho sada tabu kuta raja enda nari. Darami pagi taneh ras lau si seri ras taneh bagepe lau si babandu e. Kune pagi enggo kam jumpa, ije pagi ke pajek barungndu”.

Atas petuah sang ayah, berangkatlah sang putra raja meninggalkan tanah kelahirannya ke cibal tekang (dari selatan ke utara) demi kesembuhan ayahnya.

Dan benar, apa yang dikatakan guru belin pakpak pitu sendalanen tersebut. Setelah kepergian si bungsu, kondisi raja pun akhirnya membaik.

Disisi lain, perjalanan sang putra raja pun akhirnya tiba di Uruk Gung Mbelin. Di timbangnya segenggam tanah dan setabu air di Uruk Gung Mbelin yang dibawanya dari Kuta Raja sesuai petuah sang ayah dan sesuai.

Akhirnya sang putra rajalah barung di uruk Gung Mbelin dan berumah tanggalah dia disana. Di Uruk Gung Mbelin dia mendapatkan 4 anak, terdiri dari 3 laki-laki dan satu perempuan. Anak pertama bernama Si Tambe, anak kedua bernama Si Cibu, anak ketiga bernama Serukati, dan anak keempat diberi nama Tambar Malem.

Bersambung

*Tulisan ini disadur dari berbagai sumber