Cerita Rakyat: Rumah Sipitu Ruang dan Adat Tepung Tawar

Cerita Rakyat: Rumah Sipitu Ruang dan Adat Tepung Tawar

Keterangan Foto: Palas Rumah Sipitu Ruang di Ajinembah

Oleh: Edison Tarigan Gerneng

Dikisahkan seorang raja termansyur dengan julukan Pulu Ajinembah yang di bawahi Sibayak Barusjahe, sekaligus merupakan Anak Beru dari Sibayak Barusjahe sedang membangun rumah yang sangat besar dan dijuluki “Rumah Sipitu Ruang”.

Pada saat “Rumah Sipitu Ruang” siap dibangun, maka sebelum ditempati dibuatlah ritual adat yang sangat meriah (Mbengket Rumah Kerja Sintua) dan mengundang seluruh Sangkep Nggeluh dari Pulu Ajinembah, serta masyarakat (anak Kuta Ajinembah).

Namun pada prosesi adat tersebut, muncullah sebuah keganjilan luar biasa, dimana tamu yang di undang tidak kunjung pulang dan yang tidak diundang pun berduyun-duyun datang terus-menerus dan enggan pulang, atau dengan kata lain para pengunjung bagai terhipnotis, sehingga tidak meninggalkan acara tersebut.

Pulu Ajinembah pun kebingungan. Padi satu lumbung pun telah hampir habis, ternak hewannya pun terus menerus ditangkap dan dijadikan sebagai menu makan bersama.

Pengunjung tiada habisnya, tamu yang mau pulang melalui Ujung Kayu (pintu Rumah Sipitu Ruang sebelah hulu) tanpa mereka sadari terhipnotis dan kembali lagi naik ke rumah melalui Bena Kayu (Pintu Rumah Sipitu Ruang sebelah hilir) begitu terus menerus.

Akhirnya dimintalah kepada Guru Belin (Ahli Nujum) untuk membantu Pulu Ajinembah. Dibuatlah didalam mangkuk air putih (lau meciho), yang dicampur dengan telur ayam (tinaruh raja mulia), akar (urat-urat), kayu tawar dan bulung si malem-malem. Kemudian diletakkan di kedua pintu Rumah Sipitu Ruang (Pintu Bena Kayu dan Pintu Ujung Kayu).

Setia tamu yang keluar dari rumah Sipitu Ruang dipercikkanlah air yang sudah dimantra Guru Belin. Seketika sadarlah mereka dan ingat pulang ke rumahnya masing-masing. Dengan demikian, maka selesailah dengan sendirinya pesta syukuran Mbengket Rumah Sipitu Ruang.

Hikayat inilah yang menurut sumber menimbulkan budaya adat “Tepung Tawar” pada setiap Mbengket Rumah di Ajinembah hingga saat ini.