Tanpa Disadari Budaya Karo Ternyata Telah Lama Mendukung Wisata Halal

Tanpa Disadari Budaya Karo Ternyata Telah Lama Mendukung Wisata Halal

Keterangan foto: Suasana Kehidupan Masyarakat Karo Tempo Dulu

Oleh: Edison Tarigan Gerneng

Melihat panasnya isu wisata halal yang kini sedang viral di media sosial, atas dasar tersebut para penggiat budaya Karo dalam sebuah lembaga Karo Ersinalsal ikut memberikan tanggapan dalam prespektif adat budaya Suku Karo mengenai budaya halal dalam ruang lingkup per-adatan Suku Karo.

Pada adat Suku Karo, jika wisata halal dipadang karena mengkonsumsi makanan yang mengandung daging babi, maka sebenarnya Suku Karo jauh sebelum berita wisata halal ini mengemuka pun sudah menerapkannya.

Ini terbukti dan bisa lihat pada kultur atau kebiasaan masyarakat Karo, baik itu dalam hajatan pesta, prosesi ritual adat dan juga pada pengobatan-pengobtan tradisional Karo.

Untuk mempertajam ke tiga poin di atas bisa dilihat realita yang terjadi pada Komunitas Masyarakat  sebagai berikut:

Di setiap Pesta Adat di Desa/Dusun atau di Kota, maka Orang Karo yang melakukan pesta besar dan kecil,  pasti membuatkan menu khusus untuk yang dianggap pantangan bagi suatu kelompok (simantang) dalam hal ini umumnya daging babi.

Tidak itu saja, Orang Karo juga selalu menempatkan makan secara khusus di salah satu rumah warga atau di salah satu bagian tersendiri pada Jambur bagi para undangan dan kerabatnya yang tidak mengkonsumsi (mantang) atau haram terhadap daging babi.

Uniknya lagi, untuk saat ini khusus mengenai menu konsumsi yang mengandung daging babi pada suatu pesta sudah mulai ditinggalkan. Saat ini Orang Karo justru sudah mulai membuat makanan dengan julukan ‘Menu Nasional’ yang dapat dikonsumsi oleh seluruh kalangan.

Dengan menu yang dinamai ‘Menu Nasional’ ini, maka sudah jelas tidak lagi menyajikan makanan yang mengandung daging babi untuk dihidangkan kepada seluruh tamu undangan. Selanjutnya begitu pula dengan kebiasaan orang Karo dalam menjalankan ritual adat, baik itu adat suka cita atau pun duka cita.

Jika memang halal itu dilihat dari prespektif ada atau tidak adanya daging babi dalam sebuah ritual, maka jelas budaya Karo juga secara alamiah mendukung hal tersebut. Sebab dalam menjalankan adat Suku Karo, justru tidak ada kita temukan menggunakan daging babi.

Suku Karo yang umumnya bermukim di wilayah Kabupaten Karo, Langkat, Binjai, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Deliserdang dan Taneh Pinem, secara selaras hanya mengggunakan perlengkapan ritual adat menggunakan daging ayam.

Daging ayam tersebut dinamai dengan istilah ‘Manuk Sangkep’ atau ‘Manuk Ni Atur’. Inilah yang menjadi perlengkapan ritual adat pada Suku Karo.

Begitu pula pada pengobatan tradisional Suku Karo. Hampir di setiap pengobatan secara tradisional yang dilakukakun oleh Tabib/Guru Si Baso/Guru Belin, selalu memberi pantangan pada pasiennya, yakni daging Anjing dan daging Babi.

Jadi begitulah kehidupan Suku Karo, bila dilihat dari beberapa poin contoh di atas sesuai dari pantauan Lembaga Karo Er Sinalsal, maka mengenai halal jika dilihat dari prespektif adanya kandungan daging babi, maka Suku Karo sudah menjadi bagian halal  dalam berbagai bidang, baik itu kehidupan sosial antar pemeluk agama yang berbeda-beda yang beracampur baur di sebuah hajatan atau pesta, dalam perlengkapan ritual adat, hingga di pengobatan-pengobatan tradisional.

Jadi tanpa disadari oleh publik, sebenarnya Suku Karo telah menjadi penyaji wisata halal. Bahkan lebih lengkapnya lagi, Suku Karo yang multi agama sudah menjadi bagian halal dalam kehidupan sosial. Halal dalam ritual adat, dan halal pula dalam pengobatan tradisional.

*Penulis adalah pemerhati dan penggiat budaya Karo dari Komunitas Karo Ersinalsal