Tidak Punya Rahang, Rudi Asono Warga Bilah Hilir Harapkan Sentuhan Tangan Dermawan

Tidak Punya Rahang, Rudi Asono Warga Bilah Hilir Harapkan Sentuhan Tangan Dermawan

Foto: Tampak Kondisi Tubuh Rudi Asono Didampingi Camat Bilah Hilir, Bangun Siregar S.Pd, Kepala Desa Sidomulyo Sukri dan orang tua Rudi Asono Adi P dan Irma Siregar di Kantor Camat Bilah Hilir/(Joko W. Erlambang)

Sipayo.com – Asanya telah hilang. Impiannya telah direnggut keadaan yang tidak pernah ia harapkan. Masa kecil yang ceriah tak lagi ia miliki. Cita-citanya di masa kecil pupus sudah laksana debu yang terbang dihempas badai yang tak kenal kompromi.

Rudi Asono (17) putra dari pasangan Adi Panjaitan (51) akrab disapa Adi Aceh  dan Irma Siregar (50) warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu harus kehilangan rahangnya sejak ia berusia 9 tahun.

Ketika hidup harus memilih dalam dua piihan yang pahit. Mau tidak mau harus dipilih satu walau pun pilihan itu sangat pahit. Nyawa lebih berharga dari harta. Demi keselamatan jiwa anaknya, dokter spesialis bedah Rumah Sakit Umum Adam Malik Medan diijinkan melakukan operasi mengangkat rahang dari mulut Rudi Asono disebabkan penyakit tumor ganas yang semakin membesar pada rahang bocah remaja itu.

Hasil dari operasi, tampak terpasang sebuah besi berbentuk gelang besi yang dicangkokkan di antara tenggorokan dan rahang kanan atas Rudi Asono.

Historis perjalanan singkat bocah remaja yang telah kehilangan masa depannya itu, diceritakan oleh sang ayah Adi  usai acara sosialisasi dan penyerahan kartu BPJS di kantor Camat Bilah Hilir kepada Sipayo.com di hadapan Camat Bilah Bilir Bangun Siregar S.Pd Kepala Desa Sidomulyo Sukri dan Kepala Bidang Sosial penanggulangan kemiskinan Ahmad Lokot Ritonga SE beberapa hari lalu.

“Kebetulan hari ini ada acara sosialisasi BPJS, saya perintahkan tadi kepada kepala dusun agar warga saya ini (Adi) membawa anak dan istrinya datang ke kantor camat. Ya ternyata respon dari pak camat dan kabid sos bapak Ahmad Lokot positif agar kiranya kartu BPJS dari kartu mandiri dialihkan ke kartu PBI,” ujar Sukri.

Guna menelisik lebih dalam, wartawan Sipayo.com didampingi Ketua Karang Taruna Desa Sidomulyo Wahyudi, datang berkunjung ke kediaman Adi Aceh untuk melihat langsung situasi kondisi kehidupan keluarga Adi Panjaitan alias Adi Aceh.

Sesampai di lokasi, pandangan yang sangat miris terpampang di depan mata. Pria setengah tua berputra 4 itu ternyata tidak memiliki tempat tinggal pribadi. Sebuah bangunan dengan ukuran 1,5 x 4 meter terbuat dari dinding tepas dan triplek yang mereka huni berdiri di atas parit pemerintah jalan protokol Pasar 8 Desa Sidomulyo.

“Sudah 6 tahun saya tinggal di atas parit PU ini Pak, kalau sebelumnya saya ya numpang- numpang di rumah orang. Mau nyewa rumah takut gak terbayar Pak. Maklumlah Pak, kerja saya hanya mocok – mocok. Harapan saya di sini saya tinggal tidak digusur Pak,” ungkap Adi dengan nada yang menghiba.

Adi menuturkan, saat pertama kali melakukan operasi anaknya itu ia menggunakan kartu Jamkesmas (Jaminan kesehatan masyarakat). Tetapi, biaya yang ditanggung Jamkesmas hanya sebesar Rp.3000.000. (Tiga juta rupiah). Sedangkan biaya yang habis hampir mencapai tiga puluh jutaan.

“Saya harus mengutang kesana kemari mencari biaya itu Pak. Apalagi saat itu anak saya 4 orang masih kecil – kecil. Bagaimana saya mungkin  mau beli tapak rumah Pak. Bisa untuk lepas makan saja sudah alhamdulilah. Lagi pula keselamatan jiwa anak saya yang lebih utama. Biar saya gak punya rumah yang penting jiwa anak saya selamat Pak,” sebutnya.

Lebih mirisnya lagi, lanjut Adi,dengan keadaan kondisi kehidupan ekonominya yang seperti itu,  di masa pemerintahan kepala desa Sidomulyo yang lalu, Adi mengatakan tidak pernah mendapat bantuan apa pun dari pemerintah. Baik itu raskin mau pun BLT. Bahkan dari sekolahan anaknya tidak pernah dapat bantuan seperti BSM (bantuan siswa miskin).

Kini, tambahnya, Desa Sidomulyo dibawah pimpinan Sukri, Adi mengaku telah mendapatkan beras atau sebagai anggota PKH.

Terkait soal operasi kedua kalinya yang ia inginkan yaitu memasang rahang mulut untuk anaknya. Hal itu ia katakan sebagaimana keterangan dokter yang melakukan operasi terhadap putra ke empatnya 8 tahun lalu. Rahang dapat dipasang kembali pada saat anaknya sudah berusia  16 atau 17 tahun.

“Saya ingin anak saya punya rahang Pak. Kalau operasinya mungkin bisa lewat BPJS, tetapi, biaya beli rahangnya itu harganya empat puluh juta Pak. Ya saya sangat berharap ada bantuan dari pemerintah atau pun orang – orang yang peduli kepada keluarga saya. Karena ekonomi saya seperti ini. Saya ingin anak saya punya rahang kembali dan bisa bicara normal seperti anak – anak lainnya Pak,” ungkap Adi sekaligus menerangkan istrinya saat itu lagi menjual kue di sekolahan SD Negeri yang tak jauh dari tempat tinggalnya.

Ketua Karang Taruna Desa Sidomulyo Wahyudi, diminta tanggapannya mengaku hatinya merasa miris melihat kondisi seperti itu.

Foto: Ketua karang Taruna Desa Sidomulyo, Wahyudi saat Berbincang dengan Adi Panjaitan Dikediamannya Dusun Pasar 8, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bilah Hilir, Kabupaten Labuhanbatu/(Joko W. Erlambang)

“Sedih dan malu saat ini rasanya hati ini Bang. Di desaku ada yang kondisi keadaannya seperti itu selama ini kurang dipedulikan. Sementara awak tidur nyenyak di springbed yang empuk, makan kecukupan, tetapi di sekitar kita ada yang seperti ini kurang terperhatikan. Berdosa rasanya hati ini Bang,” imbuh Yudi.

Sebagai ketua organisasi sosial juga menjabat sebagai Bendahara Ranting Pemuda Pancasila Desa Sidomulyo nuga pengurus ranting Partai Golkar, Yudi mengatakan akan segera melakukan koordinasi dengan kepala desa, ketua PK Golkar Kecamatan Bilah Hilir, Ketua PAC Kecamatan Bilah Hilir, dan Ketua MPC Pemuda Pancasila Kabupaten yang notabenenya Bupati Labuhambatu.

“Tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama yang ada di desa kita akan kita ajak duduk bersama membahas masalah ini. Kita harus tunjukkan kepedulian kita terhadap orang yang tidak mampu tanpa memandang suku  agama dan golongan. Ingat! Di dalam hartamu ada rezeki orang lain. Itu tak boleh kita lupa. Rajin sedekah betambah rezeki kita, tapi jangan tambah bini kita. Kecuali beganti karena mati. Jangan lama menduda nanti jadi masalah,” imbuh Yudi bak ustad Somad seraya berkelakar.(Joko W Erlambang).