Feriyani Lim Bantah Punya Hubungan Khusus Dengan Abraham Samad

Feriyani Lim Bantah Punya Hubungan Khusus Dengan Abraham Samad
Kedatangan Feriyani Lim ke Bareskrim Mabes Polri, Senin (2/2/2015) sekitar pukul 9.00 WIB ternyata bukan dalam rangka memberi kesaksian terkait foto mirip dirinya dengan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad. Namun perempuan kelahiran Pontianak 5 Februari 1986 tersebut adalah untuk mempolisikan Samad terkait tuduhan pemalsuan dokumen berupa KTP. (Baca: Feriyani Lim Datangi Bareskrim Mabes Polri)
Hal tersebut diungkapkan tim kuasa hukum Feriyani Lim, Haris Septiansyah kepada wartawan bahwa kliennya tidak memiliki hubungan khusus dengan Ketua KPK Abraham Samad. Menurut Haris, kliennya berhubungan dengan Samad hanya untuk keperluan pembuatan paspor di Makassar pada tahun 2007 yang lalu.
“Antara klien kami tidak ada korelasi apa-apa dengan AS. Ya kalau masalah foto ya mungkin teman-teman, Indonesia kan banyak pakar telematika, informasi, dan segala macam. Mungkin kalau foto-foto, bisa ditelusuri di sana. Cuma yang jelas saat ini saya tegaskan klien kita tidak punya hubungan apa pun dengan AS tadi,” ungkap Haris di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (2/2).
Haris juga menambahkan, kliennya tidak berhubungan lagi dengan AS setelah pembuatan paspor tersebut selesai. Menurutnya, dalam pebuatan paspor tersebut, AS dan Uki merubah identitas Feriyani, yakni nama dan alamat. Nama Feriyani diubah menjadi Siska, sedang alamatnya diubah menjadi satu alamat dengan AS dalam satu KK yang sama.
Terkait laporanya tersebut, Feriyani Lim kini meminta perlindungan dari kepolisian. Haris Septiansyah mengatakan, kliennya merasa terganggu dengan pemberitaan saat ini. Sebelumnya, Lim melaporkan Abraham Samad (AS) dan Uki (U) kepada Bareksrim Polri kemarin, Minggu (1/2)
“Terlapornya di sini adalah Bapak U dan Bapak AS di mana dugaan tindak pidana yang dilakukan adalah dugaan tindak pidana pemalsuan dokumen negara berdasarkan UU No. 23 Tahun 2006. Dan pada hari ini kami meminta untuk bertemu Bapak Kabareskrim untuk meminta penempatan anggota kepolisian untuk klien kami,” ungkap Haris.
Haris Septiansyah mengatakan, kliennya merasa menjadi korban atas pemalsuan yang dilakukan Abraham Samad dan Uki pada 2007 lalu di Makassar. Sebelumnya, pada 2007 FL berniat membuat paspor di Pontianak. Namun karena saat itu belum ada sistem paspor online, AS dan U menawarkan bantuan pada FL untuk membuat paspor di Makassar. FL diminta hadir untuk berfoto. Selanjutnya, tanpa surat pengantar, paspor tersebut pun jadi. Saat itu, menurut Haris, FL sendiri tidak tahu dokumen yang dipegangnya merupakan dokumen palsu.