Pesta Budaya Mejuah-Juah Kembali Digelar Tahun 2015

Pesta Budaya Mejuah-Juah Kembali Digelar Tahun 2015

Pegelaran budaya tahunan Pesta Mejuah-juah (Bunga dan Buah) yang diselenggarakan di kota wisata Berastagi, Kabupaten Karo sejatinya sudah dilaksanakan sejak tahun 1988. Event budaya tersebut sempat terhenti pada tahun 1997 hingga tahun 2000 dengan alasan keuangan pemerintah ketika itu merosot tajam akibat sebagian dunia internasional termasuk Indonesia dilanda krisis moneter.
Pada tahun 2001, pegelaran Pesta Mejuah-juah kembali digelar, dan hal tersebut berlangsung hingga tahun 2005 setiap tahunnya. Namun sejak tahun 2005 sampai tahun 2014, kegiatan kebudayaan yang selalu dinantikan oleh masyarakat Sumatera Utara tersebut kembali hilang dari peredaran.
Angin segar kehadiran Pesta Budaya Mejuah-juah kembali terdengar di tahun 2015 ini. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bupati Karo, Terkelin Brahmana bahwa kegiatan budaya dan pariwisata tersebut kembali akan digelar tahun ini.
“Setelah lama vakum, Pemkab Karo akan kembali menggelar event budaya tersebut. Ritual kebudayaan dan pariwisata tersebut akan kita kemas lebih menarik dan modern tanpa mengabaikan nilai-nilai budaya daerah,” ujar Terkelin Brahmana kepada sejumlah wartawan beberapa waktu lalu di Kabanjahe.
Menurut Terkelin Brahmana, kegiatan tersebut akan digelar pada bulan Juni yang bertepatan dengan libur anak sekolah. Adapun tujuan dari event ini adalah untuk melestarikan nilai-nilai seni, bahasa, dan adat istiadat agar tidak tergerus alam modernisasi.
“Nantinya, pesta budaya Mejuah-juah, bunga dan Buah, akan kita gelar setiap Juni (libur anak sekolah), tanggalnya nanti dicocokkan, dan tanggal itu nanti tidak akan kita ubah lagi. Sehingga bisa ditetapkan sebagai kalender tetap Dinas Pariwisata dan Budaya Pemkab Karo,” ujarnya.
Dalam rangka mewujudkan event budaya tahunan tersebut, anggaran pelaksanaanya juga telah rampung di APBD TA 2015. Menurutnya, pelaksanaan kegiataan ini tinggal menunggu kesiapan masing-masing stakeholder, khususnya pada instansi terkait baik di Kabupaten Karo maupun Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.
“Menggalakkan pesta budaya terakbar ini untuk nantinya menjadi skala internasional secara berkesinambungan. Sehingga segala fasilitas pariwisata yang ada selama ini dapat lebih bermanfaat bagi wisatawan yang datang berkunjung,” terangnya.
Sejalan dengan momen kegiatan Pesta Mejuah-juah, Terkelin juga menginginkan agar kegiatan pariwisata di Kabupaten Karo semakin meningkat. Minimnya kegiatan yang berkaitan dengan kepariwisataan selama ini, menurutnya menjadi salah satu penyebab banyak fasilitas pariwisata di Kabupaten Karo tak termanfaatkan dengan baik.
“Selama ini banyak fasilitas pariwisata tidak termanfaatkan, akibat minimnya kegiatan yang berkaitan dengan kepariwisataan. Hal ini disebabkan lemahnya promosi wisata melalui berbagai jaringan,” ujarnya.
Selain melalui kegiatan Pesta Mejuah-juah, Bupati juga mengingatkan agar berbagai media sosial juga diharapkan dapat dimanfaatkan menjadi ajang promosi bagi wisata Tanah Karo kedepannya.
“Promosi wisata Tanah Karo melalui jejaring sosial seperti, facebook, twitter, youtube, blog dan berita-berita media cetak juga sangat penting dilakukan, termasuk up dating portal pariwisata Karo yang selama ini sangat lemah,” terang Terkelin.
Sementara itu, Kadis Pariwisata dan Budaya Kabupaten Karo, Dinasti Sitepu mengatakan, selama ini Dinas Pariwisata selalu terbentur biaya promosi yang cukup tinggi, sementara sebuah pesta budaya tidak terlepas dari biaya promosi. Meski demikian, Pemkab Karo dalam hal ini dinas Pariwisata telah memiliki siasat untuk mengatasinya.
“Tingginya biaya promosi sebuah gelaran festival budaya membuat pemerintah kadang berpikir ulang untuk menggelar even tersebut. Untuk menyiasati hal ini kita akan berinisiatif mengajak komunitas-komunitas travel untuk membantu promosi lewat sosial media,” ujar Dinasti.