Momen Erupsi Sinabung Dominasi Foto Pilihan CNN Indonesia

Momen Erupsi Sinabung Dominasi Foto Pilihan CNN Indonesia
Sebagai ujung tombak dalam rangka mengabarkan kondisi terkini dari berbagai aspek lokasi bencana melalui gambar atau visual bukanlah hal yang mudah seperti layaknya liputan dalam kegiatan sehari-hari para pewarta foto.

Mengasah inspirasi, kepekaan terhadap lingkungan dan kemanusiaan, serta tuntutan deadline seakan memaksa mereka harus bekerja melebihi kecepatan komputer berteknologi tinggi. Hal ini yang menjadi salah satu nilai plus bagi pewarta foto yang secara terus menerus ‘melek’ tanpa melewatkan momen ketika Gunung Sinabung mengamuk.

Bukan cuma sampai disitu, bahkan tak jarang sejumlah pewarta foto mengalami tekanan saat melakukan liputan. Terbukti saat terjadi letusan besar dari Gunung Sinabung. Kerap pula ada fotografer panik saat menyaksikan debu vulkanik membubung ke langit hingga mencapai 3.000 meter ke atas.

Dalam melaksanakan peliputan, pewarta foto juga sering dipenuhi debu vulkanik, bahkan mereka juga seakan melakukan kompetisi saat mengabadikan momen erupsi. Parahnya, ada sejumlah fotografer yang kehabisan baterai kamera atau memori kamera penuh sehingga melewatkan momen menarik.

Selebihnya, sebagian besar fotografer juga ada yang mengurangi jam istirahatnya demi menunggu momen lava pijar pada malam hari. Hal itu membuat sang fotografer harus merelakan diri untuk selalu tegak semalam suntuk di hadapan kamera yang terpasang di tripot (penyangga kamera) untuk mengabadikan turunnya guguran lava itu. Belum lagi esok harinya, mereka harus meliput dampak dari erupsi malam dan mengintai segala sisi agraria yang terserang debu.

Semua hal tersebut dilakukan semata-mata untuk memberitahukan kepada publik tentang kondisi terkini desa-desa yang berada di kaki Gunung Sinabung. Semangat para pemburu gambar itu tidak terhenti meskipun medan yang akan ditempuh berdampak parah dan terkadang berisiko tinggi.

Berbicara soal risiko, pewarta foto harus terus mengasah insting dan memiliki perhitungan realistis saat mengabadikan momen. Sejarah mencatat, Sinabung pada ‘musim erupsi’ Januari-Februari 2014 lalu telah memakan 11 korban. Dua di antaranya malah para pemburu gambar, Rizal Syahputra dan Thomas S Milala.

Mengingat begitu besarnya pengorbanan, dedikasi, dan juga kesabaran dari para pewarta foto dalam rangka memberikan informasi terkait peristiwa erupsi Gunung Sinabung, sehingga tak jarang berbagai foto-foto jurnalistik yang dihasilkan kerap mendapatkan penghargaan atau sekedar dijadikan sebagai foto pilihan pada sejumlah media massa.

Hal ini juga berlaku bagi CNN Indonesia, tepatnya pada 28 Februari 2015, dari 14 foto pilihan media online ini yang diberi judul “Mereka yang Berdedikasi di Balik Jepretan Kamera”, tiga foto yang terpilih diantaranya adalah mengenai momen erupsi Gunung Sinabung yang sudah berlangsung sejak bulan September 2013. Berikut adalah masing-masing foto berikut keterangannya yang disajikan CNN Indonesia baik dalam bahasa Indonesia, maupun dalam bahasa Inggris.

1. Seorang warga masyarakat kecamatan Naman Teran Kabupaten Karo yang sedang menelepon keluarganya saat terjadi erupsi Gunung Sinabung. (17/9/2013) (Lazuardy Fahmi/ APFI-V) 


2. Thomas Milala, 31, uses his mobile phone to calling her mom as Mount Sinabung continues to erupt, in Karo district on the north of Indonesia’s Sumatra island on November 18, 2013. Thomas Milala working as freelance photojournalist is the one of 17 peoples died during Mount Sinabung eruption. (Sutanta Aditya)

3. Seekor anjing menghampiri anjing yang sudah mati akibat terkena debu vulkanik, banyak hewan yang mati dikawasan gunung sinabung yang sudah mengeluarkan abu vulkanik dan lava pijar setahun terakhir, 10 Januari 2014. (Gilbert Manullang)