Cerpen Motivasi: Aku Pasti Bisa!

Cerpen Motivasi: Aku Pasti Bisa!
Karya: Haravikana Ansita Kaban

Ika merupakan anak paling bungsu di keluarganya. Akan tetapi dia tidak manja seperti anak lain. Dia mempunyai seorang kakak bernama Veronika yang memiliki sifat manja dan sering memperlakukan Ika seperti pembantu di rumah mereka. Meskipun demikian Ika tetap sabar menghadapi sifat kakaknya.

Setiap pagi, Ika bangun sekitar pukul 05.00 WIB, sebelum bangkit dari tempat tidur dia tak lupa berdoa terlebih dahulu. Barulah setelah itu ia mulai melakukan aktivitas.

Meski Ika berasal dari keluarga yang berada dan mempunyai dua orang pembantu dirumah mereka, akan tetapi Ika sangat sederhana dan selalu bekerja membantu tugas-tugas di rumah. Hal ini sangat berbeda dengan sifat Vernonika yang hampir tak pernah melakukan pekerjaan apapun dirumah dan bangun tidur juga selalu lebih dari jam 7.00 pagi.

Antara Ika dan Veronika masing-masing merupakan mahasiswa di salah satu Universitas ternama di Jakarta. Ika kuliah di jurusan Kesehatan, sementara Veronika di jurusan Pendidikan. Dalam perkuliahannya, Ika memilih jadwal sore, dan ini dilakukannya agar pada pagi dan siangnya dapat berkerja paruh waktu untuk membiayai kuliah, sebab orang tuanya tidak pernah perduli terhadapnya. Veronika sendiri kuliah dengan jadwal pagi, sebab dia tidak perlu repot memikirkan biaya kuliah karena sepenuhnya memang diberikan oleh orang tua kepadanya.

Dengan realitas seperti demikian, tampaklah bahwa orang tua mereka merupakan orang tua yang pilih kasih. Mereka lebih memperhatikan Veronika dibandingkan Ika. Hal ini terjadi disebabkan Ika sendiri memiliki cacat dibagian tubuhnya, dengan keberadaan cacat di tubuh Ika inilah menjadi alasan mengapa orang tua kurang menyanyangi dirinya.

Selain itu, keseharanian Ika juga sering menjadi olok-olok di tengah keluarga, bahkan tak jarang dia juga mendapatkan cacimaki. Keluarga mengagap bahwa dengan kekurangan fisik yang dimilikinya, membuat Ika tak akan pernah sukses dalam kehidupannya.

Olok-olok dan caci maki dari keluarga selalu dihadapi oleh Ika dengan sabar dan tanpa putus asa. Dirinya bertekad akan menjadi orang yang sukses, walaupun dengan segala kekurangan yang dimilikinya. Segala cacian yang diterima, ia jadikan sebagai motivasi untuk lebih bangkit lagi.

Dengan segala usaha dan kerja kerasnya, Ika akhirnya sukses menyelesaikan kuliahnya dengan prestasi yang sangat memuaskan. Selain itu ia juga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi ke Korea Selatan. Sementara kakaknya telah lama putus kuliah karena kenakalannya sendiri.

Saat hari wisuda Ika, kedua orang tua memang tampak menghadiri, akan tetapi mereka tetap saja tak peduli kepada Ika, bahkan mereka justru iri karena Veronika sebagai anak yang mereka sayangi tidak bisa berprestasi sepertihalnya Ika. “Kamu memang telah berhasil menamatkan kuliah, tapi kami tak pernah bangga kepadamu,” demikianlah ungkapan kedua orang tua kepadanya saat hari wisuda itu.

Dalam hati Ika menahan tangis sembari berkata di dalam hati “Mama…, Pa… Ika berjanji akan buat kalian bangga dan menyayangi Ika. Walaupun Ika tidak tau kapan itu semua akan terjadi”.

Keberhasilannya menamatkan kuliah tidak lantas membuat Ika langsung berpuas diri atas apa yang telah dia raih. Setelah dua bulan wisuda berlalu, ia akhirnya berangkat ke Korea untuk melanjutkan studinya. Dalam kesempatan itu, Ika berpamitan kepada kedua orang tuanya. Meski demikian kedua orang tua tidak mempedulikannya, inilah yang semakin menjadikan Ika pergi dengan semangat dan tekat yang lebih kuat.

Di Korea, selain kuliah Ika juga membuka sebuah klinik. Hal ini dapat dia lakukan atas bantuan dari teman-temannya yang sangat sayang kepada Ika di Korea. Setelah tiga tahun lamanya di Korea, Ika akhirnya berhasil menyelesaikan studinya dengan prestasi yang memuaskan. Selain itu penghasilan dari klinik yang dia buka telah menjadikan Ika menjadi seorang yang berpenghasilan besar di negeri ginseng itu.

Setelah berhasil menamatkan studinya di Korea, Ika kemudian kembali ke Jakarta untuk menemui kedua orang tuanya. Saat orang tuanya melihatnya, mereka terkejut karena keberadaan Ika yang sudah sangat mapan dan berhasil. Bahkan cacat yang terdapat ditubuhnya juga sudah tak tampak lagi.

“Ma, Pa aku telah berhasil menggapai impian ku selama ini. Aku tidak berharap pujian dari mama dan papa. Namun aku hanya ingin agar ada sedikit terlukis rasa bangga di hati kalian atas prestasiku sebagai anak ditengah-tengah keluarga ini. Oh ya, dimana kak Vero? Mengapa aku tidak melihatnya?” Tanya Ika kepada kedua orang tuanya.

“Ika, kami bangga kepadamu. Kamu adalah seorang yang tak pernah kenal putus asa walaupun selama ini kami sering melecehkanmu dengan kekurangan yang kamu miliki dulu. Mama dan Papa benar-benar menyanyangimu. Akan tetapi, kakakmu sudah bertahun-tahun tidak pulang. Kami tidak tahu dia ada dimana, bahkan kami telah lelah mencari. Namun tidak ada hasilnya,” ujar ibunya berkata kepada Ika dengan rasa sedih dan penyesalan yang sangat mendalam.

“Ma, kebersahilan Ika ini hanya untuk kalian berdua dengan papa. Meski kak Vero sudah tidak ada disini bersama kita. Namun aku sebagai anak yang menyayangi mama dan papa akan tetap berusaha untuk membahagiakan kalian berdua. Terima kasih ma, karena telah melahirkanku. Terima kasih dengan semua lecehan yang dulu, karena hal itulah yang membuat aku telah berhasil dan sukses seperti saat ini,” ujar Ika sambil memeluk kedua orangtuanya.

Pesan: Berusahalah sekuat yang kamu bisa dan jangan pernah putus asa di saat orang melecehkanmu dengan semua kekurangan yang ada padamu. Jadikan semua itu menjadi motivasi buatmu.