Cerpen Renungan: Orang Kaya Yang Sombong

Cerpen Renungan: Orang Kaya Yang Sombong
Karya: Haravikana Ansita Kaban

Bel sekolah berbunyi, seluruh siswa masuk kedalam kelas. Jam menunjukkan pukul 7.30 WIB, seperti biasanya pelajaran telah dimulai. Febri adalah anak yang sangat rajin, jam 7.00 WIB dia telah hadir di sekolah. Dia tidak pernah terlambat, itulah sebabnya dia terkenal sebagai anak yang displin dan berprestasi.

Meski dia berasal dari keluarga yang sederhana, namun dia sekolah di SMA Negeri terkemuka di Bogor. Ibunya hanyalah sebagai ibu rumah tangga, sedangkan ayahnya seorang buruh bangunan. Meski ekonomi keluarga sangat pas-pasan, dia tidak pernah malu akan keadaan itu. Baginya, ibu dan ayahnya adalah harta yang tiada duanya.

Pulang sekolah Febri selalu mengantar makan siang untuk ayahnya. Setelah tugas rutin itu selesai dikerjakannya, barulah dia membantu ibunya membersihkan rumah dan memasak untuk makan malam.

***

Seperti biasa, ketika jam telah menunjukkan pukul 5.00 pagi, Febri telah bangun dan mulai merapikan tempat tidur. Setelah itu dengan segera ia menyuci piring, setelah pekerjaan ini selesai, barulah dia mandi dan bersiap-siap untuk pergi kesekolah.

Tak lupa sebelum berangkat, dia juga selalu mengutamakan sarapan pagi, hal ini dilakukannya agar kesehatan tetap terjaga dengan prima. Adapun jarak dari rumah kesekolah cukup dekat, hanya sekitar 500 meter. Karena jarak sekolah yang cukup dekat, Febri tidak perlu menggunakan angkutan umum dan cukup dengan jalan kaki saja.

***

Pagi itu, setelah bel berbunyi seluruh siswa masuk ke dalam kelas dengan tertib. Namun setiba didalam kelas, Febri merasa heran karena ada hal berbeda dikelasnya. Disebelah bangkunya terdapat sebuah tas, dia pun bertanya-tanya kepada teman sekolahnya, tetapi tak ada seorangpun yang mengetahui siapa pemilik tas itu.

Tiba-tiba wali kelas masuk, tetapi bukan sendiri. Dia masuk bersama seorang remaja putri yang juga mengenakan seragam abu-abu. Pada saat bersamaan wali kelas mempersilahkan murid baru tersebut untuk memperkenalkan diri dan menyapa teman-temannya.

Dengan percaya diri, murid baru tersebut menyapa teman-temannya sambil memberitahukan siapa nama dan dari sekolah mana dia berasal. “Hai teman-teman, kenalkan nama gue Hany. Gue pindahan dari SMA 1 Jakarta, gue adalah anak pengusaha terkaya di Jakarta,” ujar Hany memperkenalkan diri dengan sombongnya.

Disaat bersamaan murid-murid menjawab dengan ceria “Hai juga Hany, kami harap kamu nyaman disini,” ujar mereka serentak.

Setelah perkenalan itu, guru akhirnya mempersilahkan Hany untuk duduk disebelah Febri. Dengan senang hati, Febri mengulurkan tangannya sambil berkata. “Hai Hany, aku Febri, aku berharap kamu mau bergaul sama aku,” sapanya sambil tersenyum.

Hany menjawab sapaan Febri dengan ketus “Upsh…, sory ya, bukan gue gak mau. Tapi tangan lo gak higienis,” ujarnya.

Atas jawaban yang tidak mengenakkan dari Hany, Febri hanya bisa terdiam dan kembali melanjutkan membaca buku yang sebelumnya belum selesai dibacanya.

***

Bel istrahat pun berbunyi, semua siswa berhamburan ke kantin termasuk Hany. Akan tetapi tidak dengan Febri, dia hanya terdiam di kelas sambil menikmati makanan bekal yang sengaja ia bawa dari rumah. Baginya itu sudah cukup daripada harus mengeluarkan uang untuk beli jajanan di kantin.

Setelah jajanan usai di kantin, murid-murid kembali ke ruangan kelas. Saat melihat Febri sedang makan, dengan sengaja Hani menyenggol mejanya. Akhirnya makanan Febri terjatuh ke lantai, saat Febri ingin mengambil makanan tersebut Hany malah memijaknya dan berkata “Aduh, kasihan banget ya. Udah ga mampu jajan di kantin, makanannya juga jatuh. Apes banget sih lo?!..” Ujarnya.

Karena rasa kesal atas ulah Hany, Febri menjawab pernyataan itu dengan ketus “Asal kamu tau ya Hany, gak selamanya kekayaan itu akan menjadi kebanggaan buat kamu…!,” Kata Febri sambil memungut makanan yang berserakan di lantai sambil berlalu ke toilet untuk membasuh tangannya.

***

Bel berbunyi menandakan jam istrahat telah usai. Siswa kembali belajar dengan serius, akan tetapi Hany hanya asik bermain HP. Disaat Guru menegur, akan tetapi dia tak menghiraukan teguran tersebut.

Hany memang seorang anak pemalas. Meski demikian, orangtuannya selalu membiarkan sifat buruknya itu karena terlalu sibuk dengan kesibukan mereka.

***

Beberapa bulan setelah kejadian itu orang tua Hany bangkrut. Mereka menjadi orang miskin, sehingga seluruh teman-teman Hany satu persatu mulai menjauhinya. Kini Hany hanya sendiri, setiap istrahat pun dia hanya terduduk dikelas.

Melihat kondisi Hany yang kini menjadi serba berkekurangan, Febri tetap berbaik hati. Dia selalu berbagi makanan dengan Hany. Baginya kaya dan miskin sama saja, dia juga tetap mau berteman dengan Hany meski selama ini dirinya kerap dihina.

Sejak saat itu Hany sadar dan menyesali perbuatannya. Dia memeluk Febri sambil berujar “Febri, kamu memang teman sejati. Aku sangat menyayangimu. Maafkan aku jika aku pernah sombong dan menyakiti perasaanmu,” ucapnya.

“Hany… Aku gak pernah marah kok sama kamu, yang sudah berlalu biarlah berlalu,” jawab Febri.

“Febri, sekarang aku sadar, semua kekayaan yang kita punya tidak selamanya membanggakan kita. Tuhan telah memberikan hukuman kepadaku atas semua salahku selama ini,” ucap Hany sambil menitikkan air mata.

Akhirnya Febri pun kembali memeluk Hany sambil berkata “sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu!” ucapnya sambil tersenyum.

Pesan: Apakah kekayaan selamanya membanggakan? Tentu tidak, kaya boleh saja, tapi jangan pernah sombong atas apa yang telah kita miliki.