Cerpen: Pedah Nande Akan Kami Wujudkan

Cerpen: Pedah Nande Akan Kami Wujudkan
Karya: Haravikana Ansita Kaban

Nande (Ibu) Rana adalah seorang perempuan yang tegar meski dengan kehidupan yang sangat sederhana. Ia merupakan istri dari seorang suami yang juga sangat peduli kepadanya. Nande Rana telah dikaruniai anak kembar yang sangat sayang kepadanya. Meski demikian, terkadang ia merasa sedih melihat kehidupan mereka, tapi Nande Rana tak pernah memperlihatkan kesedihannya itu.

Dalam keseharian, Nande Rana selalu turut berkerja diladang bersama suami untuk mencari nafkah sekaligus biaya sekolah si kembar yang sekarang duduk dibangku kelas dua SMA. Rana adalah anak paling tua, sementara kembarannya bernama Rani. Kedua anak itu selalu bersama, setiap pulang sekolah mereka juga pergi keladang untuk membantu orangtuanya memanen jagung.

Suatu ketika, si kembar hendak berangkat kesekolah, saat itu ibunya berpesan “Nakku, nanti pulang sekolah tidak usah kalian ke ladang. Lagi pula jagung kita itu pun tinggal digiling, jadi biarlah Nande ras Bapa (Ayah) saja nanti keladang,” pesannya kepada kedua anaknya.

“Iya nande, kami mau ijin, nanti pulang sekolah kami mau pergi kerja kelompok ke rumah teman,” ujar kedua si kembar sembari meminta ijin kepada nandenya.

“Iya nakku, nanti kalau sudah siap kerja kelompoknya, kalian berdua langsung pulang ke rumah,” ujar ibunya memberikan ijin sembari memberikan nasehat kepada kedua anaknya.

Si kembar kemudian berpamitan kepada nandenya untuk pergi kesekolah, sementara mereka berdua akan diantar oleh bapanya.

Di sekolah si kembar bukanlah murid yang begitu pintar, namun dalam keseharian mereka selalu displin, oleh sebab itu mereka berdua kerap juga mendapatkan prestasi yang membanggakan. Selain itu, mereka berdua juga belum mengenal yang namanya pacaran, jadi mereka selalu fokus ke pelajaran di sekolah, sebab bagi mereka cita-citalah yang paling utama.

Setelah pulang sekolah mereka langsung pergi untuk belajar kelompok, kira-kira jam empat sore, barulah mereka kembali kerumah. Begitu tiba di rumah, mereka berdua langsung mengejarakan pekerjaan masing-masing. Rana mencuci piring dan Rani mencuci pakaian.

Seperti biasa, setelah jam enam sore, mereka berdua mulai memasak untuk makan malam. Tapi kali ini mereka kebingungan, sebab tidak ada persediaan sayur dan ikan yang harus mereka masak. Karena bingung dengan situasi yang demikian, mereka bertanya kepada nandenya “Nande, ikan sama sayur kita sudah habis, jadi apa yang harus kami masak?”

Si Nande pun menjawab “Nakku, uang nande tidak ada untuk membeli sayur dan ikan, begitupun dengan bapandu. Sepertinya ikan yang tadi pagi masih ada sedikit dan kebetulan ada tiga buah kentang di meja, jadi itu saja kalian sambal, sedangkan untuk sayurnya kalian ambil saja daun ubi yang dihalaman belakang rumah. Ini harus kita lakukan agar tidak terus mengutang di warung, sebab jagung kita juga belum terjual, jadi bayar pakai apa kita nantinya?” Jelas ibunya kepada kedua si kembar secara panjang lebar.

Rana menuruti perkataan nandenya sambil pergi kehalaman belakang sambil mengambil daun ubi, sedangkan rani menyambal sisa ikan dicampur dengan kentang.

Ketika sedang merebus daun ubi yang baru saja diambilnya, tanpa terasa Rana meneteskan air mata. Melihat anaknya menangis, Nande Rana pun bertanya kepada anaknya. “Rana, kam kenapa nakku? Kenapa kam menangis?” Tanya ibunya.

Rana menjawab dengan air mata di wajah “Nande, aku sedih melihat keadaan hdiup kita, untuk membeli ikan pun kita tidak punya uang, hingga akhirnya ikan yang tadi pagi kembali kami masak. Tapi nande, dibalik kesedihan ini, kami sanggat bangga punya orang tua yang selalu menanyayangi kami,” ujar Rana sambil semakin terisak kepada ibunya.

Dengan mata yang berkaca-kaca, Nande pun berkata lagi kepada anaknya “Nakku, tidak selamanya hidup kita seperti ini. Suatu saat pasti akan indah pada waktunya, karena itu kam dan adikndu Rani harus rajin sekolah, jangan pernah sia-siakan usaha nande ras bapa yang selalu berjuang demi kalian berdua,” ujarnya kepada Rana.

Saat bersamaan Rana pun memeluk Nande dan juga Rani yang ada disitu “Kami berdua berjanji nande, akan kami ubah hidup kita menjadi lebih baik dan membuat kam dan bapa bangga,” ujarnya berkata kepada ibunya.

Setelah itu mereka kembali melanjutkan memasak, saat malam tiba, meski dengan makanan yang sangat sederhana, namun mereka sangat bersyukurinya.

***

Tanggal 20 Juni si kembar tengah menerima rapot kenaikan kelas, mereka bangga atas prestasi yang berhasil diraih, akan tetap setelah sampai dirumah mereka terkejut melihat Nandenya telah tiada. Menurut penuturan bapanya, nandenya meninggal saat hendak pergi keladang. Seketika itu, bahagia pun menjadi duka, mereka berdua kehilangan arah. Namun sosok Bapa mereka selalu menjadi pemberi semangat kepada kedua anak kembarnya.

***

Waktu berlalu dengan cepat, setelah tamat SMA si Kembar kemudian melanjutkan kuliah ke Kota dan meninggalkan bapaknya sendirian di kampung halaman. Akan tetapi setiap sebulan sekali mereka selalu pulang ke kampung menemui ayahnya. Sungguh luar biasa kasih Allah, mereka kuliah tanpa uang keluar sedikitpun, mereka dibiayai oleh pemerintah karena prestasi mereka. Bapanya pun turut bangga melihat anak-anaknya.

***

Setelah empat tahun lamanya mereka kuliah, akhirnya tiba waktunya untuk wisuda. Bapaknya datang dari kampung untuk menghadiri acara wisuda tersebut. Mereka berdua sangat bahagia, sambil memeluk bapaknya dengan air mata yang menetes Rana berkata “Pa, nande tentu sangat bahagia dari sana melihat kami. Meski Nande tidak bisa hadir disini, akan tetapi semua pedah-pedah nande telah kami wujudkan. Oleh karena pedah-pedah nandelah kami kini telah berhasil, nande adalah malaikat terbaik kami, ia telah tenang bersama Allah di sorga, kami merindukan nande,” ujar Rana kepada bapanya. Mendengar perkataan anaknya, si bapa hanya tersenyum kecil sambil melirik wajah kedua putrinya yang kini telah berhasil menyelesaikan studinya.

Beberapa bulan setelah wisuda, mereka berdua telah bekerja dan berpenghasilan dengan cukup lumayan besar. Setiap bulan mereka dapat mengirim uang kekampung untuk bapanya. Bahkan semua hutang-hutang bapa mereka terdahulu juga sudah berhasil mereka lunasi. Sekarang mereka hidup tanpa berkekurangan, meski demikian mereka tidak pernah sombong kepada orang lain, sebab mereka masih terus mengingat pedah-pedah nande yang selalu membuat mereka bersyukur dengan keadaan.

Pesan: Jangan pernah mengeluh, akan tetapi tetaplah berusaha, semua akan indah pada waktunya.