Cerpen Renungan: Diriku Bukan Serendah Pekerjaanku

Cerpen Renungan: Diriku Bukan Serendah Pekerjaanku
Rino adalah seorang pemuda desa yang tampan, meski demikian dia berasal dari keluarga kurang mampu. Setiap hari dia pergi ke sawah untuk membantu ibunya mencukupi kebutuhan hidup. Rino putus sekolah pada saat masih duduk di kelas 2 SMK. Hal tersebut disebabkan faktor ekonomi keluarga yang memprihatinkan. Selain faktor ekonomi yang kurang mendukung, ternyata ayah Rino juga telah meninggal dunia. Jadi ibunya tidak kuat bila harus bekerja sendiri untuk mengurusi sawah mereka.

Dalam kesehariannya, Rino sangat tekun dalam bekerja, dia juga pandai mengelola sawah, sehingga banyak wanita di desa tertarik kepadanya. Akan tetapi Rino tidak pernah menanggapi hal itu, baginya pekerjaan dan ibunya merupakan hal yang lebih penting dari apapun juga.

Setiap pagi sebelum matahari terbit di ufuk timur, Rino sudah berangkat ke sawah, sementara ibunya di rumah mempersiapkan makan pagi untuk mereka berdua. Ketika jam 7 pagi tiba, ibu Rino telah selesai memasak. Saat itulah dia pergi ke sawah untuk mengantarkan makanan buat Rino. Adapun jarak antara rumah mereka dengan sawah lumayan cukup dekat.

Karena faktor usia, ibu Rino tidak sanggup lagi bila harus bekerja banyak di sawah. Dengan demikian, kebanyakan waktunya hanya mengurus rumah saja, sementara kebanyakan Rino sendirilah yang mengusahai sawah mereka yang cukup luas itu. Karena dikelola dengan baik, sehingga hasil panen yang mereka peroleh juga selalu memuaskan seperti yang diharapkan. Dalam setahun, mereka bisa panen padi sebanyak dua kali, selain hasilnya dikonsumsi sendiri, mereka juga menjual sebagian dari hasil panen itu untuk mendapatkan uang.

Di lingkungan sawah, Rino juga terkenal sangat ramah dan baik hati, para petani juga sangat menyukai sikapnya yang dikenal pemurah dan bersahaja. Ketika suatu waktu semua petani sedang resah karena musim hama padi mewabah, para petani tidak tau harus berbuat apa untuk mengatasinya. Mengetahui hal itu, Rino juga turut prihatin, dan kemudian mengumpulkan seluruh petani di Balai Desa untuk memberikan pelatihan bagaimana cara mengatasi hama tersebut.

Meski Rino adalah seorang anak yang putus sekolah, akan tetapi dia ini orangnya pintar dan bijak dalam urusan pertanian, hal ini dipelajarinya dari sang Ayah ketika masih hidup dulu. Dengan ilmu yang didapatnya dari mendiang ayahnya inilah Rino dapat memberikan penuturan kepada petani terkait cara mengatasi wabah hama yang sedang meresahkan di desa mereka.

Saat mendengar semua ceramah Rino kepada petani, Kepala Lurah yang saat itu juga turut hadir merasa bangga dan simpati kepada Rino atas ceramahnya yang dianggapnya luar biasa itu. Terkait ceramah Rino yang meyakinkan, akhirnya Lurah menyumbangkan pupuk dan obat-obatan pembasmi hama kepada petani sesuai dengan saran yang diungkapkan Rino melalui ceramahnya.

***

Musim hama akhirnya telah berlalu, keresahan para petani pun akhirnya sirna, mereka kembali dapat bekerja seperti biasa dengan rasa suka cita. Hari itu, cuaca sangat panas, Rino berhenti sejenak di gubuk yang berada dipinggir sawahnya. Tiba-tiba seorang gadis yang sangat cantik dan mengenakan celana pendek dengan mengenakan kaos putih, disertai dengan topi pantai dan juga tampak ada kacamata hitam dimatanya, lewat dari depan gubuk tersebut. Sepertinya gadis itu berasal dari kota dan sedang berkunjung kedesa Rino, sebab desa tersebut juga terkenal dengan pemandangannya yang sangat indah.

Dengan sopan, Rino bertanya kepada gadis itu “Maaf mbak, mau kemana? Mbak orang baru ya di desa ini? Cuaca lagi panas mbak, kalau tidak keberatan silahkan mampir barang sejenak di gubuk saya,” ujar Rino menawarkan dengan wajah tersenyum.

“Gue mau kemana emangnya urusan lo apa? Gue orang baru apa kagak masalah sama lo? Biar lo tau, gue kagak pernah duduk di gubuk yang kumuh, biasanya gue itu magang di cafe, ntar gue gatel-gatel lagi. Lagian ga usah deh sok akrab ma gue, kita itu kagak sederajat. Jadi petani aja kok belagu?” Jawab gadis itu dengan sombong dan mimik wajahnya yang angkuh.

Rino hanya tersenyum kecil dan berkata dalam hatinya “Wajar kalau saya dihina oleh orang kaya seperti dia, pekerjaan saya memang rendahan, tapi diri saya tak serendah itu.”

Tanpa sedikitpun rasa dendam di hati Rino terhadap jawaban kasar seorang gadis yang baru saja berlalu dari hadapannya, dia kembali melanjutkan pekerjaan mengurusi sawahnya. Ketika sore hari tiba, dia kembali kerumah seperti biasa.

Dirumah sehabis makan malam, Rino menceritakan kejadian tadi siang kepada ibunya. Mendengar hal tersebut ibu Rino cuma tersenyum kecil sambil berkata “Nak, jadikan hinaan itu sebagai motivasi buat maju,” saran ibunya kepada Rino. Menanggapi perkataan ibunya, Rino juga ikut tersenyum, sembari pergi berlalu untuk beristirahat di kamarnya.

***

Pagi itu, seperti biasa Rino kembali pergi ke sawah. Lelaki itu memang tidak pernah kenal lelah, meski usianya yang masih 20 tahun, namun dengan semua kerja keras dan ketekunannya selama bertahun-tahun menahankan panasnya terik sinar matahari untuk mengurusi sawah, pemuda itu kini telah berhasil menjadi petani yang cukup sukses di desanya.

Meski dikenal sebagai seorang petani sukses di desanya, Rino tetap menjadi pemuda yang baik hati dan tidak sombong, sebab dia juga sadar bahwa dulunya dia juga pernah merasakan hidup susah.

Kini, meski Rino masih sering pergi melihat-lihat keberadaan sawahnya. Namun bukan dia lagi yang mengerjakan, melainkan buruh tani yang ia gaji untuk mengerjakan sawah yang telah bertambah luas berhektar-hektar itu. Atas semua prestasi yang diraih Rino membuat ibunya dan seluruh penduduk desa juga semakin bangga kepadanya.

Ketika sampai di sawah pagi itu, tanpa diduga dia melihat seorang buruh tani yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ia kaget karena buruh tani itu adalah seorang gadis yang pernah menghina dirinya dulu. Begitupula gadis tersebut turut kaget dan malu pada dirinya sendiri. Sambil merunduk gadis itu berkata “Maafkan saya pak, karena pernah mengina bapak, saya sangat menyesal dan sekarang kesombongan itu telah menjatuhkan saya,” ujarnya lirih.

“Itu tidak menjadi masalah bagi saya, karena semua kesalahan kamu telah saya maafkan, sekarang yang penting bahwa kamu telah sadar atas kesalahan yang pernah kamu perbuat, dan semoga kamu tidak mengulanginya,” jawab Rino dengan senyum penuh kerendahan hati.

“Sungguh mulia hati bapak, ternyata selain ramah bapak juga ternyata bukanlah seorang pendendam,” ujar gadis itu sambil pamit kemudian berlalu untuk kembali bekerja.

Pesan: Jangan pernah pandang seseorang dengan sebelah mata karena hidup akan terus berputar seperti roda. Kesombonganmu hanya akan menjatuhkanmu kedalam penderitaan. Menyesal pada akhirnya tentu tiada guna.